Mengirim Pesan ke Masa Lalu via Lubang Hitam Tak Mustahil, Kata Ilmuwan

Fisika kuantum dan lubang hitam mungkin memungkinkan pesan dikirim ke masa lalu, mirip adegan film Interstellar.


Fisika kuantum dan lubang hitam mungkin memungkinkan pesan dikirim ke masa lalu, mirip adegan film Interstellar.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan


MENGIRIM pesan ke masa lalu, kedengarannya seperti cerita film fiksi ilmiah, tetapi sejumlah fisikawan kini mulai serius membahas kemungkinan tersebut secara ilmiah.


Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan mengeksplorasi kemungkinan komunikasi retrokausal, pengiriman informasi ke masa lalu, menggunakan konsep lubang hitam dan keterikatan kuantum (quantum entanglement).


Gagasan ini mengingatkan banyak orang pada film Interstellar karya Christopher Nolan.


Dalam film itu, karakter yang diperankan Matthew McConaughey berhasil mengirim pesan kepada putrinya dari masa depan demi menyelamatkan umat manusia.


Bedanya, kali ini para fisikawan mencoba mencari apakah ide tersebut punya dasar matematika yang masuk akal.


Penelitian dilakukan oleh Kaiyuan Ji dari Cornell University bersama Mark Wilde dan Seth Lloyd dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).


Makalah mereka telah diterima untuk dipublikasikan di jurnal Physical Review Letters dan versi pra-publikasinya tersedia di arXiv.


Untuk memahami ide ini, kita harus masuk ke wilayah relativitas umum dan mekanika kuantum, dua cabang fisika paling rumit dalam sains modern.


Teori relativitas umum yang dikembangkan Albert Einstein menunjukkan bahwa gravitasi dapat memengaruhi waktu.


Dalam kondisi ekstrem, seperti di sekitar lubang hitam, ruang dan waktu bisa melengkung sangat parah hingga membentuk apa yang disebut closed timelike curves atau CTC.


Secara teori, CTC memungkinkan suatu objek kembali ke masa lalu dan berinteraksi dengan versi dirinya sendiri.


Masalahnya, konsep ini memunculkan paradoks terkenal seperti grandfather paradox.


Misalnya, jika seseorang kembali ke masa lalu lalu membunuh kakeknya sendiri sebelum orang tuanya lahir, maka ia seharusnya tidak pernah ada. Tetapi jika ia tidak pernah ada, siapa yang membunuh sang kakek?


Paradoks semacam ini membuat banyak ilmuwan skeptis terhadap perjalanan waktu.


Namun penelitian baru ini tidak fokus pada manusia yang bepergian ke masa lalu, melainkan hanya pada informasi.


Menurut para peneliti, mungkin tubuh manusia tidak akan selamat mendekati lubang hitam karena gaya gravitasinya terlalu ekstrem. Tetapi informasi kuantum bisa saja mampu melakukannya.


Kunci utama konsep ini adalah quantum entanglement.


Fenomena ini memungkinkan dua partikel saling terhubung sehingga perubahan pada satu partikel langsung memengaruhi partikel lain, bahkan jika terpisah sangat jauh.


Fenomena ini sudah berkali-kali dibuktikan lewat eksperimen laboratorium.


Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan model yang disebut post-selected closed timelike curve atau P-CTC. Secara sederhana, model ini memungkinkan suatu kejadian di masa depan memengaruhi kondisi di masa lalu.


Mereka juga membahas masalah noise atau gangguan dalam komunikasi waktu. Noise dapat mengacaukan pesan sehingga informasi yang diterima menjadi tidak jelas.


Di sinilah analogi Interstellar muncul.


Dalam film itu, sang ayah mengetahui bagaimana putrinya menerjemahkan pesan yang ia kirim. Dengan demikian, ia dapat menyesuaikan cara pengiriman agar pesan tetap terbaca dengan benar meski melewati sistem yang kacau.


Menurut para peneliti, proses itu membentuk semacam “lingkaran sebab-akibat” (causal loop).


Pesan dari masa depan memengaruhi masa lalu, yang kemudian menciptakan kondisi agar pesan tersebut bisa dikirim sejak awal.


Konsep ini memang terdengar membingungkan. Bahkan para ilmuwan sendiri mengakui bahwa dalam situasi seperti itu, batas antara masa lalu dan masa depan menjadi kabur.


Meski demikian, penelitian ini tidak berarti mesin waktu segera dibuat.


Seth Lloyd mengatakan aplikasi nyata dari studi tersebut mungkin bukan mengirim pesan ke masa lalu, melainkan memperbaiki sistem komunikasi masa depan agar lebih tahan terhadap gangguan.


“Semua saluran komunikasi memiliki noise,” jelas Lloyd kepada New Scientist.


Dengan memahami bagaimana informasi tetap stabil dalam kondisi ekstrem secara teoritis, ilmuwan mungkin dapat menciptakan teknologi komunikasi kuantum yang lebih andal.


Di sisi lain, gagasan tentang keterikatan kuantum sendiri memang sudah lama terasa aneh.


Beberapa interpretasi minoritas dalam fisika bahkan menyatakan bahwa partikel-partikel terikat kuantum mungkin saling “mengirim informasi” melalui masa lalu.


Walaupun ide itu belum menjadi konsensus ilmiah, penelitian semacam ini menunjukkan bahwa batas antara fiksi ilmiah dan teori fisika kadang tidak sejauh yang dibayangkan.


Untuk saat ini, manusia mungkin belum bisa memperingatkan dirinya sendiri soal keputusan buruk di masa lalu. Tetapi setidaknya, fisika modern mulai membuka kemungkinan bahwa waktu tidak sesederhana yang selama ini kita kira.


Disadur dari IFLScience How Black Holes And Quantum Entanglement Could Send Messages Back In Time Like In Interstellar.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama