Tak sekadar memanaskan suasana, bahasa politik yang penuh hinaan ternyata bisa membuat orang merasa nilai-nilai dasarnya terancam dan menjadi kurang toleran terhadap lawan politik.
Ringkasan
- Retorika politik yang agresif membuat orang merasa nilai-nilai moral dan demokrasi mereka sedang terancam.
- Efek psikologis tersebut muncul pada pendukung maupun penentang politikus yang menyampaikan pidato.
- Paparan bahasa politik yang penuh hinaan dapat mengurangi toleransi politik dan mempersulit tercapainya kompromi dalam demokrasi.
DALAM beberapa tahun terakhir, perdebatan politik di berbagai negara terasa semakin keras. Bukan hanya adu gagasan, tetapi juga cacian, hinaan, dan tuduhan.
Banyak orang menganggap gaya komunikasi semacam ini berbahaya bagi kehidupan demokrasi. Namun, benarkah bahasa politik yang kasar memang memengaruhi cara berpikir masyarakat?
Serangkaian eksperimen psikologi terbaru memberikan jawaban yang cukup jelas.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Psychology menunjukkan bahwa retorika politik yang penuh hinaan dapat membuat orang merasa nilai-nilai yang mereka yakini sedang diserang.
Perasaan itu kemudian berdampak pada menurunnya toleransi terhadap lawan politik.
Para peneliti menyebut gaya komunikasi tersebut sebagai retorika demagogis (demagogic discourse).
Gaya ini biasanya memiliki tiga ciri utama.
Pertama, menyalahkan kelompok tertentu sebagai penyebab berbagai persoalan masyarakat atau menjadikan mereka kambing hitam.
Kedua, menyerang lawan politik dengan hinaan yang bersifat pribadi maupun moral, sambil mengabaikan etika politik yang lazim.
Ketiga, menyerang institusi demokrasi, misalnya dengan menuduh media sebagai penyebar berita palsu atau meragukan legitimasi lembaga publik.
Menurut para peneliti, gaya komunikasi seperti ini semakin sering digunakan oleh tokoh politik di berbagai negara untuk menarik perhatian publik sekaligus memobilisasi pendukung.
Untuk mengetahui dampak psikologis retorika tersebut, tim peneliti yang dipimpin Marcos Dono dari Universidade de Santiago de Compostela, Spanyol, melakukan tiga eksperimen.
Pada eksperimen pertama, 310 warga Spanyol diminta membaca artikel berita fiktif mengenai kebijakan perumahan.
Separuh peserta membaca pidato politik yang disampaikan dengan nada moderat dan mengutamakan dialog.
Separuh lainnya membaca versi yang dipenuhi hinaan, serangan terhadap media, dan bahasa yang agresif.
Peneliti juga mengubah orientasi politik tokoh dalam berita itu untuk mengetahui apakah efeknya berbeda ketika peserta sehaluan atau berseberangan dengan politikus tersebut.
Hasilnya, orang yang membaca pidato bernada agresif lebih sering merasa nilai-nilai moral mereka sedang terancam.
Mereka juga menjadi lebih enggan memberikan kebebasan berpendapat kepada kelompok politik yang paling tidak mereka sukai.
Yang menarik, efek tersebut muncul hampir sama, baik pada peserta yang sejalan maupun yang tidak sejalan dengan politikus dalam berita.
Bagi pendukung, retorika itu memperkuat anggapan bahwa lawan merupakan ancaman besar.
Sementara bagi pihak yang berseberangan, bahasa yang kasar itu sendiri sudah terasa mengancam.
Untuk memastikan temuan tersebut bukan hanya berlaku di Spanyol, peneliti melakukan eksperimen kedua terhadap 309 peserta di Amerika Serikat.
Kali ini, isi berita disesuaikan dengan konteks politik Amerika.
Dalam salah satu skenario, seorang politikus konservatif menyerang gerakan Black Lives Matter. Pada skenario lain, politikus liberal menyerang kelompok Alt-Right.
Hasilnya kembali menunjukkan pola yang sama. Paparan retorika demagogis meningkatkan perasaan bahwa nilai-nilai dasar peserta sedang berada dalam ancaman.
Peneliti juga memastikan bahwa efek tersebut bukan disebabkan oleh tingkat kerumitan atau nada positif-negatif teks, melainkan memang berasal dari gaya bahasa yang agresif.
Namun, ada satu temuan yang lebih rumit.
Secara keseluruhan, retorika agresif tidak selalu menurunkan toleransi politik pada semua peserta Amerika.
Setelah ditelusuri lebih jauh, peneliti menemukan bahwa respons tersebut dipengaruhi oleh tingkat kepuasan seseorang terhadap sistem demokrasi di negaranya.
Peserta yang merasa sistem demokrasi saat ini berjalan dengan baik justru menjadi lebih tidak toleran terhadap lawan politik setelah membaca retorika yang agresif.
Peneliti menduga mereka menganggap bahasa semacam itu berbahaya sehingga cenderung ingin membatasi ruang bagi kelompok yang dianggap ekstrem.
Sebaliknya, peserta yang sejak awal tidak puas terhadap kondisi demokrasi menunjukkan respons berbeda.
Pada kelompok ini, retorika demagogis justru sedikit meningkatkan toleransi terhadap kelompok yang tidak mereka sukai.
Menurut peneliti, orang-orang tersebut mungkin lebih mudah menerima retorika antikemapanan.
Mereka cenderung menginginkan arena politik yang bebas dari aturan kesopanan sehingga semua pihak memperoleh kebebasan berbicara yang sama, termasuk kelompok yang mereka tidak setujui.
Eksperimen ketiga melibatkan 380 peserta di Amerika Serikat. Dalam penelitian ini, seluruh peserta membaca pidato dari politikus yang sejalan dengan pandangan politik mereka.
Peneliti juga membagi ancaman nilai menjadi tiga kategori, yaitu nilai pribadi, nilai sosial, dan nilai demokrasi.
Setelah memperhitungkan tingkat dukungan awal peserta terhadap politikus tersebut, hasilnya tetap konsisten.
Retorika yang penuh hinaan meningkatkan ketiga jenis ancaman sekaligus. Peserta merasa nilai moral pribadi, fondasi masyarakat, hingga sistem demokrasi sama-sama sedang berada dalam bahaya.
Hubungan antara kepuasan terhadap demokrasi dan toleransi politik juga kembali muncul, memperkuat hasil eksperimen sebelumnya.
Peneliti mengingatkan bahwa eksperimen ini hanya menguji paparan tunggal terhadap sebuah teks politik yang relatif singkat.
Dalam kehidupan nyata, masyarakat terpapar pidato politik, unggahan media sosial, tayangan televisi, dan berita yang berulang kali.
Dampaknya bisa saja menjadi lebih kuat atau justru melemah karena orang terbiasa mendengarnya.
Selain itu, penelitian dilakukan di dua negara demokrasi Barat, yaitu Spanyol dan Amerika Serikat.
Norma budaya mengenai kesopanan, kebebasan berpendapat, dan hubungan dengan pemerintah sangat berbeda di berbagai negara.
Karena itu, dampak retorika demagogis bisa saja berbeda di negara-negara Asia Timur maupun negara yang memiliki sejarah panjang pemerintahan otoriter.
Meski demikian, penelitian ini memperlihatkan bahwa bahasa politik bukan sekadar alat menyampaikan pesan.
Pilihan kata yang dipenuhi hinaan, tuduhan, dan upaya mencari kambing hitam dapat mengubah kondisi psikologis masyarakat.
Ketika semakin banyak orang merasa nilai-nilai mereka sedang diserang, ruang untuk saling mendengarkan dan mencari kompromi dalam demokrasi pun menjadi semakin sempit.
Disadur dari PsyPost - Experiments reveal the psychological cost of insulting political rhetoric yang diakses Juli 2026.


Posting Komentar