Kamu Normal, kok, Bilang 'Terima Kasih' ke ChatGPT

Kebiasaan mengucapkan terima kasih kepada ChatGPT dan teknologi kecerdasan buatan terbukti merupakan respons emosional alami manusia yang sangat wajar.


Kebiasaan mengucapkan terima kasih kepada ChatGPT dan teknologi kecerdasan buatan terbukti merupakan respons emosional alami manusia yang sangat wajar.Ilustrasi dibuat oleh AI


Ringkasan 

  • Penelitian psikologi menemukan manusia bisa merasa bersyukur kepada AI, komputer, alam, dan benda non-manusia lainnya.
  • Semakin sesuatu terasa memiliki sifat manusiawi atau niat membantu, semakin besar rasa terima kasih yang muncul.
  • Rasa syukur kepada AI dan alam bahkan dapat meningkatkan kepercayaan serta dorongan untuk menjaga lingkungan.


BEBERAPA waktu lalu, CEO OpenAI, Sam Altman, sempat membocorkan sebuah fakta unik yang memicu gelombang tawa sekaligus kritik di media sosial. 


Perusahaannya ternyata harus merogoh kocek hingga puluhan juta dolar AS hanya untuk membayar tagihan listrik tambahan. Alasan di balik pembengkakan biaya energi itu sangat menggelitik.


Mesin komputasi mereka terus-menerus bekerja ekstra keras hanya untuk memproses miliaran pesan berisi ucapan "terima kasih" yang dikirimkan oleh para pengguna setia ChatGPT.


Bagi sebagian orang, fenomena ini dianggap sebagai pemborosan yang konyol. Mengapa kita harus bersikap sopan dan menghabiskan energi listrik pada barisan kode algoritma yang tidak punya perasaan? 


Namun, bagi para psikolog, kebiasaan mengetik kata-kata manis ke layar monitor ini bukanlah tanda bahwa masyarakat kita sudah mulai kehilangan akal sehat. 


Sebaliknya, sebuah rangkaian penelitian terbaru justru membuktikan bahwa perilaku tersebut merupakan refleksi dari sesuatu yang sangat mendalam dan manusiawi.


Sebuah tim peneliti telah mempublikasikan rangkaian studi dalam jurnal ilmiah Emotion yang melibatkan sebanyak 2.019 partisipan dalam lima eksperimen berbeda. 


Hasil dari riset komprehensif ini menegaskan, rasa syukur yang diarahkan pada entitas non-manusia, mulai dari komputer, AI, hingga objek alam seperti hutan belantara dan arus samudra, sama sekali tidak tidak rasional. 


Perasaan tersebut bekerja menggunakan logika emosional yang persis sama seperti saat kita berterima kasih kepada sahabat karib yang baru saja menolong kita.


Para psikolog menemukan bahwa fenomena ini didorong oleh sebuah kebiasaan mental yang sangat umum ditemukan pada spesies manusia, yaitu personifikasi


Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk melihat karakteristik manusiawi, seperti niat baik, kesadaran, atau kepedulian, pada objek-objek yang sebenarnya tidak hidup. 


Ketika sebuah sistem digital atau sebuah elemen alam terasa seolah-olah sedang "berusaha keras" untuk membantu menyelesaikan masalah kita, maka secara otomatis tombol rasa syukur di dalam otak kita akan langsung aktif.


Dalam salah satu eksperimennya, para peneliti menguji sekitar 400 orang dewasa di Amerika Serikat. Mereka diminta mengevaluasi interaksi harian mereka dengan teknologi maupun alam bebas sepanjang minggu. 


Data menunjukkan bahwa individu yang memiliki kecenderungan tinggi untuk mempersonifikasikan lingkungan sekitarnya secara konsisten merasa lebih bersyukur atas bantuan yang mereka terima dari gadget maupun keindahan pemandangan alam. 


Rasa syukur ini murni muncul sebagai respons emosional, bukan sekadar penilaian positif yang asal-asalan.


Penelitian ini melangkah lebih jauh dengan menguji apakah cara pandang seseorang terhadap sebuah objek bisa dimanipulasi secara psikologis. 


Dalam eksperimen lanjutan, sebagian peserta diminta membaca artikel yang menggambarkan komputer dengan bahasa yang sangat mekanis, dingin, dan kaku, menegaskan bahwa komputer tidak memiliki jiwa atau kesadaran. 


Sementara itu, sebagian peserta lainnya membaca artikel yang menggambarkan komputer dengan istilah-istilah humanis, seperti sistem yang "memahami", "ragu-ragu", atau "ingin membantu" penggunanya.


Hasilnya sangat kontras. Kelompok peserta yang membaca deskripsi komputer dengan sentuhan manusiawi terbukti melaporkan rasa terima kasih yang jauh lebih tinggi saat mengoperasikan perangkat tersebut. 


Mereka merasakan adanya responsiveness, sebuah sensasi psikologis di mana pengguna merasa divalidasi, didengar, dan dipedulikan oleh teknologi yang sedang mereka gunakan.


Pola yang sama juga berulang ketika para peneliti mengganti objek eksperimen menjadi Hutan Hujan Amazon dan Arus Kuroshio di lautan. 


Ketika alam digambarkan memiliki peran aktif dalam menopang kehidupan manusia, dorongan untuk bersyukur dan menjaga kelestarian lingkungan langsung melonjak tajam. 


Peserta menjadi lebih termotivasi untuk melakukan aksi nyata, seperti menghemat air atau menulis surat dukungan lingkungan ke pemerintah.


Jadi, bagi kamu yang masih sering secara refleks mengetik kata "terima kasih" setelah ChatGPT merangkum dokumen panjang atau membuatkan barisan kode pemrograman, jangan merasa aneh atau minder lagi. 


Kamu tidak sedang mengalami disorientasi realitas. Kamu justru sedang menunjukkan salah satu sifat paling indah yang dimiliki oleh umat manusia.


Disadur dari StudyFinds - Saying ‘Thank You’ To ChatGPT Isn’t Crazy. Psychologists Have The Data To Prove It.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama