Rantai pasok daging babi diduga berperan besar dalam menyebarkan Salmonella yang kebal antibiotik, terutama di tahap rumah potong hingga pasar.
Ringkasan
- Rumah potong hewan dan pasar ditemukan sebagai titik dengan tingkat kontaminasi Salmonella tertinggi.
- Galur Salmonella tertentu membawa banyak gen resistensi antibiotik sehingga lebih sulit ditangani.
- Peneliti menilai pengendalian tidak cukup dilakukan di peternakan, tetapi harus mencakup seluruh rantai pasok pangan.
SELAMA ini perhatian terhadap keamanan pangan sering berfokus pada kondisi peternakan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ancaman terbesar justru bisa muncul setelah babi meninggalkan kandang.
Rumah potong hewan, proses distribusi, hingga pasar eceran diduga menjadi titik penting yang mempercepat penyebaran Salmonella enterica yang resistan terhadap berbagai antibiotik.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal npj Science of Food.
Penelitian menggabungkan analisis genom lebih dari 129 ribu sampel Salmonella dari manusia dan babi di 83 negara dengan pengambilan sampel langsung di sepanjang rantai pasok daging babi di Guangdong, China.
Fokus utama penelitian adalah galur Salmonella enterica serovar 4,[5],12:i:- ST34, salah satu varian yang telah lama menjadi perhatian dunia karena sering kali kebal terhadap banyak jenis antibiotik.
Menariknya, galur ini bukanlah yang paling banyak ditemukan secara global, tetapi memiliki "bekal" gen resistensi paling besar dibandingkan serovar utama lainnya.
Rata-rata setiap genom ST34 membawa sekitar tujuh gen resistensi antibiotik serta lebih dari 23 gen resistensi logam.
Kombinasi tersebut membuat bakteri memiliki peluang lebih besar bertahan di berbagai lingkungan, termasuk selama proses pengolahan dan distribusi pangan.
Peneliti juga menemukan perbedaan mencolok antara negara maju dan berkembang.
Sampel dari negara berkembang secara konsisten mengandung lebih banyak gen resistensi antibiotik, baik pada isolat yang berasal dari manusia maupun babi.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi rantai pasok, sanitasi, dan pengawasan kemungkinan turut memengaruhi berkembangnya bakteri yang lebih sulit dikendalikan.
Hasil pengambilan sampel di Guangdong memperlihatkan pola yang cukup mengkhawatirkan.
Tingkat ditemukannya Salmonella hanya sekitar 4,5% di peternakan, tetapi melonjak menjadi 48,2% di rumah potong hewan dan mencapai 63,2% di pasar.
Tidak hanya jumlah bakterinya yang meningkat, tingkat kekebalannya pun ikut bertambah.
Isolat yang resistan terhadap banyak antibiotik (multidrug resistant/MDR) paling sering ditemukan di rumah potong hewan, sedangkan bakteri dengan resistensi yang lebih luas lagi (extensively drug resistant/XDR) paling banyak ditemukan di pasar.
Dengan kata lain, semakin dekat produk ke tangan konsumen, semakin besar peluang bertemu bakteri yang "naik pangkat" menjadi lawan yang lebih sulit dilawan.
Analisis genom juga menunjukkan bahwa nenek moyang galur ST34 diperkirakan muncul sekitar tahun 1990.
Dari Eropa, galur ini kemudian menyebar ke berbagai benua sebelum berkembang lebih lanjut dari Asia Timur menuju Asia Tenggara dan Oseania.
Meski begitu, peneliti mengingatkan bahwa data Guangdong tidak dapat langsung dianggap mewakili semua negara berkembang.
Selain itu, basis data genom global juga memiliki keterbatasan karena dipengaruhi lokasi, waktu pengambilan sampel, dan intensitas pelaporan.
Karena itu, peneliti menilai pendekatan One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, perlu diterapkan lebih luas.
Upaya pengendalian tidak cukup berhenti di peternakan, tetapi juga harus mencakup sanitasi rumah potong, perbaikan rantai pendingin, pengawasan pasar, dan pemantauan genom patogen secara berkala.
Sedikit ironis memang, ketika peternakan sudah berusaha menjaga kebersihan, bakteri justru bisa "naik kendaraan umum" bernama rantai pasok.
Jika titik-titik setelah peternakan luput diawasi, perjalanan menuju meja makan bisa menjadi kesempatan emas bagi Salmonella untuk berevolusi menjadi tamu yang sama sekali tidak diundang.
Disadur dari News Medical - Pork supply chains may be shaping the global spread of drug-resistant Salmonella yang diakses pada Agustus 2026.

Posting Komentar