Makanan Tercemar Tewaskan Jutaan Orang Tiap Tahunnya: Laporan WHO

 Riset terbaru WHO menunjukkan penyakit akibat makanan tercemar membunuh 1,5 juta orang setiap tahun, jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.


Riset terbaru WHO menunjukkan penyakit akibat makanan tercemar membunuh 1,5 juta orang setiap tahun, jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • WHO memperkirakan 866 juta orang jatuh sakit akibat makanan terkontaminasi pada 2021, dengan 1,52 juta kematian.
  • Anak-anak di bawah usia lima tahun menyumbang hampir sepertiga kasus penyakit bawaan makanan di dunia.
  • Kontaminasi logam beracun seperti arsenik dan timbal menjadi penyebab utama kematian terkait makanan.


PERNAHKAH kamu bayangkan, makanan yang seharusnya mengisi energi justru menjadi mesin pembunuh yang senyap? Laporan terbaru dari WHO membawa kabar yang cukup bikin merinding.


Ternyata, jumlah orang yang jatuh sakit dan meninggal akibat mengonsumsi makanan yang tercemar jauh lebih banyak daripada yang pernah kita duga sebelumnya.


Data yang dirilis WHO dalam jurnal The Lancet Global Health ini memberikan gambaran yang lebih utuh sekaligus mengkhawatirkan mengenai beban penyakit bawaan makanan (foodborne disease) di skala global.


WHO mencatat bahwa bahaya mikrobial (kuman) dan kontaminasi zat kimia telah menginfeksi ratusan juta orang dan merenggut nyawa jutaan lainnya.


Padahal, sebagian besar dari kasus ini sebenarnya bisa dicegah jika akses sanitasi dan layanan kesehatan kita lebih mumpuni.


Jika kita menengok ke belakang, pada tahun 2015 WHO sempat memperkirakan, penyakit bawaan makanan hanya menyerang sekitar 10 persen populasi dunia dan membunuh sekitar 420.000 orang per tahun.


Namun, sejak awal para pejabat kesehatan sudah menduga angka itu adalah "fenomena gunung es" alias jauh di bawah angka aslinya karena keterbatasan data riset saat itu.


Dalam laporan teranyar ini, para peneliti membedah data dari 194 negara dalam rentang waktu dari tahun 2000 hingga 2021.


Jenis penyebab penyakit yang dilacak pun bertambah luas, dari yang tadinya hanya 31 sumber di tahun 2015, kini menjadi 42 sumber.


Beberapa ancaman baru yang dimasukkan ke dalam radar pelacakan meliputi kontaminasi logam berat, rotavirus, hingga parasit Trypanosoma cruzi.


Perlu diketahui, Trypanosoma cruzi merupakan penyebab penyakit Chagas yang bisa mencemari makanan melalui hewan yang terinfeksi).


Hasilnya mengejutkan. Pada tahun 2021 saja, ada sekitar 866 juta orang di seluruh dunia yang menderita penyakit akibat makanan, dan sebanyak 1,52 juta orang di antaranya berakhir dengan kematian.


Tak hanya merenggut nyawa, kondisi ini juga memicu kerugian finansial global yang sangat masif, yaitu berkisar 647 miliar dolar AS (sekitar Rp 10.000 triliun lebih) akibat hilangnya produktivitas kerja masyarakat.


Dari total ratusan juta kasus tersebut, mayoritas (sekitar 860 juta kasus) dipicu oleh serangan kuman seperti bakteri dan virus. Hal yang paling menyedihkan adalah dampaknya terhadap anak-anak.


Meski populasi balita di dunia hanya sekitar 9 persen, mereka justru menyumbang hampir sepertiga dari seluruh total kasus keracunan makanan global.


Sistem imun yang belum matang membuat tubuh mungil mereka sangat rentan.


Di sisi lain, jika bicara soal kasus kematian, pelakunya justru didominasi oleh zat non-biologis. Lebih dari satu juta kematian akibat makanan ternyata berkaitan erat dengan kontaminasi logam berat.


Arsenik anorganik memegang rekor tertinggi dengan menyumbang 42 persen kematian, disusul oleh timbal sebesar 31 persen.


Kedua zat kimia berbahaya ini biasanya masuk ke rantai makanan lewat air atau tanah yang tercemar, dan dalam jangka panjang bisa memicu penyakit jantung hingga kanker.


"Makanan yang tidak aman selalu menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar, tetapi sampai sekarang kita kekurangan gambaran besar tentang besarnya kerugian manusia dan ekonomi yang ditimbulkannya.


"Perkiraan baru ini mengubah hal tersebut," ungkap Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.


Penyakit bawaan makanan sebenarnya bisa terjadi di mana saja, bahkan di negara maju sekalipun.


Namun, laporan ini menggarisbawahi bahwa wilayah Afrika dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) adalah yang paling rapuh.


Faktanya, hampir 75 persen kasus penyakit dan 60 persen angka kematian global terjadi di kedua wilayah ini.


Beberapa faktor yang berkontribusi meliputi keterbatasan akses terhadap air bersih, sanitasi yang belum memadai, sistem pengawasan pangan yang lemah, serta akses layanan kesehatan yang tidak merata.


Namun demikian, WHO menegaskan bahwa tidak ada negara yang benar-benar bebas dari ancaman penyakit bawaan makanan.


Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, norovirus, salah satu penyebab utama keracunan makanan, diperkirakan menginfeksi sekitar 20 juta orang setiap tahun.


Mengapa kondisinya bisa seburuk ini?


Senior penulis laporan yang juga menjabat sebagai petugas teknis WHO untuk keamanan pangan, Yuki Minato, menjelaskan bahwa situasinya kini kian diperparah oleh tantangan zaman modern.


Perubahan iklim global memicu cuaca ekstrem yang meningkatkan risiko kontaminasi bakteri pada bahan pangan.


Ditambah lagi, masalah resistensi antimikroba (kebal obat) membuat infeksi bakteri pada pasien menjadi jauh lebih sulit untuk diobati oleh dokter.


Para peneliti juga mengingatkan bahwa ancaman ini berpotensi semakin memburuk akibat perubahan iklim. Suhu yang lebih tinggi dan cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba serta kontaminasi pangan.


Selain itu, meningkatnya resistensi antibiotik membuat infeksi yang berasal dari makanan menjadi lebih sulit diobati.


Karena itu, WHO mendorong negara-negara untuk memperkuat sistem keamanan pangan, meningkatkan pengawasan terhadap rantai produksi makanan, memperbaiki sanitasi.


Minato menegaskan bahwa dunia tidak bisa lagi memakai cara-cara lama yang terpisah.


WHO mendesak negara-negara untuk mengadopsi pendekatan One Health, sebuah konsep yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan dalam satu ekosistem yang saling terkait.


Menunda perbaikan sistem keamanan pangan sama saja dengan menumpuk korban jiwa baru.


Disadur dari Gizmodo - Tainted Food Is Killing Far More People Than Previously Thought, WHO Says.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama