Alergi Air Itu Nyata: Bahkan Mandi Kilat pun Bisa Bikin Gatal dan Bentol

Bagi sebagian kecil orang di dunia, kontak beberapa menit dengan air saja bisa memicu bentol, gatal hebat, dan rasa perih di kulit.


Bagi sebagian kecil orang di dunia, kontak beberapa menit dengan air saja bisa memicu bentol, gatal hebat, dan rasa perih di kulit.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Aquagenic urticaria adalah alergi air langka yang menyebabkan bentol dan gatal saat kulit terkena air.
  • Penderita tetap bisa minum air, tetapi mandi, hujan, dan bahkan keringat dapat memicu reaksi kulit.
  • Hingga kini ilmuwan masih belum memahami pasti penyebab biologis kondisi tersebut.


BAGI segelintir orang, air justru menjadi “musuh” yang memicu reaksi menyiksa pada kulit. Kondisi langka ini dikenal sebagai aquagenic urticaria atau alergi air.


Meski terdengar seperti kisah fiksi ilmiah, kondisi tersebut benar-benar ada. 


Menurut dokter kulit Dr. Amir Bajoghli dari Georgetown University School of Medicine, penderita alergi air bahkan harus memikirkan ulang aktivitas sederhana seperti mandi, berenang, atau berolahraga.


“Bayangkan tidak bisa masuk ke kolam renang, danau, atau laut,” kata Bajoghli, dikutip dari Popular Science. Pasien yang pernah ia tangani bahkan harus mandi secepat mungkin agar gejalanya tidak terlalu parah.


Secara medis, alergi air disebut aquagenic urticaria, salah satu bentuk biduran atau urtikaria


Kasusnya sangat jarang. Literatur medis menyebut baru sekitar 100–150 kasus yang pernah dilaporkan di seluruh dunia. Namun para peneliti menduga jumlah sebenarnya bisa lebih banyak karena sering salah diagnosis.


Masalahnya, ketika seseorang datang ke dokter dengan keluhan bentol dan gatal, air hampir tidak pernah langsung dicurigai sebagai penyebab utama.


Menurut Bajoghli, banyak dokter umum bahkan belum pernah mendengar kondisi ini karena sangat langka. Akibatnya, pasien bisa bertahun-tahun bingung sebelum mengetahui penyebab sebenarnya.


Menariknya, ilmuwan menduga air sebenarnya bukan “musuh” langsung bagi tubuh. Yang diduga terjadi adalah kulit penderita bereaksi secara tidak normal saat terkena air.


Kontak air memicu sel imun bernama mast cells untuk melepaskan histamin, zat kimia yang biasanya muncul saat tubuh mengalami alergi. Histamin inilah yang menyebabkan bentol merah, gatal hebat, dan sensasi terbakar.


Gejalanya bisa muncul hanya dalam hitungan menit setelah kulit terkena air. Semakin lama paparan air, biasanya reaksi juga makin berat. Pada banyak kasus, bentol dapat bertahan sekitar 30 menit hingga satu jam.


Yang membuat kondisi ini terasa absurd adalah sumber airnya hampir tidak penting. Air hujan, air keran, air laut, bahkan air mata bisa memicu reaksi serupa.


Kabar baiknya, penderita aquagenic urticaria umumnya tetap bisa minum air seperti biasa. Reaksi alergi hanya muncul ketika air bersentuhan dengan kulit, bukan ketika masuk ke sistem pencernaan.


Menurut Bajoghli, saluran cerna tampaknya tidak memicu respons imun yang sama seperti kulit. Karena itu, hidrasi tubuh tetap aman. Namun ada tantangan lain: keringat.


Beberapa penderita ternyata juga mengalami reaksi ketika tubuh mereka berkeringat, misalnya setelah olahraga atau cuaca panas. Artinya, aktivitas fisik sederhana pun dapat berubah menjadi pengalaman tidak nyaman.


Hingga kini, ilmuwan masih belum benar-benar memahami zat apa di kulit yang sebenarnya memicu reaksi tersebut. Misteri inilah yang membuat pengobatan spesifik masih sulit dikembangkan.


Tes diagnosis alergi air sebenarnya cukup sederhana. Dokter biasanya menempelkan kompres basah pada kulit pasien dan menunggu reaksi muncul.


Jika pasien memang mengalami aquagenic urticaria, bentol dan gatal biasanya muncul dalam lima menit pertama. Namun pemeriksaan tetap dilakukan hingga sekitar 30 menit sebelum hasil dinyatakan negatif.


Karena kondisinya sangat jarang, diagnosis sering terlambat. Banyak pasien awalnya dikira memiliki eksim, alergi sabun, atau kulit sensitif biasa.


Bagi penderita alergi air, mandi bukan lagi aktivitas santai. Pasien yang ditangani Bajoghli, misalnya, hanya mandi sekitar dua menit agar gejalanya tetap ringan.


Jika mandi lebih lama, bentol dan gatal akan muncul lebih parah dan bertahan lebih lama.


Untuk membantu mengurangi reaksi, dokter biasanya meresepkan antihistamin


Menurut National Organization for Rare Disorders (NORD), terapi tambahan seperti krim pelindung kulit dan fototerapi kadang juga digunakan untuk membantu mengurangi gejala, meski hasilnya bervariasi pada tiap pasien.


Untungnya, alergi air jarang menyebabkan reaksi fatal seperti syok anafilaksis berat. Namun kondisi ini bersifat kronis dan biasanya tidak hilang begitu saja.


Para ilmuwan kini masih berusaha memahami apa sebenarnya “antigen” atau pemicu utama di balik alergi air. Jika penyebab biologisnya berhasil ditemukan, peluang menciptakan terapi yang lebih efektif akan jauh lebih besar.


Kasus alergi air juga menunjukkan betapa kompleksnya sistem imun manusia. Sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan ternyata, dalam kondisi tertentu, bisa berubah menjadi sumber penderitaan.


Disadur dari Popular Science - Yes, you can be allergic to water.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama