Semakin banyak anggota tim yang berinisiatif ternyata tidak otomatis membuat tim meraih hasil lebih baik. Penelitian baru menunjukkan koordinasi tetap menjadi faktor penentu.
Ringkasan
- Inisiatif individu tidak berhubungan langsung dengan kemenangan tim.
- Tim tampil terbaik ketika inisiatif dibarengi koordinasi dan komunikasi yang kuat.
- Terlalu banyak inisiatif tanpa sinkronisasi justru bisa menjadi bumerang bagi tim.
KAMU mungkin pernah melihat seorang pemain sepak bola yang berlari ke sana kemari di seluruh penjuru lapangan, mencoba merebut bola dan membantu setiap rekan setimnya.
Sepintas, aksi tersebut terlihat sangat heroik dan penuh dedikasi. Namun, sebuah studi terbaru dari Washington State University (WSU) mengungkapkan fakta mengejutkan.
Inisiatif individu yang menggebu-gebu seperti itu sama sekali tidak menjamin kesuksesan tim, kecuali jika dibarengi dengan koordinasi yang matang.
Riset yang diterbitkan di jurnal Group & Organization Management ini dipimpin oleh Jeremy Beus, seorang profesor manajemen di Carson College of Business WSU, bersama Erik Taylor dari East Carolina University.
Para peneliti menggunakan data pergerakan dari ajang sepak bola terbesar di bumi, yaitu Piala Dunia FIFA 2014 dan 2018, untuk membuktikan hipotesis mereka.
Bagaimana cara peneliti mengukur "inisiatif" di lapangan hijau?
Caranya sangat canggih. Taylor dan Beus menganalisis peta panas (heat maps) berbasis GPS dari pertandingan-pertandingan Piala Dunia.
Melalui data tersebut, mereka melihat seberapa jauh seorang pemain bergerak keluar dari area atau posisi yang seharusnya mereka jaga selama 90 menit pertandingan.
Jika seorang bek tiba-tiba maju jauh ke depan untuk membantu penyerangan, hal itu dicatat sebagai bentuk inisiatif nyata.
“Kami ingin melihat bukti konkret dari inisiatif tersebut secara langsung, bukan sekadar bertanya kepada seseorang apakah rekan setim mereka menunjukkan inisiatif atau tidak,” ujar Beus.
Agar adil, analisis ini mengecualikan penjaga gawang dan hanya membandingkan pemain dengan posisi serta tanggung jawab yang setara.
Contohnya, bek hanya dibandingkan dengan sesama bek, bukan dengan gelandang atau penyerang.
Ketika skor inisiatif tim ini dibandingkan dengan hasil akhir pertandingan, hasilnya mencengangkan.
Tim dengan tingkat inisiatif individu yang tinggi ternyata tidak memiliki peluang menang yang lebih besar daripada tim biasa.
Di sinilah variabel "koordinasi" masuk sebagai faktor pembeda yang sangat krusial.
Dalam konteks sepak bola, para peneliti mengukur koordinasi melalui frekuensi dan tingkat keberhasilan operan (passing) antar-pemain.
Ketika inisiatif yang tinggi berpadu dengan operan yang sukses dan komunikasi yang lancar, barulah performa tim meroket tajam.
Sebaliknya, ketika pemain sibuk berinisiatif sendiri tanpa koordinasi, performa tim justru melorot drastis.
“Bagi seorang individu, menunjukkan inisiatif hampir selalu berdampak baik,” kata Beus.
“Namun, dalam lingkungan tim yang saling bergantung, jika semua orang memutuskan untuk bekerja melampaui batas tanpa berkomunikasi, yang terjadi adalah tumpang tindih tugas.
"Anda bisa saja meninggalkan area yang seharusnya dijaga, membuat pertahanan ramuan menjadi rapuh, atau bahkan saling menjegal rekan sendiri tanpa disadari.”
Menariknya, studi ini juga menemukan adanya efek ambang batas (threshold effect).
Tim yang berkinerja paling baik adalah tim dengan jumlah pemain berinisiatif moderat yang terhubung lewat komunikasi yang kuat.
Ketika inisiatif muncul secara berlebihan dan tanpa arah, hal itu bukan lagi sekadar tidak membantu, melainkan berubah menjadi beban atau liabilitas bagi tim.
Meskipun riset ini menggunakan panggung Piala Dunia, Beus menegaskan bahwa prinsip dasarnya berlaku sangat luas untuk dunia kerja dan organisasi modern.
Bagi para manajer dan pemimpin perusahaan, temuan ini menjadi alarm penting.
Memberikan penghargaan kepada karyawan yang berinisiatif secara buta, tanpa melihat bagaimana mereka berkoordinasi dengan rekan setimnya, bisa secara tidak sengaja merusak efektivitas kerja kelompok.
Kunci utamanya, menurut Beus, adalah membangun budaya komunikasi di mana para pemimpin memberikan contoh nyata.
Bergerak ekstra demi kemajuan bersama itu sangat bagus, asalkan semua anggota tim mengetahuinya dan berada di frekuensi yang sama.
Disadur dari EurekAlert - World Cup data reveals initiative alone doesn't improve team Performance yang diakses pada Juli 2026.

Posting Komentar