Percaya teori konspirasi ternyata tidak otomatis membuat seseorang bertindak. Penelitian menunjukkan, keyakinan yang kuatlah yang lebih menentukan aksi nyata.
Ringkasan
- Teori konspirasi baru berpengaruh pada perilaku jika diyakini dengan sangat kuat.
- Ada tiga faktor utama, yaitu tingkat keyakinan, pentingnya isu bagi diri sendiri, dan keyakinan bahwa ada tindakan yang bisa dilakukan.
- Kepercayaan memengaruhi sikap terlebih dahulu, lalu sikap itulah yang mendorong perilaku.
TIDAK semua orang yang percaya teori konspirasi akan turun ke jalan, menolak vaksin, atau aktif berkampanye. Ada yang hanya membaca, mengangguk pelan, lalu kembali menggulir media sosial.
Penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 6.000 responden di Amerika Serikat mengungkap alasan di balik perbedaan tersebut.
Riset yang dipublikasikan dalam British Journal of Social Psychology menemukan, kepercayaan terhadap teori konspirasi, jika berdiri sendiri, ternyata merupakan prediktor yang lemah terhadap perilaku nyata.
Yang jauh lebih berpengaruh adalah seberapa kuat seseorang memegang keyakinan itu, seberapa penting keyakinan tersebut bagi identitasnya, dan apakah keyakinan itu terasa memberi arah tindakan yang jelas.
Penelitian dipimpin oleh Javier A. Granados Samayoa dan Dolores Albarracín melalui tiga studi yang melibatkan total 6.082 partisipan.
Ketiganya menguji topik berbeda, mulai dari teori konspirasi "great replacement" yang berkaitan dengan imigrasi, penolakan vaksin Covid-19, hingga teori tentang keberadaan "deep state" yang disebut-sebut berupaya menjatuhkan Donald Trump.
Selama ini teori konspirasi sering dipandang secara hitam-putih, seseorang percaya atau tidak percaya. Namun penelitian ini menunjukkan kenyataannya lebih rumit.
Dua orang bisa sama-sama menjawab "percaya" terhadap teori tertentu dalam survei, tetapi tingkat keyakinan mereka sangat berbeda.
Ada yang menganggapnya sekadar kemungkinan, sementara yang lain benar-benar yakin tanpa ragu. Perbedaan inilah yang ternyata menentukan apakah keyakinan tersebut akan memengaruhi tindakan.
Para peneliti juga menemukan bahwa kepercayaan tidak langsung berubah menjadi perilaku. Ada satu tahap penting di antaranya, yakni sikap.
Sederhananya, seseorang lebih dulu membentuk penilaian positif atau negatif terhadap suatu tindakan. Jika teori konspirasi berhasil mengubah sikap tersebut, peluang munculnya perilaku nyata menjadi lebih besar.
Model ini menjelaskan mengapa hasil penelitian sebelumnya sering tidak konsisten.
Orang bisa saja mempercayai teori konspirasi, tetapi jika keyakinan itu tidak mengubah sikapnya terhadap suatu tindakan, perilaku nyata belum tentu terjadi.
Peneliti mengidentifikasi tiga unsur utama yang memperkuat hubungan antara kepercayaan dan tindakan.
Pertama adalah kepastian (certainty), yaitu seberapa yakin seseorang terhadap keyakinannya. Kalimat "mungkin benar" tentu berbeda dampaknya dengan "saya benar-benar yakin."
Kedua ialah kepentingan pribadi (importance). Sebuah teori yang hanya dianggap informasi menarik biasanya tidak banyak memengaruhi perilaku.
Sebaliknya, jika teori itu berkaitan dengan identitas, nilai hidup, atau kelompok yang dianggap penting, pengaruhnya menjadi jauh lebih besar.
Ketiga adalah kemampuan untuk ditindaklanjuti (actionability).
Artinya, seseorang merasa ada sesuatu yang bisa dilakukan berdasarkan keyakinannya. Misalnya berdonasi, mengikuti aksi, menyebarkan informasi, atau menolak suatu kebijakan.
Menariknya, faktor ketiga ini paling kuat bekerja ketika dua faktor sebelumnya sudah tinggi. Dengan kata lain, actionability lebih berperan sebagai "bahan bakar tambahan" daripada pemicu utama.
Pada studi ketiga, peneliti melakukan survei dalam dua tahap yang berjarak tiga bulan. Awalnya mereka mengukur sikap responden terhadap berbagai aktivitas politik.
Tiga bulan kemudian, responden ditanya apakah mereka benar-benar melakukan tindakan seperti mencari atau membagikan informasi, berdonasi, menjadi relawan, atau menghadiri aksi.
Pendekatan ini memperkuat dugaan bahwa sikap lebih dulu terbentuk sebelum perilaku muncul.
Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak, karena data perilaku masih didasarkan pada laporan responden sendiri.
Meski demikian, pola yang konsisten pada tiga studi berbeda menunjukkan bahwa ada mekanisme psikologis yang layak diperhatikan.
Bagi peneliti maupun pembuat kebijakan, pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan lagi "Apakah seseorang percaya teori konspirasi?", melainkan "Seberapa kuat keyakinan itu dipegang, dan apakah keyakinan tersebut terasa sebagai ajakan untuk bertindak?"
Barangkali ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua unggahan bernada konspiratif akan berujung pada aksi nyata.
Sebagian memang hanya berakhir sebagai bahan perdebatan di kolom komentar—tempat yang kadang lebih panas daripada data ilmiah itu sendiri.
Disadur dari StudyFinds - Why Some Conspiracy Believers Act and Others Just Scroll: New Study Offers Answer yang diakses Juli 2026.

إرسال تعليق