Sebuah model matematika terbaru memperingatkan risiko penyusutan populasi global hingga separuhnya pada 2064 akibat anjloknya kapasitas tampung Bumi.
Ringkasan
- Peneliti mengembangkan model matematika yang menyatukan 12.000 tahun pertumbuhan populasi manusia.
- Dalam skenario terburuk, populasi global bisa turun 50 persen pada 2064 jika daya dukung Bumi anjlok menjadi sekitar 2 miliar orang.
- Para ilmuwan menegaskan bahwa hasil ini bukan ramalan, melainkan simulasi untuk memahami risiko yang mungkin terjadi.
BAYANGKAN sebuah bus yang dirancang untuk kapasitas 50 penumpang, namun dipaksa melaju dengan kondisi sesak berisi 100 orang.
Lambat laun, mesin akan kepanasan, ban bisa pecah, dan sistem di dalam bus akan kolaps. Kurang lebih seperti itulah analogi yang sedang dihadapi oleh planet kita saat ini.
Demikian halnya dengan Bumi yang saat ini kapasitas tampung lestari atau carrying capacity mulai tergerus oleh sejumlah ancaman nyata.
Bukan hanya laju pertumbuhan penduduk yang terus meroket, ancaman seperti perubahan iklim ekstrem, hantaman pandemi global, konflik bersenjata, hingga krisis pangan, pun nyata adanya.
Kapasitas tampung ini merupakan batas maksimal jumlah manusia yang bisa hidup di Bumi secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.
Sebuah studi internasional terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Chaos, Solitons & Fractals memaparkan temuan yang cukup bikin merinding.
Jika sebuah katastrofe global terjadi hari ini dan memangkas kapasitas tampung Bumi secara drastis, kita akan menyaksikan penurunan populasi manusia yang sangat masif dalam beberapa dekade mendatang.
Dalam studi tersebut, tim peneliti merancang sebuah persamaan matematika baru yang mampu menyatukan data pertumbuhan populasi manusia selama 12.000 tahun terakhir.
Berdasarkan rumus simulasi tersebut, apabila kapasitas tampung Bumi tiba-tiba merosot hanya mampu menampung sekitar 2 miliar orang saat ini, maka populasi global diproyeksikan akan anjlok sebesar 50% pada tahun 2064.
Artinya, hanya dalam waktu sekitar 40 tahun, jumlah manusia di dunia yang awalnya diperkirakan akan menyentuh angka 8 hingga 10 miliar bisa menyusut drastis menjadi hanya 4 sampai 5 miliar jiwa saja.
Meskipun angkanya terdengar menyeramkan, kamu tidak perlu langsung panik mendirikan bungker bawah tanah.
"Kami menekankan bahwa ini bukanlah sebuah ramalan," ungkap Alessio Zaccone, salah satu penulis studi sekaligus profesor fisika dari University of Milan.
Menurutnya, ini adalah sebuah skenario simulasi matematis yang bertujuan menunjukkan betapa sensitifnya dinamika populasi manusia apabila dihadapkan pada perubahan lingkungan atau sosial yang terjadi secara mendadak.
Zaccone juga menambahkan bahwa tren lintasan populasi kita saat ini sebenarnya masih relatif stabil dan tidak mengindikasikan adanya kehancuran dalam waktu dekat.
Studi yang dikerjakan oleh Zaccone bersama mendiang koleganya, Kostya Trachenko, fisikawan teoretis dari Queen Mary University, London, sebenarnya mencoba meninjau kembali formula populer milik Heinz von Foerster yang dirilis tahun 1960.
Pada masa itu, Von Foerster mengalkulasikan bahwa populasi manusia akan melesat tanpa batas menuju titik tak terhingga (infinity) tepat pada tahun 2026 jika laju pertumbuhannya konstan seperti dua milenium terakhir.
Melalui model matematika yang diperbarui ini, para peneliti berhasil membuktikan bahwa rumus mereka bekerja dengan sangat akurat karena mampu mereplikasi data empiris sejarah manusia.
Rumus ini sukses menggambarkan fase pertumbuhan eksponensial yang padat (seperti ledakan populasi di era revolusi industri) hingga fase pertumbuhan melambat yang mulai terjadi sejak era 1970-an.
Selain memetakan risiko penurunan drastis di tahun 2064, hitungan matematika ini juga menunjukkan skenario sebaliknya.
Jika populasi manusia lepas kendali tanpa adanya rem dari kapasitas lingkungan, pertumbuhan manusia akan melesat menuju titik jenuh yang secara matematis tidak lagi berkelanjutan (singularity) pada tahun 2078.
Tentu saja, ambruknya kapasitas Bumi hingga hanya menyisakan ruang untuk 2 miliar orang adalah sebuah skenario terburuk yang kemungkinannya kecil untuk terjadi.
Namun, mengingat bumi saat ini menghadapi polusi ekstrem, ancaman perang nuklir, serta krisis iklim, skenario buruk ini tetap berada dalam ranah kemungkinan fisik.
Zaccone berharap model matematika terpadu ini bisa menjadi fondasi dan kerangka kerja bagi para pembuat kebijakan global untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan di masa depan.
Dengan memahami risiko ini, umat manusia diharapkan bisa lebih bijak dalam menjaga stabilitas lingkungan hidup, meningkatkan kerja sama global, dan mencegah bumi mencapai titik kritisnya.
Disadur dari Gizmodo - The Global Population Could Crash by 2064, New Model Suggests.

Posting Komentar