Mata Rantai yang Hilang: Cara Olahraga Bantu Tubuh Tetap Sehat Saat Menua

Sebuah studi baru mengungkap bahwa olahraga membantu memperlambat penuaan dengan menjaga protein penting di otot yang melindungi tubuh dari kerusakan.


Sebuah studi baru mengungkap bahwa olahraga membantu memperlambat penuaan dengan menjaga protein penting di otot yang melindungi tubuh dari kerusakan.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Peneliti menemukan protein bernama NOX4 menurun seiring bertambahnya usia, baik pada manusia maupun tikus.
  • Hilangnya NOX4 menyebabkan penurunan massa otot, resistensi insulin, kerapuhan fisik, hingga penyakit hati.
  • Olahraga terbukti mengembalikan kadar NOX4 pada tikus tua, sementara senyawa sulforafan dari brokoli juga menunjukkan efek perlindungan.


TETAP aktif secara fisik merupakan salah satu cara terbaik untuk menua dengan sehat. Orang yang rutin bergerak cenderung memiliki otot lebih kuat, metabolisme lebih stabil, dan risiko penyakit kronis yang lebih rendah. 


Namun satu pertanyaan besar selalu menggantung: apa sebenarnya yang terjadi di tingkat molekuler sehingga olahraga bisa memberikan manfaat sebesar itu?


Sebuah penelitian baru dari Monash University dan sejumlah kolaborator internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances mungkin telah menemukan sebagian jawabannya.


Sebuah protein penting di otot bernama NOX4 tampaknya berperan sebagai penghubung utama antara aktivitas fisik dan penuaan yang sehat.


Temuan ini menunjukkan bahwa ketika kadar NOX4 menurun seiring bertambahnya usia, tubuh kehilangan salah satu mekanisme pertahanan terpentingnya. 


Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh otot, tetapi juga menjalar ke metabolisme, kadar gula darah, bahkan kesehatan hati.


Banyak orang mengira olahraga hanya membakar kalori atau memperkuat otot. 


Padahal, ketika otot berkontraksi saat berjalan, berlari, atau bersepeda, sel-sel tubuh juga menghasilkan sejumlah kecil molekul reaktif yang sering dianggap sebagai bentuk "stres" kimia.


Dalam jumlah berlebihan, molekul ini memang bisa merusak sel. Namun dalam kadar yang tepat, mereka justru bertindak sebagai sinyal penting yang memberitahu tubuh untuk mengaktifkan sistem perbaikan dan pertahanan diri.


Di sinilah peran NOX4 menjadi sangat penting. Protein ini membantu menghasilkan sinyal yang kemudian mengaktifkan sebuah "sakelar utama" di dalam sel. 


Sakelar tersebut mendorong produksi lebih dari 200 enzim pelindung yang bertugas menetralkan molekul berbahaya, memperbaiki protein yang rusak, menjaga kesehatan mitokondria—pembangkit energi sel—dan mengurangi peradangan.


Dengan kata lain, NOX4 adalah bagian dari sistem pemeliharaan internal tubuh.


Peneliti menemukan bahwa kadar NOX4 menurun pada jaringan otot manusia dan tikus yang menua.


Untuk memastikan bahwa penurunan ini memang menjadi penyebab masalah, bukan sekadar kebetulan, tim menggunakan teknologi penyuntingan gen untuk menghilangkan NOX4 dari sel otot manusia yang dikembangkan di laboratorium.


Hasilnya cukup mencolok. Tanpa NOX4, produksi enzim pelindung merosot tajam dan protein-protein yang rusak mulai menumpuk.


Temuan serupa muncul pada sampel jaringan otot manusia. Peneliti membandingkan pria muda yang aktif secara fisik dengan rata-rata usia sekitar 27 tahun dan pria yang lebih tua dengan usia sekitar 70 tahun.


Kelompok yang lebih tua memiliki kadar NOX4 lebih rendah, enzim pelindung lebih sedikit, dan lebih banyak protein yang mengalami kerusakan.


Bagian paling menarik dari penelitian ini muncul saat para ilmuwan mengamati tikus yang direkayasa agar tidak memiliki NOX4 di otot rangkanya.


Meski diberi makanan normal rendah lemak, tikus-tikus tersebut mengalami penurunan massa otot yang lebih cepat dan menunjukkan tanda-tanda kerapuhan fisik. 


Daya tahan tubuh, kekuatan cengkeraman, serta koordinasi gerak mereka juga memburuk. Namun kerusakan tidak berhenti di sana.


Tikus tanpa NOX4 mengalami resistensi insulin, kondisi yang menjadi cikal bakal diabetes tipe 2. Kadar gula darah dan insulin mereka meningkat.


Yang paling mengejutkan, tikus tersebut juga mengembangkan penyakit hati serius yang disertai peradangan dan jaringan parut. 


Menurut peneliti, tingkat kerusakan hati seperti itu bahkan jarang terlihat pada tikus obesitas yang diberi makanan tinggi lemak.


Temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan otot ternyata memiliki hubungan yang jauh lebih luas dengan kesehatan seluruh tubuh dibanding yang selama ini dipahami.


Kabar baiknya, efek tersebut tampaknya bisa dilawan.


Ketika tikus berusia setengah baya menjalani latihan treadmill selama lima minggu, kadar NOX4 mereka meningkat kembali hingga mendekati tingkat yang ditemukan pada tikus muda. 


Bersamaan dengan itu, kadar enzim pelindung meningkat dan kerusakan protein berkurang.


Namun manfaat ini menghilang pada tikus yang memang tidak memiliki NOX4. Artinya, olahraga membutuhkan protein tersebut untuk mengaktifkan mekanisme perbaikan tubuh.


Peneliti juga menguji sulforafan, senyawa alami yang terbentuk saat sayuran seperti brokoli, kubis, atau kale dipotong dan dikunyah.


Pada tikus tua yang kekurangan NOX4, pemberian sulforafan selama empat minggu membantu memperbaiki massa otot, kadar gula darah, kapasitas olahraga, dan tanda-tanda peradangan hati. 


Meski demikian, jaringan parut yang sudah terbentuk di hati tidak bisa diperbaiki sepenuhnya.


Penelitian ini membantu menjelaskan mengapa gaya hidup aktif sering dikaitkan dengan umur yang lebih panjang dan kualitas hidup yang lebih baik.


Selama ini, manfaat olahraga sering dijelaskan secara umum: memperkuat jantung, membakar lemak, atau meningkatkan kebugaran. 


Kini para ilmuwan mulai memahami bahwa olahraga juga menjaga agar sistem perawatan internal tubuh tetap bekerja.


Meski penelitian ini masih banyak dilakukan pada tikus dan diperlukan studi lebih lanjut pada manusia, hasilnya memperkuat pesan yang telah lama disampaikan para ahli kesehatan: tubuh manusia memang dirancang untuk bergerak.


Saat aktivitas fisik berkurang seiring bertambahnya usia, sinyal perlindungan yang dipicu oleh NOX4 juga melemah. Akibatnya, kerusakan sel mulai menumpuk dan memicu berbagai masalah kesehatan.


Dengan kata lain, manfaat olahraga mungkin tidak hanya berasal dari kalori yang terbakar atau otot yang terbentuk. 


Di balik setiap langkah, kayuhan sepeda, atau sesi olahraga ringan, tubuh sedang mengaktifkan sistem pemeliharaan yang membantu memperlambat proses penuaan itu sendiri.


Disadur dari StudyFinds - Scientists Find Potential Missing Link Connecting Exercise And Healthy Aging



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama