Rahasia di Balik Mata Manusia, Alasan Bagian Putih Begitu Mencolok

 Bagian putih mata manusia bukan sekadar ciri fisik biasa.


Bagian putih mata manusia bukan sekadar ciri fisik biasa.Ilustrasi: wirestock/Magnific


Ringkasan:

  • Manusia memiliki sklera (bagian putih mata) yang jauh lebih terlihat dibandingkan hewan lain.
  • Sklera putih membantu orang lain mengetahui arah pandangan kita, sehingga mempermudah komunikasi dan kerja sama sosial.
  • Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, warna putih mata juga dapat memberikan petunjuk tentang kesehatan dan usia seseorang.


BIRU, hijau, atau cokelat madu, warna iris seseorang sering kali langsung menarik perhatian kita. Namun, satu hal yang jarang dimiliki makhluk lain adalah bagian putih yang mengelilingi iris mata kita.


Mayoritas mamalia memiliki mata yang cenderung gelap sepenuhnya, bahkan membuat pupil mereka hampir tidak bisa dibedakan. Mengapa kita berbeda, dan apa sebenarnya fungsi dari si putih mata ini?


Para ilmuwan awalnya tidak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan tersebut. 


Titik baliknya tahun 1997, ketika seorang biolog asal Kyoto University, Shiro Kohshima, meneliti secara mendalam dengan membandingkan mata dari hampir separuh spesies primata yang ada di bumi. 


Hasilnya mengejutkan: hanya manusia yang memiliki bagian putih mata yang mencolok.


Kohshima menelurkan teori bahwa bagian putih mata—yang secara medis disebut sklera—berfungsi sebagai alat komunikasi. 


Kontras yang tinggi antara sklera putih dan pupil atau iris yang gelap membuat garis luar mata kita sangat mudah terlihat. 


Ditambah lagi dengan bentuk mata manusia yang cenderung memanjang ke samping, siapa pun bisa dengan mudah menebak ke mana tepatnya arah pandangan kita sedang tertuju.


Mengikuti arah pandangan orang lain ternyata punya kekuatan yang luar biasa besar. 


Lewat lirikan mata, kita bisa mendeteksi apakah seseorang sedang jujur, mengalihkan perhatian ke sesuatu yang penting, hingga membangun ikatan emosional. Bahasa verbal sering kali rumit dan bermakna ganda. 


"Sangat penting untuk membangun langkah komunikasi yang cepat," ujar Fumihiro Kano, seorang ilmuwan kognitif dari Kyushu University. "Sklera putih sangat membantu mewujudkan hal tersebut."


Gagasan Kohshima kemudian dikembangkan lebih jauh pada tahun 2007 oleh seorang psikolog dari Duke University bernama Michael Tomasello


Ia memperkenalkan konsep yang disebut cooperative eye hypothesis (hipotesis mata kooperatif). 


Tomasello berargumen bahwa sklera putih berevolusi khusus untuk mendukung kerja sama kelompok dalam sejarah manusia, seperti saat nenek moyang kita berburu bersama atau berbagi sumber daya pangan.


Untuk menguji kepekaan ini, Tomasello menggelar eksperimen unik yang melibatkan bayi manusia serta beberapa jenis kera besar: gorila, simpanse, dan bonobo. 


Dalam tes tersebut, seorang peneliti mencoba melihat ke arah langit-langit menggunakan tiga cara: hanya menggerakkan mata, hanya menggerakkan kepala (dengan mata tertutup), atau menggerakkan keduanya.


Hasilnya memperlihatkan perbedaan kontras yang sangat menarik:

  • Bayi manusia cenderung mengikuti arah gerakan mata peneliti. 

Mereka ikut melihat ke atas tiga kali lebih sering saat peneliti melirik ke langit-langit hanya dengan matanya, dibandingkan saat peneliti mendongakkan kepala dengan mata tertutup.

  • Kera besar justru melakukan hal sebaliknya. 

Mereka sangat bergantung pada pergerakan kepala dan cenderung mengabaikan lirikan mata. Kera-kera ini menengok ke atas 2,5 kali lebih sering ketika peneliti menggerakkan kepalanya saja.


Sejak awal kehidupan, manusia memang didesain sangat sensitif terhadap kontak mata. 


Penelitian terhadap bayi yang baru lahir menunjukkan bahwa bayi berusia di bawah lima hari akan menatap lebih lama pada wajah yang memandang langsung ke arah mereka. 


Kemampuan melacak arah pandangan orang lain ini mulai muncul di usia dua hingga empat bulan, dan menjadi kebiasaan yang konsisten saat bayi menginjak usia delapan bulan.


Kontak mata ini juga menjadi modal penting dalam melatih kemampuan berbahasa. 


Berkat adanya sklera putih, seorang bayi bisa dengan mudah mengikuti arah mata orang tuanya yang sedang menunjuk sebuah benda, mendengarkan nama benda tersebut, lalu menyimpannya dalam memori kosakata mereka. 


Data menunjukkan bahwa bayi berusia sepuluh bulan yang rajin mengikuti arah pandangan mata orang dewasa terbukti memiliki perkembangan kosakata yang jauh lebih kaya di kemudian hari.


Meski hipotesis mata kooperatif ini terdengar sangat meyakinkan, beberapa ilmuwan mulai memberikan catatan kritis. 


Juan Perea-García, seorang biolog evolusioner dari University of Las Palmas de Gran Canaria, menilai teori ini berpotensi terjebak dalam bias human exceptionalism.


Secara sederhana human exceptionalism adalah kecenderungan yang selalu menganggap manusia sebagai makhluk yang paling luar biasa.


Perea-García menunjukkan bahwa penelitian terbaru mendapati ada beberapa jenis primata lain yang juga memiliki sklera putih. Selain itu, ia mengingatkan bahwa sklera mata manusia tidak selalu berwarna putih bersih secara seragam. 


Bagi sebagian masyarakat di Asia Selatan, Afrika, dan Australia, sklera mereka memiliki pigmen yang lebih gelap. 


Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa kunci utamanya bukan terletak pada warna "putih", melainkan pada tingkat kontras antara sklera dan iris mata. 


Simpanse, misalnya, memiliki sklera gelap namun dipadukan dengan iris yang terang untuk menciptakan fungsi kontras yang serupa.


Namun, tim peneliti yang dipimpin oleh Fumihiro Kano mencoba menguji argumen tersebut. 


Mereka membandingkan bagaimana manusia dan simpanse membaca arah pandangan dari foto mata masing-masing spesies. 


Ketika foto-foto tersebut diedit menjadi lebih kecil dan gelap, mata simpanse menjadi sangat sulit dibaca arah pandangannya dibandingkan mata manusia. 


Menariknya, saat tim peneliti mengedit mata simpanse secara digital dan mengubah skleranya menjadi putih, kemampuan deteksi arah pandangan mereka langsung meningkat seketika.


"Riset kami menunjukkan bahwa visibilitas pandangan tidak hanya bergantung pada kontras iris-sklera, tetapi juga pada kejelasan garis luar mata secara keseluruhan," papar Kano. 


Sklera yang cerah membuat bentuk total dari mata kita tampak menonjol di wajah, sesuatu yang sulit didapat dari mata gelap simpanse, terutama dalam kondisi pencahayaan yang minim.


Fungsi sklera manusia ternyata tidak berhenti pada urusan komunikasi sosial saja, melainkan juga berperan sebagai indikator kesehatan tubuh kita. 


Karena warnanya yang terang, perubahan sekecil apa pun pada sklera akan langsung mudah disadari.


Seiring bertambahnya usia, bagian putih mata kita lambat laun akan berubah menjadi sedikit kekuningan atau kemerahan akibat adanya penumpukan lemak serta pelebaran pembuluh darah di sekitar mata. 


Proses perubahan warna ini bisa berjalan jauh lebih cepat jika seseorang memiliki pola makan atau gaya hidup yang buruk.


Jika sklera berubah warna secara mendadak, itu bisa menjadi alarm bahaya dari tubuh:

  • Warna Kuning Pekat: Sangat erat kaitannya dengan gejala penyakit kuning (jaundice), yang menandakan bahwa organ hati (liver) gagal menyaring darah dengan baik.
  • Warna Merah Akut: Biasanya menjadi indikasi terjadinya infeksi atau peradangan pada mata


Kondisi warna sklera ini pada akhirnya memengaruhi penilaian sosial kita. 


Dalam sebuah tes yang memanipulasi foto mata menjadi lebih merah atau kuning, para responden secara spontan menilai pemilik mata tersebut sebagai orang yang kurang sehat, tampak lebih tua, dan kurang menarik. 


Mata kita, lewat bagian putihnya, secara sukarela membocorkan banyak informasi berharga kepada dunia luar.


Jadi, saat Anda tidak sengaja bertatapan mata dengan seseorang di ujung ruangan dan saling melempar senyum, luangkan waktu sekejap untuk mengagumi bagian putih mata mereka. 


Tanpa adanya evolusi sklera putih yang unik ini, percikan koneksi antarmanusia tersebut mungkin tidak akan pernah terjadi.


Disadur dari Popular Science - Humans have weirdly white eyes. Here’s why.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama