Menurunkan berat badan dengan cepat ternyata tidak selalu berujung “balik gemuk”, bahkan bisa lebih efektif bertahan hingga setahun kemudian.
Ringkasan
- Penelitian terbaru membantah mitos lama dan membuktikan bahwa menurunkan berat badan secara cepat justru lebih efektif menjaga tubuh tetap ideal dalam jangka panjang dibanding metode perlahan.
- Peserta program diet cepat berhasil memangkas berat badan rata-rata 14,4% dalam setahun, jauh melampaui kelompok diet bertahap yang hanya mencapai 10,5%.
- Penurunan berat badan yang kilat dan terstruktur terbukti sukses menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, hingga gangguan jantung.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan pengganti saran medis atau diet profesional.
SELAMA bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa menurunkan berat badan secara perlahan adalah cara paling sehat dan aman.
Diet cepat sering dicap berbahaya, menyiksa, dan rentan membuat berat badan kembali naik. Namun penelitian terbaru dari para ilmuwan Norwegia justru menggoyang anggapan lama tersebut.
Tim yang dipimpin oleh Line Kristin Johnson dari Vestfold Hospital Trust, Norwegia, mempresentasikan hasil riset mereka dalam ajang European Congress on Obesity 2026.
Para ilmuwan menemukan, program penurunan berat badan cepat atau rapid weight loss (RWL) mampu menghasilkan penurunan berat badan lebih besar sekaligus lebih bertahan.
Hal tersebut bila dibandingkan dengan metode bertahap atau gradual weight loss (GWL).
Studi dilakukan terhadap 284 orang dewasa dengan obesitas, mayoritas perempuan, yang dibagi ke dalam dua kelompok diet berbeda selama 16 minggu.
Kelompok pertama menjalani program penurunan berat badan cepat dengan pola makan ketat di bawah 1.000 kalori per hari pada fase awal.
Sementara kelompok kedua menjalani pengurangan kalori lebih moderat, rata-rata sekitar 1.400 kalori per hari.
Hasilnya cukup mencolok. Dalam 16 minggu pertama, kelompok diet cepat kehilangan rata-rata 12,9 persen berat tubuh mereka. Sebaliknya, kelompok diet bertahap hanya turun sekitar 8,1 persen.
Menariknya, perbedaan itu tetap terlihat bahkan setelah satu tahun.
Setelah 52 minggu, peserta kelompok diet cepat rata-rata mempertahankan penurunan berat badan sebesar 14,4 persen. Kelompok diet perlahan berada di angka sekitar 10,5 persen.
Yang paling mengejutkan, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa penurunan berat badan cepat membuat peserta lebih mudah mengalami efek “yo-yo” atau berat badan kembali naik drastis.
“Temuan kami menantang keyakinan lama bahwa penurunan berat badan harus lambat agar tidak kembali naik,” kata Johnson dalam keterangan resmi yang dimuat di Scimex.
Penelitian ini bukan cuma menghitung kilogram yang hilang. Para ilmuwan juga mengukur target kesehatan yang dianggap penting untuk menurunkan risiko penyakit terkait obesitas.
Peserta yang berhasil mencapai indeks massa tubuh (BMI) di bawah 27 kg/m² dan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan di bawah 0,53 dianggap memiliki risiko lebih rendah terhadap diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga osteoartritis.
Dalam kelompok diet cepat, sekitar 28 persen peserta berhasil mencapai target BMI sehat setelah satu tahun. Pada kelompok diet perlahan, angkanya hanya sekitar 10 persen.
Perbedaan juga terlihat pada ukuran lingkar pinggang. Sekitar 33 persen peserta diet cepat mencapai target rasio pinggang ideal, dibanding 18 persen pada kelompok diet bertahap.
Para peserta tidak hanya diberi daftar makanan, tetapi juga pendampingan rutin.
Setelah fase diet awal selesai, kedua kelompok mengikuti program pencegahan kenaikan berat badan selama delapan bulan berikutnya. Mereka mendapat sesi kelompok, webinar, hingga konsultasi lewat telepon.
Menu makanan yang digunakan pun tetap mengikuti rekomendasi gizi sehat Norwegia: sayuran, buah, gandum utuh, ikan, telur, susu rendah lemak, serta protein tanpa lemak.
Konsumsi gula tambahan dan lemak jenuh dibatasi.
Meski hasil penelitian ini terdengar menggoda, para peneliti menekankan bahwa program diet cepat dalam studi dilakukan secara terstruktur dan dipantau profesional.
Artinya, hasil ini bukan pembenaran untuk menjalani diet ekstrem sembarangan seperti hanya minum air putih atau melewatkan makan berhari-hari.
Beberapa ahli gizi sebelumnya memang memperingatkan bahwa diet terlalu agresif dapat menyebabkan kehilangan massa otot, kekurangan nutrisi, hingga gangguan metabolisme jika dilakukan tanpa pengawasan.
Mayo Clinic misalnya menyebut bahwa penurunan berat badan sehat umumnya berkisar 0,5–1 kilogram per minggu, terutama untuk menjaga kestabilan nutrisi dan massa otot.
Namun lembaga tersebut juga mengakui bahwa program rendah kalori tertentu dapat efektif bila diawasi tenaga medis.
Di sisi lain, penelitian baru ini muncul di tengah meningkatnya kasus obesitas global.
Menurut World Health Organization, angka obesitas dunia terus melonjak dalam beberapa dekade terakhir dan berkaitan erat dengan penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung.
Para peneliti menilai hasil studi ini penting karena tidak semua orang memiliki akses pada obat penurun berat badan mahal atau operasi bariatrik.
Program diet komersial yang lebih terjangkau bisa menjadi alternatif realistis jika dirancang dengan benar.
Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa keberhasilan jangka panjang tidak hanya bergantung pada kecepatan menurunkan berat badan, tetapi juga pola hidup setelahnya.
Kualitas makanan, aktivitas fisik, tidur, dan konsistensi kebiasaan sehari-hari, sangat memengaruhi hasil diet.
Disadur dari Scimex – Fast weight loss might be better than slow at keeping the kilos off.

Posting Komentar