Bermimpi ternyata tidak hanya terjadi saat tidur. Penelitian baru menemukan otak manusia bisa mengalami kondisi mirip mimpi bahkan ketika masih terjaga.
Ringkasan
- Penelitian baru menemukan manusia bisa mengalami kondisi mirip mimpi meski masih terjaga.
- Ilmuwan mengidentifikasi empat jenis kondisi mental yang muncul di antara sadar dan tidur.
- Temuan ini berpotensi membantu diagnosis gangguan tidur seperti insomnia paradoksal.
BANYAK orang menganggap mimpi adalah pengalaman yang hanya muncul ketika seseorang tidur pulas. Namun, hasil penelitian terbaru mengungkap hal berbeda.
Para peneliti dari Paris Brain Institute menunjukkan batas antara sadar dan tidur ternyata jauh lebih kabur dari yang dibayangkan.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Cell Reports itu menemukan bahwa manusia dapat mengalami kondisi mental mirip mimpi ketika masih dalam keadaan bangun.
Pengalaman tersebut bahkan meninggalkan pola aktivitas khusus di otak yang bisa diukur secara ilmiah.
Peneliti utama, Delphine Oudiette, menjelaskan bahwa terjaga tidak selalu berarti seseorang sepenuhnya sadar atau fokus pada lingkungan sekitarnya.
“Keadaan sadar bukan berarti seseorang selalu waspada, penuh perhatian, atau berpikir rasional,” jelasnya.
Menurut tim peneliti, sebenarnya terdapat spektrum panjang antara tidur dan sadar, termasuk kondisi seperti melamun atau “pikiran kosong”, di mana sebagian area otak bisa berada dalam mode mirip tidur.
Untuk mempelajari peralihan antara sadar dan tidur, para ilmuwan merekrut 92 peserta yang mudah tertidur siang dan mampu menceritakan isi pikirannya dengan detail.
Metode eksperimen ini terinspirasi dari kebiasaan penemu terkenal Thomas Edison.
Edison konon sering tidur sambil memegang benda berat. Ketika ia mulai tertidur, benda itu jatuh dan membangunkannya, sehingga ia bisa mengingat ide atau gambaran aneh yang muncul tepat di ambang tidur.
Dalam penelitian modern ini, peserta diminta memegang botol sambil berusaha tertidur.
Ketika botol terjatuh atau alarm berbunyi, mereka langsung diminta menjelaskan apa yang sedang mereka pikirkan dalam 10 detik terakhir.
Selama eksperimen berlangsung, aktivitas otak peserta dipantau menggunakan EEG, alat perekam gelombang otak.
Para peneliti kemudian memakai algoritma komputer untuk mengelompokkan berbagai jenis pengalaman mental yang muncul.
Hasilnya mengejutkan. Alih-alih hanya menemukan dua keadaan, sadar dan tidur, para peneliti justru mengidentifikasi empat jenis kondisi mental yang berbeda.
Kondisi pertama berupa kilatan gambar atau ingatan singkat yang muncul tiba-tiba tanpa kendali.
Kondisi kedua lebih berhubungan dengan dunia luar, misalnya mendengar suara sekitar atau masih sadar terhadap lingkungan.
Kondisi ketiga adalah yang paling aneh, pengalaman mirip mimpi.
Beberapa peserta mengaku melihat alien kecil, merasakan semut merayap di kulit, atau menyaksikan adegan yang berubah sangat cepat seperti dalam mimpi.
Sementara kondisi keempat berisi pikiran logis dan terstruktur, misalnya merencanakan jadwal besok atau memikirkan pekerjaan.
Yang paling menarik, keempat kondisi mental itu ternyata bisa muncul di semua tahap kesadaran, baik saat benar-benar bangun, mulai mengantuk, maupun sudah tertidur ringan.
Artinya, pikiran seperti mimpi bisa terjadi saat seseorang masih sadar. Sebaliknya, pemikiran logis juga masih dapat berlangsung ketika seseorang sedang tidur.
Salah satu peserta yang secara medis masih dianggap sadar mengaku melihat semut berjalan di tubuhnya dengan teka-teki silang di latar belakang.
Sebaliknya, peserta lain yang secara EEG sudah tertidur justru sedang sibuk merencanakan aktivitas esok hari.
Peneliti utama lain, Nicolas Decat, mengatakan bahwa isi pikiran manusia ternyata tidak mengikuti batas tegas antara tidur dan sadar.
Penelitian ini juga menemukan pola aktivitas otak yang khas ketika seseorang mengalami kondisi mirip mimpi.
Data EEG menunjukkan hubungan antara bagian depan dan belakang otak melemah selama pengalaman tersebut berlangsung. Padahal kedua area itu penting untuk berpikir logis dan memproses informasi visual.
Ketika koneksi ini melemah, otak tampaknya menjadi kurang mampu menyusun pikiran secara rasional. Akibatnya, muncullah pengalaman yang terasa aneh, acak, dan surealis seperti mimpi.
Temuan ini sejalan dengan sejumlah riset sebelumnya tentang fenomena “hypnagogia”, yaitu kondisi transisi antara sadar dan tidur yang sering memunculkan halusinasi ringan, suara aneh, atau gambaran visual spontan.
Kondisi ini sebenarnya cukup umum dialami manusia, terutama saat sangat lelah atau kurang tidur.
Menurut penelitian dari Harvard Medical School, fase hypnagogia juga sering dikaitkan dengan lonjakan kreativitas karena otak mulai berpikir lebih bebas dan tidak terlalu terikat logika sehari-hari.
Temuan baru ini juga berpotensi membantu diagnosis gangguan tidur, terutama insomnia paradoksal.
Pada kondisi tersebut, pasien merasa dirinya terjaga sepanjang malam meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan mereka sebenarnya tertidur.
Selama ini diagnosis gangguan tidur banyak bergantung pada pola gelombang otak. Masalahnya, pengalaman subjektif pasien sering kali tidak cocok dengan hasil alat medis.
Oudiette mengatakan isi pikiran seseorang mungkin dapat digunakan sebagai pendekatan baru dalam diagnosis insomnia.
Dengan memahami pengalaman mental pasien secara lebih mendalam, dokter bisa memperoleh gambaran yang lebih akurat tentang kualitas tidur seseorang.
Jika penelitian lanjutan berhasil dilakukan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti dokter dapat mendeteksi gangguan tidur bukan hanya dari gelombang otak, tetapi juga dari pola pengalaman mental yang dialami pasien selama malam hari.
Disadur dari The Debrief - Dream-Like Mental States Can Occur While Awake, Study Finds.

Posting Komentar