Gunung Erebus di Antarktika diperkirakan menyemburkan sekitar 80 gram debu emas setiap hari. Meski nilainya tinggi, emas itu praktis mustahil dipanen.
Ringkasan
- Gunung Erebus melepaskan sekitar 80 gram partikel emas mikroskopis per hari melalui gas vulkaniknya.
- Emas tersebut tersebar di udara sebagai partikel sangat halus sehingga hampir mustahil dikumpulkan.
- Penambangan mineral di Antarktika juga dilarang oleh Protokol Lingkungan Perjanjian Antarktika, kecuali untuk kepentingan penelitian.
DI tengah hamparan es Antarktika berdiri Gunung Erebus, gunung berapi aktif paling selatan di Bumi. Selama lebih dari 50 tahun, gunung ini mempertahankan danau lava permanen di kawahnya.
Yang membuatnya semakin unik, semburan gas vulkaniknya ternyata membawa partikel emas mikroskopis yang diperkirakan mencapai sekitar 80 gram per hari.
Dengan harga emas saat ini, nilainya bisa mencapai sekitar US$10.000 atau lebih setiap harinya.
Namun, jangan buru-buru membayangkan gunung itu memuntahkan bongkahan emas.
Yang keluar hanyalah partikel kristal emas berukuran sekitar 20–60 mikrometer, sedikit lebih kecil daripada diameter rata-rata rambut manusia.
Partikel-partikel ini kemudian terbawa angin hingga ratusan bahkan sekitar 1.000 kilometer dari kawah.
Erebus sendiri merupakan gunung berapi stratovolkano setinggi 3.794 meter, menjadikannya gunung berapi tertinggi kedua di Antarktika setelah Gunung Sidley.
Gunung ini terkenal karena memiliki danau lava permanen, fenomena yang hanya dimiliki segelintir gunung berapi di dunia.
Aktivitas Erebus didominasi letusan Strombolian, yakni ledakan kecil hingga sedang yang terjadi ketika gelembung gas besar naik dari dalam magma lalu pecah di permukaan.
Ledakan ini dapat melontarkan batu pijar lebih dari 100 meter ke udara. Meski terdengar "kecil" menurut ukuran vulkanologi, ledakan tersebut tetap sangat berbahaya bagi ilmuwan yang bekerja di sekitar kawah.
Nama Erebus berasal dari kapal penjelajah HMS Erebus milik James Clark Ross yang menemukan gunung itu sedang meletus pada tahun 1841.
Dalam mitologi Yunani, Erebus adalah personifikasi kegelapan, nama yang terasa cukup pas untuk gunung berapi yang berdiri di salah satu tempat paling dingin dan terpencil di planet ini.
Keunikan Erebus bukan hanya soal emasnya. Gunung ini menghasilkan lava fonolitik, jenis magma yang jauh lebih langka dibanding lava basalt yang umum ditemukan di gunung berapi seperti Kīlauea di Hawaii.
Lava fonolitik lebih kental dan memiliki komposisi kimia yang berbeda, sehingga memengaruhi karakter letusannya.
Para ilmuwan memantau aktivitas Erebus menggunakan jaringan seismometer sejak 1981, dibantu citra satelit yang mengamati suhu danau lava.
Pada 1992, sebuah robot berkaki delapan bernama Dante I bahkan sempat diturunkan ke bagian dalam kawah untuk mengambil sampel gas dan mengukur kondisi di sekitar magma.
Penelitian yang diterbitkan pada 1991 menemukan kristal emas murni di dalam plume vulkanik Erebus. Para peneliti menduga emas mula-mula larut dalam gas panas sebagai senyawa yang mengandung klorin.
Ketika gas mendingin saat keluar dari gunung berapi, emas mengembun menjadi partikel padat yang kemudian terbawa bersama aerosol vulkanik.
Kalau dihitung selama setahun, Erebus berpotensi melepaskan sekitar 29 kilogram emas. Kedengarannya fantastis, tetapi emas tersebut tidak pernah terkumpul menjadi "batangan" raksasa.
Sebaliknya, partikel-partikel itu tersebar di udara, salju, abu vulkanik, serta bercampur dengan garam, batuan, dan logam lain.
Biaya untuk mengumpulkannya kemungkinan jauh lebih mahal daripada nilai emas yang berhasil diperoleh.
Kalaupun ada perusahaan yang nekat bermimpi membuka tambang emas di sana, mereka akan langsung berhadapan dengan hukum internasional.
Pasal 7 Protokol Lingkungan Perjanjian Antarktika melarang eksploitasi sumber daya mineral di Antarktika, kecuali untuk penelitian ilmiah. Jadi, Erebus bukanlah "ATM emas" yang tinggal didatangi.
Bagi para ilmuwan, emas justru bukan daya tarik utama Erebus.
Danau lava permanennya menjadi jendela langka untuk mempelajari bagaimana magma bergerak, bagaimana gas keluar dari perut Bumi, serta bagaimana letusan gunung berapi terjadi.
Panas dari Erebus juga menciptakan lingkungan di bawah lapisan es yang memungkinkan mikroorganisme ekstrem atau ekstremofil bertahan hidup.
Penelitian terhadap organisme ini membantu ilmuwan memahami batas kemampuan kehidupan di Bumi.
Hal tersebut juga sekaligus memberi petunjuk tentang kemungkinan adanya kehidupan di dunia lain, misalnya di bulan Europa milik Jupiter yang juga diyakini memiliki lautan di bawah lapisan es.
Singkatnya, emas hanyalah bonus kecil dari Erebus. Nilai ilmiahnya jauh lebih berharga daripada logam mulia yang beterbangan di langit Antarktika.
Lagi pula, mengejar debu emas di salah satu tempat paling dingin di Bumi terdengar seperti rencana bisnis yang hanya masuk akal jika disusun oleh seseorang yang belum pernah melihat laporan biaya ekspedisi.
Disadur dari ZME Science - This Volcano in Antarctica Is Spewing out $6,000 Worth of Gold Dust Per Day — But You Can’t Go Get It yang diakses pada Juli 2026.
.jpg)
Posting Komentar