Orang Cerdas Lebih Tinggalkan Kebiasaan Lama demi Ide yang Lebih Baik

Orang dengan kecerdasan tinggi terbukti lebih fleksibel untuk meninggalkan kebiasaan lama dan beralih ke solusi baru yang jauh lebih efektif.


Orang dengan kecerdasan tinggi terbukti lebih fleksibel untuk meninggalkan kebiasaan lama dan beralih ke solusi baru yang jauh lebih efektif.Foto Ilustrasi: benzoix/Freepik 


Ringkasan

  • Individu dengan kecerdasan lebih tinggi lebih sering beralih ke solusi baru yang terbukti lebih efektif.
  • Sifat kepribadian terbuka terhadap pengalaman baru juga mendorong seseorang mencoba cara baru, meski tidak selalu lebih baik.
  • Semakin lama seseorang terbiasa dengan suatu cara, semakin sulit baginya untuk beralih ke alternatif lain.


KAMU mungkin pernah bertemu dengan orang yang sangat teguh—atau malah terkesan kolot, dalam mempertahankan cara lamanya saat bekerja.


Di sisi lain, mungkin kamu juga pernah melihat orang yang begitu mudah berganti strategi dalam sekejap.


Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Personality and Individual Differences mencoba mengulik fenomena ini melalui kacamata social learning (pembelajaran sosial). 


Hasilnya cukup mengejutkan. Tingkat kecerdasan dan kepribadian seseorang sangat menentukan seberapa cepat mereka membuang kebiasaan lama demi mengadopsi ide baru.


Peneliti utama studi ini, Tiarn Burtenshaw, bersama rekan-rekannya dari University of Western Australia, mengumpulkan ratusan partisipan dari Australia dan Inggris. 


Mereka diminta menyelesaikan dua simulasi tugas perilaku, yaitu tugas membuka gembok (Padlock task) dan tugas labirin (Maze task).


Dalam tugas gembok, partisipan dilatih membuka peti harta karun tiruan menggunakan kombinasi 7 digit angka. 


Kualitas solusi diukur dari tingkat efisiensinya: semakin sedikit perpindahan tombol yang ditekan, semakin efisien cara tersebut.


Sementara pada tugas labirin, mereka harus mengemudikan taksi virtual melewati rute tertentu sebanyak beberapa kali. 


Di akhir sesi latihan, para partisipan diberikan pilihan: tetap memakai jalur yang sudah mereka kuasai dari latihan, atau beralih menggunakan rute alternatif baru yang ditawarkan. 


Rute baru ini divariasikan kualitasnya; ada yang lebih cepat (unggul), sama saja, atau justru memutar lebih jauh (buruk).


Selain menguji tugas tersebut, para ilmuwan juga mengukur tingkat kecerdasan kognitif partisipan menggunakan serangkaian tes IQ serta memetakan kepribadian mereka lewat tes HEXACO-60.


Hasil analisis data menunjukkan sebuah pola yang konsisten. Orang-orang dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk beralih ke solusi baru. 


Namun, mereka sangat selektif. Perpindahan ini terjadi secara signifikan terutama ketika solusi baru tersebut memang jelas-jelas lebih unggul dan efisien daripada cara lama.


Menariknya, penelitian ini juga membedakan perilaku si cerdas dengan orang yang memiliki sifat openness to experience (keterbukaan terhadap hal-hal baru). 


Orang dengan nilai openness tinggi memang sangat suka mencoba alternatif baru karena didorong oleh rasa penasaran, kreativitas, dan imajinasi. 


Saking penasarannya, mereka bahkan tetap mau beralih ke metode baru meskipun metode tersebut sebenarnya sama saja atau bahkan lebih buruk kualitasnya dibanding cara lama.


"Temuan kami menunjukkan pentingnya perbedaan individu dalam kecerdasan dan kepribadian, di samping faktor pengalaman, terhadap proses pembelajaran sosial manusia," simpul peneliti dalam laporan mereka.


Studi bagian kedua membawa peringatan penting bagi kita semua mengenai rutinitas. 


Peneliti sengaja memanipulasi durasi latihan partisipan.  Ada yang dilatih 1 kali, 3 kali, hingga 6 kali putaran sebelum ditawarkan ide baru.


Hasilnya, semakin sering dan lama seseorang melatih suatu cara, semakin kecil kemungkinan mereka untuk mau melirik solusi lain. 


Dalam psikologi, ini disebut sebagai maintenance bias atau bias pemeliharaan—sebuah kondisi di mana kebiasaan yang terlalu melekat membuat otak malas memproses informasi baru yang lebih menguntungkan. 


Jika tidak diasah, kenyamanan ini perlahan bisa menurunkan kemampuan adaptasi kita secara sosial.


Meskipun eksperimen ini dilakukan dalam simulasi skala kecil dan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat dampaknya pada keputusan krusial di dunia nyata, riset ini memberikan gambaran segar. 


Menjadi cerdas bukan hanya tentang seberapa banyak hal yang kita tahu, melainkan tentang seberapa berani kita menurunkan ego untuk membuang kebiasaan lama yang sudah usang begitu melihat ada jalan yang lebih baik.


Disadur dari PsyPost - Highly intelligent people are more likely to ditch old habits for better ideas, study finds.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama