Puisi klasik Inferno karya Dante Alighieri ternyata menyimpan gambaran tentang geologi dan geofisika jauh sebelum ilmu modern berkembang.
Ringkasan
- Inferno karya Dante dinilai mengandung intuisi geologi dan geofisika sebelum ilmu modern berkembang.
- Jatuhnya Satan ke Bumi digambarkan mirip tumbukan asteroid raksasa yang membentuk kawah.
- Dante juga menulis sensasi terbang yang menyerupai konsep fisika modern tentang kerangka acuan inersia.
KARYA sastra klasik sering dianggap sekadar cerita moral atau simbol keagamaan. Namun, The Divine Comedy, khususnya bagian Inferno, mungkin juga menyimpan intuisi ilmiah yang mengejutkan.
Menurut profesor sastra Inggris dari Marshall University, Timothy Burbery, Dante tanpa sadar menggambarkan konsep geofisika dan geologi berabad-abad sebelum ilmu itu dipahami secara formal.
The Divine Comedy merupakan puisi naratif monumental karya Dante yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni Inferno (Neraka), Purgatorio (Api Penyucian), dan Paradiso (Surga).
Dalam kisah tersebut, Dante melakukan perjalanan imajiner melintasi alam setelah kematian dengan dipandu penyair Romawi kuno, Virgil.
Menurut Burbery, ada dua bagian dalam Inferno yang sangat menarik jika dilihat dari sudut pandang sains modern.
Terbang tanpa merasakan gerakan
Salah satu adegan paling unik muncul ketika Dante dan Virgil menunggangi makhluk hibrida bernama Geryon untuk berpindah lingkaran neraka.
Saat terbang, Dante mengatakan bahwa ia hampir tidak merasakan gerakan apa pun.
Bagi pembaca abad pertengahan, detail itu mungkin hanya unsur dramatik.
Namun dalam fisika modern, kondisi tersebut mirip dengan konsep inertial frame of reference atau kerangka acuan inersia, situasi ketika seseorang bergerak dengan kecepatan konstan sehingga tidak merasakan dirinya sedang bergerak.
Fenomena serupa sebenarnya juga dialami manusia modern saat berada di pesawat yang melaju stabil di udara.
Tanpa turbulensi atau percepatan mendadak, tubuh hampir tidak menyadari bahwa dirinya sedang bergerak ratusan kilometer per jam.
Burbery menilai Dante tidak mungkin memahami teori fisika tersebut secara ilmiah. Tetapi intuisi sastranya secara tak sengaja menggambarkan konsep yang baru dijelaskan fisikawan berabad-abad kemudian.
Satan sebagai “meteor” raksasa
Bagian yang lebih menarik muncul dalam penggambaran jatuhnya Satan dari langit ke Bumi.
Dalam Inferno, Satan digambarkan jatuh dari luar orbit Saturnus menuju Bumi dengan kecepatan luar biasa. Benturan itu menciptakan kawah raksasa yang menjadi Neraka, sementara tanah yang terpental membentuk Gunung Purgatori.
Jika dibaca dengan sudut pandang modern, gambaran tersebut mirip tumbukan asteroid raksasa.
Burbery menjelaskan bahwa Dante pada dasarnya membayangkan sebuah objek bermassa besar menghantam planet dan mengubah permukaan Bumi secara drastis.
Konsep seperti ini baru benar-benar dipahami sains modern setelah manusia mempelajari kawah tumbukan meteor dan asteroid.
Saat ini para ilmuwan mengetahui bahwa asteroid besar memang dapat mengubah iklim, membentuk kawah raksasa, bahkan memicu kepunahan massal.
Salah satu contoh paling terkenal adalah asteroid Chicxulub yang diyakini memusnahkan dinosaurus sekitar 66 juta tahun lalu.
Walaupun gambaran Dante jelas bersifat fantastis, Burbery menilai ide dasarnya sangat mirip dengan cara ilmuwan modern memahami dampak tumbukan benda langit terhadap Bumi.
Dante “mendahului” pengetahuan ilmiah
Yang membuat interpretasi ini semakin menarik adalah konteks zamannya. Pada abad ke-14, kebanyakan orang Eropa masih mengikuti pandangan kosmos Aristoteles.
Dalam model Aristotelian, langit dianggap sempurna dan tidak berubah. Meteor juga dipercaya sebagai fenomena atmosfer biasa, bukan batu luar angkasa.
Fakta bahwa Dante menggambarkan Satan sebagai objek yang datang dari luar angkasa terasa sangat tidak biasa. Padahal, asal-usul meteor sebagai benda ekstraterestrial baru dibuktikan secara ilmiah pada awal abad ke-19.
Burbery bahkan menyebut Dante sebagai satu-satunya penulis kuno yang benar-benar mencoba membayangkan “apa yang terjadi jika makhluk dari langit benar-benar menghantam Bumi.”
Ia menduga inspirasi Dante mungkin berasal dari gunung berapi seperti Mount Etna atau Mount Vesuvius.
Dante kemungkinan pernah mendengar atau melihat langsung lanskap vulkanik tersebut, lalu menggunakannya sebagai inspirasi visual untuk Neraka.
Sastra dan sains ternyata tidak sejauh itu
Interpretasi Burbery memperlihatkan bahwa sastra dan sains sering kali saling bersinggungan. Imajinasi seorang penulis dapat mendahului penjelasan ilmiah formal.
Dante tentu bukan ilmuwan modern. Ia menulis puisi religius penuh alegori spiritual.
Namun, lewat imajinasi tentang benda langit jatuh ke Bumi, perubahan lanskap, dan gerakan fisik di ruang angkasa, ia tanpa sadar menyentuh konsep-konsep yang kini dipelajari dalam geofisika dan astronomi.
Burbery mempresentasikan gagasannya dalam pertemuan European Geosciences Union di Wina dan berencana menerbitkan penelitian lengkap mengenai topik tersebut.
Disadur dari Popular Science - The unexpected science hiding in Dante’s ‘Inferno’

Posting Komentar