Sebelum menghadapi kelompok pesaing, banyak hewan sosial diam-diam mengubah perilaku mereka untuk meningkatkan peluang menang dan mengurangi risiko.
Ringkasan
- Hewan meningkatkan kewaspadaan, bergerak lebih hati-hati, hingga memperkuat ikatan sosial sebelum bentrok.
- Semakin besar risiko bertemu musuh, semakin intens persiapan yang dilakukan.
- Para ilmuwan menduga perilaku ini berperan dalam perkembangan kecerdasan sosial dan struktur populasi hewan.
SELAMA ini, penelitian tentang konflik antarkelompok pada hewan lebih banyak berfokus pada apa yang terjadi saat pertarungan berlangsung atau setelahnya.
Namun, tinjauan terbaru yang diterbitkan di jurnal Trends in Ecology & Evolution menunjukkan bahwa fase sebelum konflik ternyata sama pentingnya.
Tim peneliti dari University of Bristol, Inggris, menemukan bahwa berbagai spesies hewan sosial telah mengembangkan perilaku antisipatif untuk menghadapi kemungkinan bentrokan dengan kelompok lain.
Persiapan ini dapat dipicu oleh kondisi lingkungan, tanda-tanda kehadiran pesaing, maupun pengalaman konflik di masa lalu.
Menurut penulis utama, Josh Arbon, perilaku antisipatif ditemukan pada banyak spesies, mulai dari semut hingga primata. Tingkat persiapannya pun bergantung pada besarnya ancaman.
Hewan akan lebih waspada jika lawan diperkirakan lebih besar, kurang dikenal, atau memiliki peluang lebih tinggi untuk menyerang.
Beberapa perilaku tersebut bahkan mirip dengan strategi yang digunakan manusia sebelum berperang.
Misalnya meningkatkan pengawasan, memilih lokasi yang memberikan pandangan luas, bergerak dengan senyap agar tidak terdeteksi, atau melakukan pengintaian ke wilayah lawan.
Contohnya terlihat pada simpanse liar.
Peneliti mengamati kelompok simpanse lebih sering beristirahat di puncak bukit yang menjadi lokasi rawan konflik dibanding melakukan aktivitas yang lebih bising seperti makan atau berpindah tempat.
Posisi itu memungkinkan mereka memantau keadaan sekitar dengan lebih baik.
Sementara itu, dwarf mongoose atau garangan kerdil memperlambat pergerakan dan meningkatkan perilaku penjagaan ketika mencium aroma atau mendengar suara kelompok pesaing.
Respons ini memberi mereka kesempatan lebih besar untuk mendeteksi bahaya lebih awal.
Ancaman dari kelompok lain juga memengaruhi cara hewan menggunakan wilayahnya.
Garangan kerdil dan meerkat, misalnya, memperbanyak penandaan aroma di daerah yang didatangi lawan sebagai cara menegaskan kepemilikan wilayah.
Sebaliknya, beberapa spesies seperti monyet ekor panjang, babun chacma, dan monyet Jepang justru menghindari daerah yang dihuni kelompok pesaing.
Dalam kondisi tertentu, strategi yang diambil jauh lebih agresif. Simpanse jantan diketahui melakukan patroli diam-diam memasuki wilayah tetangga dengan berjalan berbaris satu per satu sambil mendekati sumber suara kelompok lain.
Para peneliti menduga tindakan ini merupakan persiapan untuk menyerang bila kesempatan muncul.
Garangan belang (banded mongoose) juga diketahui melakukan serangan kelompok ke wilayah pesaing yang bahkan dapat berujung pada kematian anak-anak kelompok lawan.
Tidak semua persiapan dilakukan dengan meningkatkan agresivitas. Saat ancaman dari luar meningkat, beberapa mamalia justru mempererat hubungan sosial di dalam kelompok.
Simpanse, misalnya, lebih sering saling membersihkan bulu (grooming) dan bermain bersama sebelum melakukan pertahanan wilayah secara kolektif.
Aktivitas ini diduga membantu mengurangi stres, memperkuat kerja sama, memperlancar komunikasi, dan meningkatkan kekompakan kelompok.
Menurut peneliti senior Andrew Radford, konflik antarkelompok kemungkinan menjadi salah satu pendorong penting evolusi kemampuan kognitif hewan.
Untuk menentukan respons yang tepat, hewan harus mampu menggabungkan informasi dari lingkungan dengan ingatan mengenai pengalaman konflik sebelumnya.
Meski demikian, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Para ilmuwan ingin memahami bagaimana hewan menilai tingkat ancaman, bagaimana ingatan memengaruhi keputusan mereka, serta sejauh mana perilaku antisipatif ini membentuk evolusi sosial berbagai spesies.
Studi ini menunjukkan bahwa memahami konflik pada hewan tidak cukup hanya mengamati saat pertarungan berlangsung. Justru, berbagai keputusan penting telah dibuat jauh sebelum bentrokan terjadi.
Disadur dari EurekAlert - What animals do before going to war yang diakses pada Juli 2026.

Posting Komentar