Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bulan-bulan Uranus mungkin menyimpan petunjuk penting tentang keberadaan planet raksasa yang pernah menghuni Tata Surya lalu menghilang.
Ringkasan
- Simulasi terbaru menunjukkan sistem bulan Uranus sulit dijelaskan tanpa adanya periode kekacauan besar di masa lalu.
- Para ilmuwan menduga satu atau dua planet raksasa pernah terlempar keluar dari Tata Surya.
- Bulan Miranda menjadi kandidat terkuat yang menyimpan jejak peristiwa dramatis tersebut.
TATA SURYA kita saat ini terlihat sangat tenang, rapi, dan damai dengan delapan planet yang mengitari Matahari pada jalurnya masing-masing.
Namun, miliaran tahun lalu, lingkungan tempat tinggal kita ini sebenarnya adalah zona perang yang sangat liar dan kacau.
Berdasarkan model simulasi antariksa terbaru, para ilmuwan mencurigai bahwa tata surya kita dulunya memiliki anggota keluarga tambahan.
Bisa jadi ada satu atau dua planet raksasa seukuran Uranus atau Neptunus yang kini telah hilang karena diusir paksa ke ruang antarbintang yang gelap gulita.
Menurut sejumlah model evolusi Tata Surya, planet-planet raksasa seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus tidak selalu berada di posisi mereka sekarang.
Setelah terbentuk, mereka mengalami migrasi orbit yang dramatis.
Dalam proses tersebut, kemungkinan terjadi peristiwa gravitasi yang begitu dahsyat hingga satu atau bahkan dua planet seukuran Uranus atau Neptunus terlempar keluar dari Tata Surya dan mengembara di ruang antarbintang.
Masalahnya, jika planet-planet itu memang pernah ada, hampir tidak ada jejak langsung yang tersisa.
Karena itulah para astronom mulai mencari petunjuk di tempat yang tidak terduga, yakni pada bulan-bulan yang mengorbit planet raksasa.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Icarus mencoba menguji hipotesis tersebut melalui 122 simulasi berbeda mengenai evolusi Tata Surya.
Para peneliti ingin mengetahui bagaimana sistem satelit alami Uranus akan bereaksi terhadap periode ketidakstabilan ekstrem yang mungkin pernah terjadi.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Dalam sekitar 85 persen simulasi, sistem bulan Uranus mengalami kehancuran atau perubahan besar. Hanya sebagian kecil skenario yang berhasil menghasilkan konfigurasi bulan yang menyerupai kondisi Uranus saat ini.
Menariknya, hampir semua skenario yang berhasil melibatkan keberadaan planet raksasa tambahan yang kemudian terlempar keluar dari Tata Surya.
Gagasan tentang planet yang hilang bukanlah ide baru. Selama bertahun-tahun, para astronom berusaha menjelaskan beberapa keanehan Tata Surya yang sulit dipahami melalui model standar.
Misalnya, orbit Jupiter dan Saturnus saat ini memiliki tingkat eksentrisitas tertentu yang tidak sepenuhnya cocok dengan simulasi sederhana.
Selain itu, keberadaan Sabuk Kuiper, wilayah yang dipenuhi benda-benda es di luar orbit Neptunus, juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Neptunus bisa mencapai posisinya sekarang.
Dalam sejumlah simulasi komputer, teka-teki tersebut menjadi lebih mudah dijelaskan apabila Tata Surya muda memiliki lebih banyak planet daripada yang ada saat ini.
Planet-planet tambahan itu berfungsi seperti "pendorong gravitasi" yang mengubah orbit planet lain sebelum akhirnya terlempar ke luar sistem.
Karena tidak meninggalkan puing-puing yang mudah ditemukan, keberadaan planet-planet yang hilang itu masih berupa hipotesis. Namun, bukti-bukti tidak langsung terus bertambah.
Salah satu petunjuk paling menarik datang dari Miranda, bulan terkecil dalam kelompok satelit utama Uranus.
Miranda telah lama dianggap sebagai salah satu objek paling aneh di Tata Surya. Permukaannya tampak seperti hasil tempelan berbagai bagian yang berbeda, seolah-olah pernah hancur lalu disusun kembali.
Selain itu, kandungan esnya sangat tinggi untuk ukuran tubuh sekecil itu.
Yang membuat para astronom semakin penasaran, Miranda juga menunjukkan tanda-tanda aktivitas geologi pada masa lalu. Karakteristik tersebut sulit dijelaskan hanya melalui proses pembentukan biasa.
Banyak ilmuwan menduga Miranda sebenarnya merupakan sisa-sisa dari benda yang lebih besar yang pernah hancur akibat tumbukan dahsyat.
Studi terbaru ini memperkuat dugaan tersebut. Menurut para peneliti, Miranda bisa menjadi bukti paling jelas bahwa sistem Uranus pernah mengalami kekacauan gravitasi besar.
Mereka memperkirakan bulan-bulan Uranus setidaknya mengalami dua peristiwa destruktif.
Pertama, ketika Uranus mengalami tumbukan raksasa yang menyebabkan planet itu miring hampir 98 derajat terhadap bidang orbitnya.
Kedua, saat terjadi pertemuan dekat dengan planet-planet raksasa lain selama periode ketidakstabilan Tata Surya.
Akibat rangkaian peristiwa tersebut, sebagian bulan kemungkinan hancur, bertabrakan, lalu terbentuk kembali menjadi sistem yang terlihat sekarang.
Meski belum membuktikan secara langsung keberadaan planet yang hilang, penelitian ini memberikan arah baru bagi pencarian jawabannya.
Selain bulan-bulan Uranus, para ilmuwan juga mempelajari petunjuk lain seperti asteroid Trojan Jupiter, struktur Sabuk Kuiper, dan keberadaan Awan Oort yang menyelimuti Tata Surya bagian luar.
Semua potongan bukti itu dapat membantu merekonstruksi sejarah awal Tata Surya.
Harapan terbesar mungkin datang dari misi eksplorasi masa depan. NASA dan ESA sedang mempertimbangkan pengiriman wahana khusus ke Uranus pada dekade 2040-an.
Jika misi tersebut terwujud, para ilmuwan dapat mempelajari Miranda dari dekat dan menentukan apakah bulan itu memang terbentuk kembali setelah mengalami kehancuran besar.
Jika dugaan itu terbukti benar, bulan-bulan Uranus bukan sekadar satelit biasa.
Mereka bisa menjadi saksi bisu dari masa paling kacau dalam sejarah Tata Surya—dan mungkin mengungkap berapa banyak planet yang sebenarnya pernah mengelilingi Matahari.
Disadur dari Wired - The Moons of Uranus May Hold the Key to Finding Missing Planets.

إرسال تعليق