Aspal dan Gedung Kota Jadi Penyebab Badai Malam Hari Makin Parah

Kawasan perkotaan terbukti dapat memperparah atau justru melemahkan intensitas badai, tergantung pada karakteristik dan jenis badai yang melintas.


Kawasan perkotaan terbukti dapat memperparah atau justru melemahkan intensitas badai, tergantung pada karakteristik dan jenis badai yang melintas.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Penelitian menunjukkan kota bisa memperkuat atau melemahkan hujan tergantung jenis badainya.
  • Badai petir lokal cenderung lebih sering dan lebih kuat di wilayah perkotaan karena efek panas kota.
  • Sebaliknya, badai front dingin justru melemah saat melintasi kota akibat gangguan aliran udara dan turbulensi dari bangunan.


HUTAN beton di kota besar ternyata juga bisa mendikte cuaca. Hasil  penelitian terbut dalam jurnal Nature mengungkapkan, area perkotaan punya kemampuan "ajaib" nan mengerikan: memanipulasi badai.


Para ilmuwan dari Texas A&M University menganalisis lebih dari 40.000 kasus badai musim panas yang terjadi sepanjang tahun 1995 hingga 2017 di empat kota besar Texas, Amerika Serikat.


Empat koota itu adalah Dallas–Fort Worth, Austin, San Antonio, dan Houston. 


Menggunakan radar cuaca tiga dimensi, mereka melacak bagaimana badai terbentuk, bergerak, hingga akhirnya punah. 


Hasilnya? Kota-kota ini terbukti memperkuat beberapa jenis badai, tetapi di sisi lain juga sanggup menjinakkan jenis badai yang berbeda.


"Setiap badai digerakkan oleh proses fisik yang berbeda," kata Dr. John Nielsen-Gammon, ilmuwan atmosfer dari Texas A&M University sekaligus klimatolog negara bagian Texas. 


Menurutnya, kesimpulan umum yang menyebut kota selalu bikin cuaca "lebih basah" atau "lebih kering" adalah kekeliruan besar karena mengabaikan sifat alami badai yang dinamis.


Dampak paling konsisten dan terasa nyata terjadi pada jenis badai petir berskala kecil, jenis badai yang sering mendadak muncul saat siang bolong di musim panas. 


Di empat kota yang diteliti, badai lokal ini terjadi 7% hingga 31% lebih sering di atas area perkotaan ketimbang di kawasan pedesaan sekitarnya.


Mengapa bisa begitu? Biang keroknya adalah fenomena Urban Heat Island (Pulau Panas Perkotaan). Kota-kota besar menyimpan panas matahari di dalam aspal dan beton bangunan. 


Efek ini makin menggila pada malam hari. Ketika pedesaan mulai mendingin setelah matahari terbenam, kota-kota besar tetap gerah dan melepaskan hawa panas ke atmosfer. 


Kehangatan inilah yang menjadi "bensin" gratis bagi badai untuk tumbuh lebih tinggi, lebih padat, dan berputar lebih intens semalaman.


Selain badai petir kecil, badai isolasi berskala besar juga dilaporkan menguat di atas wilayah perkotaan. 


Mengingat sebagian besar permukaan kota kedap air, badai yang menguat ini otomatis memicu risiko banjir bandang perkotaan yang jauh lebih tinggi.


Menariknya, kota tidak selalu ramah pada badai. Ketika berhadapan dengan badai front dingin (cold frontal storms), sistem hujan raksasa yang digerakkan oleh perbedaan suhu massa udara, kota justru bertindak seperti perisai.


Saat badai front dingin melintasi wilayah perkotaan, intensitas curah hujannya mendadak merosot sekitar 16% hingga 28%. 


Peneliti menjelaskan, kombinasi hawa panas kota dan "kekasaran" lanskap perkotaan (gangguan aliran angin akibat kepungan gedung-gedung tinggi) berhasil mengacak-acak struktur bagian bawah badai, sehingga kekuatannya gembos di tengah jalan.


Sementara itu, untuk sistem cuaca yang jauh lebih masif seperti badai tropis dan badai tektonik, efek perkotaan cenderung minim. 


Badai raksasa ini digerakkan oleh suhu panas samudra dan pola angin global, sehingga arsitektur kota hanya mampu menggeser sedikit struktur hujan ke lapisan atmosfer yang lebih rendah, tanpa mengubah frekuensi kejadiannya secara drastis.


Dr. Nielsen-Gammon mengingatkan para perencana tata kota agar berhenti mengandalkan statistik rata-rata curah hujan jangka panjang dalam merancang sistem drainase. 


Desain konvensional seperti itu kerap kecolongan karena gagal mengantisipasi badai durasi pendek dengan intensitas tinggi yang justru kerap dipicu oleh aktivitas kota itu sendiri.


Memahami jenis badai apa saja yang bisa diperparah oleh lingkungan perkotaan menjadi kunci penting agar kota-kota masa depan dapat membangun infrastruktur berbasis alam yang lebih tangguh dan adaptif.


Disadur dari Phys.org - Cities change storms, but the impacts depend on the storm itself.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama