Kuburan Misterius di Gurun Sudan Ubah Pemahaman tentang Awal Peradaban Mesir

Ratusan kuburan massal kuno di gurun timur Sungai Nil mengungkap masyarakat nomaden maju sebelum lahirnya Mesir kuno.


Ratusan kuburan massal kuno di gurun timur Sungai Nil mengungkap masyarakat nomaden maju sebelum lahirnya Mesir kuno.Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto Cooper dkk/Museo Castiglioni


Ringkasan

  • Arkeolog menemukan lebih dari 280 makam massal kuno berbentuk lingkaran di gurun Sudan timur.
  • Situs tersebut diperkirakan berasal dari 4000–3000 SM, sebelum lahirnya Mesir kuno.
  • Penemuan ini menunjukkan masyarakat nomaden Sahara ternyata sangat terorganisasi dan memiliki budaya kompleks.


PENEMUAN terbaru di gurun Sudan menunjukkan bahwa jauh sebelum Mesir kuno berdiri, kawasan itu sudah dihuni komunitas nomaden yang sangat terorganisasi.


Selama ini, banyak orang mengira sejarah besar di Afrika Utara hanya berkisar pada piramida, para firaun, dan Sungai Nil.


Para arkeolog menemukan lebih dari 280 situs pemakaman massal berbentuk lingkaran di Gurun Atbai, wilayah tandus berbatu yang membentang di antara Sungai Nil dan Laut Merah. 


Temuan mereka dipublikasikan di jurnal African Archaeological Review.


Yang membuat para ilmuwan tercengang bukan hanya jumlah makamnya, tetapi juga ukurannya yang monumental dan pola penguburannya yang rumit.


Sebagian situs memiliki diameter hingga 80 meter. Di dalam lingkaran batu besar itu, ditemukan tulang manusia dan hewan ternak yang disusun mengelilingi satu sosok utama di bagian tengah. 


Para peneliti menduga sosok tersebut adalah tokoh penting dalam komunitas nomaden zaman batu itu.


Penelitian dipimpin oleh Julien Cooper dari Macquarie University bersama tim dari Université Lumière Lyon 2


Mereka menggunakan citra satelit dari Google Earth dan sumber terbuka lainnya untuk memetakan wilayah gurun yang sangat sulit dijangkau.


Selama enam bulan, tim menelusuri gurun berbatu di Sudan timur laut dan berhasil mengidentifikasi sekitar 260 situs baru yang sebelumnya tidak diketahui. Lokasinya tersebar sepanjang hampir 1.000 kilometer.


Menurut perkiraan para peneliti, makam-makam itu dibangun antara 4000 hingga 3000 sebelum Masehi, periode yang bahkan lebih tua dibanding awal munculnya kerajaan Mesir kuno.


Penemuan ini memperkuat dugaan bahwa masyarakat nomaden Sahara saat itu bukan kelompok pengembara sederhana. 


Mereka tampaknya memiliki struktur sosial, tradisi ritual, dan kemampuan organisasi yang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini diperkirakan.


Dalam salah satu situs terkenal bernama Wadi Khashab, para arkeolog sebelumnya menemukan pola pemakaman bertingkat yang berlangsung selama beberapa generasi. 


Susunan kuburannya membentuk lingkaran konsentris seperti cincin pada batang pohon.


Analisis karbon terhadap tembikar di lokasi tersebut menunjukkan situs itu digunakan selama ribuan tahun, mulai sekitar 5000 SM hingga 3000 SM. 


Menariknya, tembikar tambahan dari sekitar 2000 SM menunjukkan pengaruh budaya Nubia Tengah, bukan Mesir.


Hal itu menunjukkan bahwa komunitas gurun ini berkembang dengan identitas budaya sendiri dan tidak terlalu terpengaruh oleh peradaban agraris Mesir yang mulai tumbuh di tepi Sungai Nil.


Para peneliti menyebut kelompok ini sebagai “elite nomaden” karena kemungkinan adanya tokoh-tokoh berstatus tinggi yang dihormati dalam pemakaman besar tersebut.


Meski begitu, para ilmuwan masih berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Sebab, sebagian besar situs baru hanya terdeteksi lewat citra satelit dan belum digali langsung.


Teknologi penginderaan jarak jauh memang kini menjadi alat penting dalam arkeologi modern. 


Dengan bantuan satelit, ilmuwan dapat menemukan pola bangunan kuno, jalan purba, hingga kota tersembunyi tanpa perlu langsung menggali tanah.


Metode ini juga pernah digunakan untuk menemukan struktur kuno di Amazon, gurun Arab, hingga reruntuhan Romawi yang tertutup hutan.


Namun penelitian di Sudan menghadapi tantangan besar. Konflik sipil yang masih berlangsung membuat survei lapangan hampir mustahil dilakukan.


Selain perang, situs-situs kuno itu kini juga terancam aktivitas penambangan emas ilegal


Banyak kelompok penambang menggunakan merkuri dan sianida secara sembarangan untuk mengekstraksi emas di wilayah gurun tersebut.


Akibatnya, sejumlah makam kuno mulai rusak, dijarah, bahkan dihancurkan hanya dalam hitungan hari.


Para arkeolog menyayangkan situasi itu karena situs-situs tersebut telah bertahan selama ribuan tahun, tetapi kini bisa lenyap sebelum sempat dipelajari lebih jauh.


Penemuan ini sekaligus mengubah cara pandang tentang sejarah Afrika Timur Laut. 


Selama ini, perhatian dunia terlalu terfokus pada Mesir kuno, padahal masyarakat gurun di sekitarnya ternyata juga memainkan peran penting dalam perkembangan awal peradaban manusia.


Alih-alih sekadar wilayah kosong di pinggiran Sungai Nil, Gurun Atbai kini mulai dipandang sebagai salah satu pusat penting kehidupan manusia prasejarah.


Disadur dari Gizmodo - Circular Mass Graves East of the Nile Are Rewriting Egypt’s Prehistory.



Post a Comment

أحدث أقدم