Pembangunan Infrastruktur Babat Hutan 34 Kali Lipat Luas Area Tambang

Infrastruktur pendukung pertambangan industri di Afrika memicu deforestasi masif yang melenyapkan hutan hingga 34 kali lipat dari luas area tambang aktif.


Infrastruktur pendukung pertambangan industri di Afrika memicu deforestasi masif yang melenyapkan hutan hingga 34 kali lipat dari luas area tambang aktif.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Untuk setiap 1 hektare area tambang aktif, sekitar 34 hektare hutan hilang akibat dampak tidak langsung aktivitas pertambangan.
  • Jalan, permukiman pekerja, dan lahan pertanian menjadi penyebab utama deforestasi di sekitar tambang.
  • Permintaan global terhadap mineral untuk mobil listrik, panel surya, dan elektronik turut mendorong perluasan kerusakan hutan.


BAGI sebagian besar dari kita, teknologi hijau seperti mobil listrik, panel surya, hingga ponsel pintar (smartphone) adalah simbol masa depan yang bersih dan ramah lingkungan. 


Namun, di balik narasi penyelamatan bumi tersebut, ada harga lingkungan yang sangat mahal yang harus dibayar oleh daratan Afrika.


Sebuah studi berskala besar yang dipimpin oleh University of Sheffield dan diterbitkan dalam jurnal bergengsi Nature mengungkap fakta mencengangkan. 


Antara tahun 2001 hingga 2020, aktivitas pertambangan di Afrika telah melenyapkan sekitar 187.000 hektare hutan, sebuah wilayah yang luasnya hampir setara dengan total luas negara Mauritius


Menariknya, ancaman terbesar ternyata bukan datang dari pengerukan lubang tambangnya itu sendiri, melainkan dari pembangunan infrastruktur di sekitarnya.


Dengan memanfaatkan citra satelit dan pemodelan statistik, para peneliti menemukan bahwa untuk setiap satu hektare lahan yang dibuka menjadi area tambang aktif, ada sekitar 34 hektare hutan di sekitarnya yang ikut lenyap.


"Area tambang yang kita lihat sebenarnya hanyalah puncak dari gunung es," ungkap Dr. Oscar Morton, salah satu penulis utama studi dari School of Biosciences, University of Sheffield


Menurutnya, perluasan wilayah pemukiman baru bagi pekerja, konversi lahan hutan menjadi sektor pertanian pembantu, hingga pembukaan jalur transportasi logistik adalah rantai efek domino.


Hal tersebut menjadi ancaman paling serius bagi kelestarian hutan di seluruh benua Afrika.


Riset ini mengamati lebih dari 16.000 titik penambangan, mulai dari proyek raksasa milik korporasi multinasional hingga tambang rakyat skala kecil (artisanal). 


Dari ribuan sampel tersebut, aktivitas penambangan logam seperti kobalt dan tembaga ditemukan menjadi pemicu deforestasi paling parah.


Hal tersebut terutama di kawasan hutan hujan dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi di Republik Demokratik Kongo


Tragisnya, kedua mineral ini adalah komponen inti yang dicari dunia internasional demi memuluskan transisi energi hijau.


Laju kerusakan ini tidak lepas dari meroketnya permintaan pasar global. Sejak tahun 1970, ekstraksi bijih logam di Afrika telah melonjak hingga empat kali lipat. 


Bahkan, seiring dengan ambisi dunia untuk lepas dari ketergantungan bahan bakar fosil, permintaan mineral kunci ini diprediksi akan meningkat tajam hingga 40 kali lipat pada tahun 2040.


"Sebagai konsumen dari produk-produk canggih, kita secara tidak langsung menjadi bagian dari rantai pasok global yang mendorong deforestasi masif di Afrika," papar Dr. Chris Bousfield


Ia menegaskan bahwa industri pertambangan harus segera mengadopsi prinsip zero deforestation atau rantai pasok tanpa kehilangan bersih (no-net-loss)


Itu mirip dengan apa yang mulai diterapkan pada industri makanan dan minuman global saat ini.


Di sisi lain, masalah ini diperparah oleh buruknya tata kelola dan penegakan hukum di wilayah Afrika Sub-Sahara


Prince Dégny Valé, peneliti dari Université Jean Lorougnon Guédé, Pantai Gading, menambahkan bahwa ekspansi tambang memang membawa angin segar bagi perekonomian lokal. 


Sayangnya, kapasitas penegakan hukum lingkungan yang lemah membuat aktivitas ini kerap memicu pencemaran air, kerusakan tanah, hingga konflik sosial terkait akses sumber daya.


Salah satu kelemahan terbesar yang diidentifikasi dalam studi ini adalah biasnya dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal). 


Selama ini, perusahaan tambang cenderung hanya mengukur dampak lingkungan di dalam batas wilayah konsesi mereka saja. 


Mereka mengabaikan jejak kerusakan tidak langsung (indirect footprint) berupa pembukaan jalan atau perkampungan kumuh baru yang bisa membentang hingga berkilo-kilometer di luar batas resmi proyek.


Laporan dari World Resources Institute (WRI) mengenai lanskap hutan global juga sering kali menegaskan bahwa pembukaan jalan akses logistik di tengah hutan primer adalah pemicu awal dari 90% laju deforestasi hutan tropis.


Itu karena mempermudah masuknya aktivitas pembalakan liar dan perburuan.


Dr. Victor Maus dari WU Vienna University of Economics and Business memperingatkan bahwa fenomena ini kemungkinan besar tidak hanya terjadi di Afrika.


Hal sama bisa terjadi juga di wilayah tropis kaya biodiversitas lainnya, termasuk Amerika Selatan dan Asia Tenggara.


Disadur dari Phys.org - Infrastructure for African mines destroying forests at 34 times the rate of the mines themselves




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama