Konsumsi Telur Tiap Minggu Bikin Otak Lebih Tangguh

Rutin makan telur dikaitkan dengan penurunan risiko Alzheimer hingga 27 persen pada lansia dalam studi jangka panjang.


Rutin makan telur dikaitkan dengan penurunan risiko Alzheimer hingga 27 persen pada lansia dalam studi jangka panjang.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Konsumsi telur rutin dikaitkan dengan penurunan risiko Alzheimer hingga 27%.
  • Nutrisi seperti kolin, DHA, dan vitamin B12 dalam telur berperan penting bagi kesehatan otak.
  • Studi ini bersifat observasional, sehingga belum membuktikan hubungan sebab-akibat.


Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan pengganti saran medis atau diet profesional.


SELAMA bertahun-tahun, pamor telur sering naik-turun. Kadang dipuji sebagai sumber protein, kadang disalahkan karena kolesterol. 


Namun riset terbaru yang dipublikasikan di The Journal of Nutrition memberi sudut pandang baru: makan telur secara rutin ternyata berkaitan dengan risiko lebih rendah terkena Alzheimer’s disease.


Penelitian ini melacak hampir 40.000 orang dewasa berusia lanjut selama lebih dari 15 tahun. Hasilnya cukup mencolok. 


Mereka yang mengonsumsi telur lima kali atau lebih per minggu memiliki risiko 27% lebih rendah terkena Alzheimer dibanding mereka yang jarang atau tidak pernah makan telur.


Studi ini menggunakan data dari Adventist Health Study-2, proyek besar yang melibatkan puluhan ribu peserta dengan pola makan beragam—mulai dari vegan ketat hingga omnivora. 


Para peneliti menghubungkan data pola makan dengan catatan medis resmi, sehingga diagnosis Alzheimer tidak hanya berdasarkan pengakuan subjektif, tetapi benar-benar terkonfirmasi secara klinis.


Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan frekuensi konsumsi telur—dari hampir tidak pernah hingga lebih dari lima kali seminggu. 


Hasilnya menunjukkan tren yang konsisten: semakin sering makan telur, semakin rendah risiko Alzheimer. Bahkan konsumsi ringan (1–3 kali per bulan) sudah dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 17%.


Menariknya, ketika peneliti melihat data secara kontinu, mereka menemukan bahwa orang yang sama sekali tidak makan telur justru memiliki risiko 22% lebih tinggi. 


Ini membalik narasi umum: bukan hanya telur yang “membantu”, tapi menghindarinya bisa jadi ada konsekuensinya.


Lalu, apa yang membuat telur begitu spesial?


Telur mengandung berbagai nutrisi penting bagi otak. Salah satunya adalah kolin, zat yang berperan dalam pembentukan neurotransmitter penting untuk memori. 


Selain itu, telur juga kaya akan DHA (asam lemak omega-3), yang membantu menjaga struktur sel otak tetap sehat.


Tak hanya itu, kuning telur mengandung vitamin B12—sekitar 25% kebutuhan harian—yang berperan dalam berbagai proses biologis terkait fungsi saraf. 


Kekurangan B12 diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif.


Beberapa pigmen dalam telur juga diketahui menumpuk di jaringan otak dan membantu melindungi sel dari kerusakan. 


Menariknya, kekurangan kolin dan DHA memang ditemukan pada otak penderita Alzheimer, sehingga ada dasar biologis yang mendukung temuan ini.


Namun, penting dicatat: ini adalah studi observasional. Artinya, penelitian ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Bisa saja ada faktor lain yang memengaruhi—misalnya gaya hidup keseluruhan atau pola makan lain yang tidak sepenuhnya terkontrol.


Peneliti juga mengakui beberapa keterbatasan. Data pola makan hanya dikumpulkan di awal penelitian, sehingga perubahan kebiasaan selama bertahun-tahun tidak sepenuhnya tercatat. 


Selain itu, sebagian besar peserta berasal dari komunitas dengan gaya hidup relatif sehat (jarang merokok dan minum alkohol), sehingga hasilnya mungkin berbeda jika diterapkan pada populasi umum.


Meski begitu, dengan ukuran sampel besar, durasi panjang, dan data medis yang solid, studi ini menjadi salah satu yang paling kuat dalam mengkaji hubungan antara telur dan kesehatan otak.


Dalam konteks global, temuan ini cukup penting. Alzheimer adalah salah satu penyebab kematian utama dan diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi lansia. 


Karena belum ada obat yang benar-benar efektif, pencegahan melalui gaya hidup—termasuk pola makan—menjadi fokus utama.


Selain telur, penelitian lain juga menunjukkan bahwa pola makan seperti diet Mediterania—yang kaya sayur, ikan, dan lemak sehat—berkaitan dengan penurunan risiko penurunan kognitif. 


Artinya, telur bisa menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, bukan satu-satunya solusi.


Jadi, apakah kita harus langsung makan telur tiap hari? 


Tidak sesederhana itu. Kuncinya tetap pada keseimbangan. Tapi satu hal mulai jelas: telur mungkin bukan musuh seperti yang dulu ditakuti—justru bisa jadi sekutu bagi kesehatan otak.


Disadur dari  StudyFinds - Eating Eggs Regularly May Significantly Slash Alzheimer’s Risk.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama