Saat Ibu dan Anak Main Bareng, Gelombang Otak Mereka Selaras

Bermain bersama ternyata mampu menyelaraskan aktivitas otak ibu dan anak, bahkan ketika sang ibu menggunakan bahasa kedua yang bukan bahasa ibunya.


Bermain bersama ternyata mampu menyelaraskan aktivitas otak ibu dan anak, bahkan ketika sang ibu menggunakan bahasa kedua yang bukan bahasa ibunya.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Peneliti menemukan gelombang otak ibu dan anak tetap sinkron saat bermain, baik menggunakan bahasa ibu maupun bahasa kedua.
  • Sinkronisasi otak lebih kuat saat ibu dan anak berinteraksi langsung dibandingkan ketika bermain sendiri-sendiri.
  • Temuan ini menunjukkan bahwa kedekatan emosional dan proses belajar anak tidak bergantung pada penggunaan bahasa asli.


BANYAK orang tua bilingual khawatir bahwa berbicara dengan anak menggunakan bahasa kedua mungkin membuat komunikasi terasa kurang alami atau mengurangi kedekatan emosional. 


Namun, penelitian terbaru dari Inggris memberikan kabar yang menenangkan: otak ibu dan anak tetap bisa “selaras” ketika mereka bermain bersama, meskipun percakapan dilakukan dalam bahasa yang dipelajari, bukan bahasa ibu.


Studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Cognition ini meneliti fenomena yang dikenal sebagai interbrain synchrony atau sinkronisasi antarotak. 


Istilah tersebut mengacu pada aktivitas saraf yang terjadi secara bersamaan pada dua orang yang sedang berinteraksi sosial, misalnya ketika berbicara, belajar, bernyanyi, atau bekerja sama.


Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa sinkronisasi semacam ini dapat memperkuat hubungan emosional, meningkatkan kualitas komunikasi, serta membantu dua orang memusatkan perhatian pada hal yang sama. 


Dalam hubungan orang tua dan anak, kemampuan “menyetel” otak satu sama lain ini diyakini berperan penting dalam pembentukan ikatan emosional yang sehat.


“Kami menunjukkan bahwa otak ibu bilingual dan anak mereka tetap berada dalam kondisi sinkron melalui sinkronisasi saraf, baik ketika mereka bermain menggunakan bahasa ibu maupun bahasa kedua.”


Demikian kata penulis utama penelitian, Dr. Efstratia Papoutselou dari School of Medicine, University of Nottingham.


Menurut Papoutselou, hasil ini penting karena menunjukkan bahwa penggunaan bahasa kedua tidak mengganggu hubungan otak-ke-otak yang mendukung kedekatan dan komunikasi antara ibu dan anak.


Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena semakin banyak anak di dunia yang tumbuh dalam lingkungan multibahasa. 


Di Uni Eropa, misalnya, proporsi rumah tangga yang menggunakan lebih dari satu bahasa meningkat dari 8 persen pada 2014 menjadi 15,6 persen pada 2023.


Tumbuh dalam lingkungan bilingual memang diketahui memiliki banyak manfaat, mulai dari kemampuan kognitif yang lebih fleksibel hingga keuntungan akademis. 


Namun para peneliti ingin mengetahui apakah ada sisi lain yang mungkin kurang menguntungkan, terutama terkait hubungan emosional dan komunikasi antara orang tua dan anak.


Alasannya cukup masuk akal. Bahkan penutur yang sangat mahir sekalipun biasanya berbicara lebih lambat ketika menggunakan bahasa kedua. 


Mereka cenderung lebih sering berhenti sejenak, melakukan koreksi, atau membutuhkan usaha mental lebih besar, terutama dalam situasi yang emosional atau kompleks.


Beberapa penutur bahasa kedua bahkan melaporkan adanya perasaan “jarak emosional” ketika menggunakan bahasa yang dipelajari. 


Kondisi ini diduga bisa memengaruhi cara seseorang mengekspresikan kasih sayang, empati, atau disiplin kepada anak.


Untuk menguji hal tersebut, para peneliti merekrut 15 keluarga di Inggris yang memiliki anak berusia tiga hingga empat tahun dan dibesarkan secara bilingual. 


Seluruh ibu dalam penelitian ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dengan tingkat kemahiran tinggi, yakni setara level C1 atau C2 menurut Common European Framework of Reference for Languages (CEFR).


Dalam eksperimen, setiap pasangan ibu dan anak datang ke laboratorium dan duduk di meja yang dipenuhi mainan. 


Mereka mengenakan perangkat pemindai otak berbasis functional near-infrared spectroscopy (fNIRS), sebuah teknologi yang mengukur perubahan kadar oksigen dalam pembuluh darah otak sebagai indikator aktivitas saraf.


Ibu dan anak kemudian diminta bermain dalam tiga kondisi berbeda yang diatur secara acak.


Mereka bermain menggunakan bahasa ibu sang ibu seperti di rumah, bermain hanya menggunakan bahasa Inggris, atau bermain sendiri-sendiri tanpa berinteraksi dan dipisahkan oleh layar.


Hasilnya menunjukkan adanya sinkronisasi saraf yang signifikan antara ibu dan anak. Sinkronisasi tersebut jauh lebih kuat ketika mereka bermain bersama dibandingkan saat bermain secara terpisah.


Aktivitas yang paling selaras ditemukan pada korteks prefrontal, wilayah otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, perencanaan, penalaran, dan pengelolaan emosi. 


Sebaliknya, sinkronisasi yang lebih lemah terlihat pada area temporo-parietal yang berkaitan dengan perhatian dan kognisi sosial.


Yang paling menarik, tingkat sinkronisasi otak ternyata sama kuatnya baik ketika mereka berbicara dalam bahasa Inggris maupun dalam bahasa ibu sang ibu.


Dengan kata lain, berbicara menggunakan bahasa kedua tidak mengurangi kemampuan seorang ibu untuk membangun hubungan saraf yang erat dengan anaknya selama bermain.


Temuan ini menambah bukti bahwa faktor terpenting dalam interaksi orang tua dan anak bukanlah bahasa yang digunakan, melainkan kualitas keterlibatan dan perhatian yang diberikan selama berinteraksi.


Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kontak mata, respons yang hangat, serta aktivitas bersama seperti membaca buku atau bermain dapat meningkatkan sinkronisasi otak antara orang tua dan anak. 


Sinkronisasi ini kemudian dikaitkan dengan perkembangan kemampuan sosial, bahasa, dan belajar yang lebih baik pada anak.


Profesor Douglas Hartley, penulis senior penelitian dari NIHR Nottingham Biomedical Research Centre, menegaskan bahwa bilingualisme seharusnya tidak dipandang sebagai hambatan.


“Bilingualisme terkadang dianggap sebagai tantangan, tetapi sebenarnya dapat memberikan banyak keuntungan dalam kehidupan. 


"Penelitian kami menunjukkan bahwa tumbuh dengan lebih dari satu bahasa juga dapat mendukung komunikasi dan pembelajaran yang sehat,” ujarnya.


Bagi para orang tua yang menggunakan lebih dari satu bahasa di rumah, hasil penelitian ini memberikan pesan: tidak perlu khawatir kehilangan kedekatan dengan anak hanya karena berbicara dalam bahasa kedua. 


Selama interaksi berlangsung hangat, responsif, dan penuh perhatian, otak ibu dan anak tampaknya tetap mampu bergerak dalam irama yang sama.


Disadur dari Frontiers - Brainwaves of mothers and children synchronize when playing together – even in an acquired language.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama