Janin dalam kandungan terbukti bisa "tertular" menguap dari ibunya, menunjukkan bahwa perilaku sosial ini sudah dimulai bahkan sebelum kita lahir.
Ilustrasi dibuay olej AI.Ringkasan
- Sekitar 53% janin menguap ketika ibu mereka menonton video orang yang sedang menguap.
- Respons janin biasanya muncul sekitar satu setengah menit setelah ibunya menguap.
- Temuan ini mengisyaratkan bahwa interaksi sosial antara ibu dan janin mungkin sudah dimulai sejak dalam kandungan.
MENGUAP itu menular. Coba saja berdiri di dekat teman yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar karena mengantuk. Dalam hitungan detik, kamu pasti akan refleks melakukan hal yang sama.
Namun, pernahkah kamu membayangkan sejak kapan kemampuan "tertular menguap" ini kita miliki?
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology membawa kabar yang sangat mengejutkan: janin di dalam kandungan ternyata tidak kebal dari daya tular menguap!
Riset laboratorium menunjukkan bahwa ibu hamil bisa menularkan uapan mereka kepada calon bayi yang masih berada di dalam rahim.
Para ilmuwan sebenarnya sudah lama tahu bahwa janin bisa menguap, meskipun mereka belum menggunakan paru-parunya untuk bernapas di dalam ketuban.
Namun, selama ini muncul perdebatan: apakah menguapnya janin itu cuma sekadar refleks tubuh yang mandiri, atau mereka sebenarnya sedang merespons tanda-tanda yang diberikan oleh sang ibu?
Untuk memecahkan teka-teki tersebut, para peneliti mengumpulkan 38 wanita hamil berusia antara 18 hingga 45 tahun yang sudah memasuki trimester ketiga.
Semua peserta ini dipastikan memiliki kehamilan yang sehat, tanpa komplikasi, dan masing-masing hanya mengandung satu bayi (bukan kembar).
Dalam eksperimen ini, para ibu diminta menonton serangkaian video pendek. Ada video orang yang sedang menguap, video orang yang sekadar membuka-tutup mulut tanpa menguap, dan video orang dengan ekspresi wajah datar.
Selama proses menonton, kamera khusus merekam wajah sang ibu, sementara mesin ultrasonografi (USG) 2D memantau area hidung dan bibir janin secara real-time.
Hasilnya sangat menarik! Sesuai dugaan, video orang menguap sukses membuat para ibu ikut megap-megap menahan kantuk—sekitar 64 persen ibu hamil tertular menguap.
Nah, kejutan sesungguhnya terjadi pada rahim mereka. Sekitar 53 persen janin terpantau ikut menguap tidak lama setelah ibunya menguap.
Respons janin ini biasanya terjadi sekitar satu setengah menit setelah sang ibu membuka mulutnya. Uniknya lagi, ibu yang lebih sering menguap cenderung memiliki janin yang juga lebih sering menguap.
"Selama masa kehamilan, semua hal yang terjadi adalah fondasi atau latihan dasar untuk apa yang akan terjadi setelah bayi lahir nanti," ungkap Giulia D’Adamo, dari University of Parma, Italia, yang memimpin penelitian ini.
Meskipun polanya terlihat jelas, para ilmuwan masih meraba-raba alasan pastinya.
Ada dugaan bahwa janin bisa merasakan gerakan fisik yang terjadi pada tubuh ibunya saat menguap, sehingga memicu refleks serupa.
Kemungkinan lain, fenomena ini dikendalikan oleh fluktuasi hormon yang dialami ibu lalu tersalurkan ke janin.
Manusia bukan satu-satunya makhluk yang otomatis menguap saat melihat, mendengar, atau bahkan memikirkan aktivitas menguap.
Hewan-hewan sosial lain seperti simpanse, singa, anjing, hingga burung parkit juga saling meniru gerakan ini.
Secara evolusioner, para ilmuwan menduga perilaku menular ini berevolusi untuk menyelaraskan aktivitas kelompok sekaligus meningkatkan kewaspadaan bersama.
Selain untuk meningkatkan kewaspadaan dan mendinginkan suhu otak ketika bekerja terlalu keras, menguap ternyata punya fungsi medis yang tidak kalah penting bagi kesehatan kepala kita.
Sebuah studi yang rilis dalam jurnal Respiratory Physiology & Neurobiology mengungkapkan bahwa menguap memegang peran penting dalam membuang limbah di otak.
Aktivitas ini membantu mengalirkan cairan di sepanjang jalur pembuangan sampah otak, yang dikenal sebagai sistem glimfatik.
Dr. W. Christopher Winter, seorang spesialis tidur, memberikan analogi yang sangat menarik mengenai fungsi ini.
Jika kita tidur dengan nyenyak dan cukup, sistem glimfatik akan bekerja otomatis membersihkan racun-racun di otak. Namun, ketika kita kurang tidur, otak akan mulai kelelahan.
Pada titik itulah, menguap bertindak seperti sinyal darurat dari otak yang seolah-olah berkata:
"Hei, kalau kamu tidak mau tidur dengan benar agar sistem glimfatik kita bekerja, maka terpaksa kami akan menyalakan pompa hidrolik cadangan (lewat menguap) untuk membersihkan sisa kotoran di sini!"
Penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk melihat bagaimana daya tular menguap ini berkembang di berbagai fase kehamilan.
Namun satu hal yang pasti: ikatan antara ibu dan anak ternyata sudah terjalin sangat erat dan interaktif sejak di dalam kandungan, bahkan untuk urusan sekecil menguap.
Disadur dari Smithsonian Magazine - Fetuses Can ‘Catch’ Yawns From Their Mothers While Still in the Womb, New Research Suggests.
Posting Komentar