Jam Tangan Pintar: Deteksi Henti Jantung dan Panggil Bantuan Otomatis

Teknologi gelang pintar terbaru mampu mendeteksi henti jantung secara otomatis guna mempercepat bantuan medis dan meningkatkan peluang keselamatan pasien di luar rumah sakit.


Teknologi gelang pintar terbaru mampu mendeteksi henti jantung secara otomatis guna mempercepat bantuan medis dan meningkatkan peluang keselamatan pasien di luar rumah sakit.Ilustrasi dibuat oleh AI. 


Ringkasan 

  • Algoritma pada gelang pintar ini mampu mendeteksi kejadian henti jantung dengan tingkat akurasi mencapai 92%.
  • Perangkat ini dirancang menjadi "saksi digital" yang otomatis menghubungi layanan darurat saat pengguna mengalami serangan tanpa ada orang di sekitar.
  • Menggunakan teknik berbasis cahaya (photoplethysmography) untuk memantau perubahan aliran darah di pergelangan tangan secara terus-menerus.


BAYANGKAN jika jam tangan yang melingkar di pergelangan Anda bukan sekadar alat penunjuk waktu atau penghitung langkah kaki, melainkan "malaikat pelindung" yang bisa menyelamatkan nyawa. 


Kabar gembira datang dari dunia medis. Para peneliti baru saja menguji teknologi gelang pintar yang mampu mendeteksi henti jantung secara otomatis.


Penelitian bertajuk DETECT-1b yang diterbitkan dalam jurnal Circulation: Arrhythmia and Electrophysiology ini membawa angin segar bagi penanganan darurat jantung di luar rumah sakit. 


Masalah utama dari henti jantung di luar fasilitas medis adalah seringkali kejadiannya tidak disaksikan oleh siapa pun, sehingga bantuan medis terlambat datang.


Gelang pintar ini menggunakan algoritma khusus berbasis cahaya yang disebut photoplethysmography (PPG). Sensor ini bekerja dengan cara memantau perubahan volume darah yang mengalir di pembuluh darah pergelangan tangan. 


Jika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah, sensor akan menangkap anomali tersebut dan memicu peringatan.


Dalam pengujian terhadap 49 orang dewasa di Belanda, para peneliti menginduksi irama jantung berbahaya secara singkat di bawah pengawasan medis. 


Hasilnya sangat memukau: perangkat ini berhasil mendeteksi henti jantung dalam 92% kasus. Bahkan untuk jenis gangguan irama jantung paling fatal seperti ventricular fibrillation, akurasinya mencapai 100%!


Mungkin kamu berpikir, "Bukannya jam tangan pintar yang ada sekarang sudah punya sensor detak jantung?". 


Memang benar, banyak smartwatch komersial menggunakan sensor serupa. Namun, jam mutakhir ini berbeda.


Roos Edgar dari Radboud University Medical Center menjelaskan bahwa sebagian besar jam tangan di pasaran saat ini belum dirancang atau disertifikasi secara medis khusus untuk mendeteksi henti jantung.


Keunggulan perangkat ini adalah kemampuannya untuk memantau secara terus-menerus tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari. 


Tujuannya bukan sekadar memberi tahu pengguna bahwa mereka dalam bahaya, tapi langsung menghubungkan perangkat ke pusat bantuan darurat atau jaringan relawan terdekat. 


"Dengan perangkat yang secara otomatis memberi tahu layanan darurat, bantuan bisa tiba lebih cepat, yang secara signifikan dapat meningkatkan peluang bertahan hidup," ujar Dr. Judith Bonnes, ahli jantung senior dalam studi ini.


Mengapa kecepatan sangat krusial? 


Menurut data dari American Heart Association (AHA) setiap menit yang berlalu tanpa tindakan resusitasi jantung paru (RJP) atau kejut jantung (defibrillation) setelah henti jantung, peluang bertahan hidup seseorang akan menurun sekitar 7% hingga 10%.


Jika bantuan medis tidak segera tiba dalam waktu kurang dari 10 menit, risiko kerusakan otak permanen atau kematian menjadi sangat tinggi. 


Oleh karena itu, kehadiran gelang pintar ini sebagai "saksi digital" sangat krusial untuk memangkas waktu respons medis yang seringkali terhambat karena korban tidak ditemukan tepat waktu.


Meski hasilnya sangat menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa penelitian ini masih dilakukan dalam lingkungan klinis yang terkendali. 


Langkah selanjutnya adalah menguji efektivitas dan keandalannya dalam kondisi dunia nyata di mana gerakan tubuh yang berlebihan atau faktor lingkungan lain bisa memengaruhi sensor.


Namun, bagi banyak pakar resusitasi, ini adalah langkah besar menuju masa depan di mana teknologi bisa menjadi jembatan antara hidup dan mati bagi mereka yang mengalami keadaan darurat medis secara sendirian.


Disadur dari EurekAlert - New smart technology in a wearable wristband may detect cardiac arrest.




Post a Comment

أحدث أقدم