Jutaan Partikel Plastik Kecil Serbu Laut, Dampaknya Sulit Dibendung

Setiap tahun, sekitar 11 juta ton mikroplastik tambahan masuk ke lautan, menyusup ke hampir semua lapisan laut dan mengancam ekosistem serta iklim.


Setiap tahun, sekitar 11 juta ton mikroplastik tambahan masuk ke lautan, menyusup ke hampir semua lapisan laut dan mengancam ekosistem serta iklim.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Setiap sudut lautan, dari permukaan hingga dasar samudra, kini telah tercemar mikroplastik.
  • Ilmuwan melacak perjalanan mikroplastik melalui udara, arus laut, hingga kedalaman samudra untuk memahami penyebarannya.
  • Data tersebut diharapkan membantu pemerintah menyusun kebijakan yang lebih efektif untuk menekan pencemaran plastik.


LAUTAN Bumi kini menghadapi invasi dalam skala raksasa. Bukan dari makhluk asing atau spesies predator, melainkan serpihan plastik berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik. 


Ukurannya memang hanya kurang dari 5 milimeter, tetapi jumlahnya mencapai miliaran hingga triliunan partikel yang tersebar hampir di seluruh penjuru samudra.


Menurut laporan Eos, setiap tahun sekitar 11 juta ton mikroplastik memasuki lautan. Angka itu terus bertambah seiring meningkatnya produksi plastik dunia dan buruknya pengelolaan limbah.


Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah kemampuan mikroplastik berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain. 


Partikel-partikel tersebut tidak hanya mengapung di permukaan laut, tetapi juga dapat tenggelam ke dasar samudra, terbawa arus, beterbangan bersama angin, bahkan kembali ke atmosfer.


Karena itulah para ilmuwan kini tidak hanya berusaha menghitung jumlah mikroplastik, tetapi juga memetakan "perjalanan hidup" partikel-partikel kecil tersebut.


Penelitian Salvador Reynoso-Cruces dan Harry Alvarez-Ospina di pesisir Pulau Cozumel, Meksiko, kawasan yang terkenal dengan keindahan Laut Karibia, mengungkap hal baru.


Selama ini banyak orang menganggap plastik bergerak satu arah: dari daratan menuju laut. Namun penelitian mereka menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks.


Mikroplastik memang dapat terbawa angin menuju laut. Akan tetapi, setelah berada di permukaan laut, sebagian partikel justru dapat kembali terlempar ke udara melalui percikan ombak dan semprotan air laut (sea spray).


Jalur ini masih relatif jarang dipelajari. Padahal, memahaminya sangat penting untuk mengetahui kapan laut justru menjadi sumber mikroplastik di atmosfer.


Selain itu juga bisa mengungkap jenis plastik apa yang paling mudah berpindah, serta bagaimana angin lokal dan arus laut menentukan lokasi akhir partikel-partikel tersebut.


Dengan kata lain, hubungan antara laut dan udara ternyata bukan jalan satu arah, melainkan siklus yang terus berlangsung.


Penelitian lain menyoroti apa yang terjadi jauh di bawah permukaan laut.


Tim ilmuwan yang dipimpin Shiye Zhao, bersama Luisa Galgani dan Karin Kvale, mempelajari keberadaan mikroplastik dan nanoplastik di seluruh lapisan samudra.


Selama ini pengamatan lebih banyak dilakukan di permukaan karena lebih mudah dijangkau. Padahal sebagian besar plastik perlahan tenggelam menuju kedalaman laut.


Masalahnya bukan hanya soal pencemaran. Saat turun ke dasar laut, mikroplastik dapat membawa berbagai zat beracun yang mengganggu organisme laut. 


Selain itu, partikel-partikel tersebut juga dapat mengubah sifat fisik gumpalan bahan organik yang secara alami tenggelam menuju dasar samudra.


Perubahan ini berpotensi mengganggu pompa karbon laut, yaitu mekanisme alami yang memindahkan karbon dari atmosfer menuju laut dalam. 


Sistem tersebut merupakan salah satu komponen penting dalam mengendalikan kadar karbon dioksida di atmosfer dan membantu memperlambat perubahan iklim.


Sayangnya, hingga kini para ilmuwan belum memiliki metode baku yang sama untuk mengambil sampel dan menganalisis mikroplastik di bawah permukaan laut. 


Karena itu, penelitian semacam ini menjadi langkah penting untuk menghasilkan data yang lebih akurat dan dapat dibandingkan antarwilayah.


Jalur masuk mikroplastik ke laut ternyata jauh lebih beragam daripada yang selama ini dibayangkan.


Salah satu sumber besarnya adalah partikel ban kendaraan. Gesekan ban dengan permukaan jalan menghasilkan serpihan kecil yang kemudian terbawa air hujan menuju sungai, muara, hingga laut.


Di tempat lain, penelitian menemukan nanoplastik yang berasal dari perlengkapan pendakian gunung telah mencemari danau-danau terpencil di Pegunungan Himalaya.


Sementara itu, di Laut Baltik, amunisi dan persenjataan sisa Perang Dunia II yang telah menua ikut menjadi sumber pencemaran berbagai material berbahaya, termasuk komponen berbasis plastik.


Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa mikroplastik bukan hanya berasal dari botol atau kantong plastik yang dibuang sembarangan.


Sampah itu banyak pula berasal dari aktivitas manusia sehari-hari yang sering kali luput dari perhatian.


Semakin jelas asal-usul dan jalur perpindahan mikroplastik, semakin besar pula peluang pemerintah menyusun kebijakan yang efektif.


Informasi mengenai bagaimana partikel bergerak melalui udara, sungai, arus laut, hingga dasar samudra dapat membantu menentukan prioritas pengendalian pencemaran, baik di tingkat kota, kawasan, maupun internasional.


Selain membatasi penggunaan plastik sekali pakai, data ilmiah semacam ini juga dapat menjadi dasar untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbah.


Selain itu juga mencari cara untuk mengurangi sumber pencemar dari transportasi, hingga merancang standar pemantauan mikroplastik yang seragam di seluruh dunia.


Para peneliti menilai bahwa memahami perjalanan mikroplastik sama pentingnya dengan mengetahui jumlahnya. 


Semakin lengkap peta penyebarannya, semakin besar peluang manusia menahan laju invasi partikel plastik yang kini telah menjangkau hampir seluruh lautan di Bumi.


Disadur dari laman Eos - Millions of Invaders Are Attacking the Ocean, and the Ocean Is Losing yang diakses pada Jui 2026.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama