Hobi Nyemil Tengah Malam Ternyata Bikin Perut 'Menderita'

Kebiasaan makan larut malam saat stres terbukti memperburuk kesehatan pencernaan, memicu sembelit, serta merusak keseimbangan bakteri baik dalam usus manusia.


Kebiasaan makan larut malam saat stres terbukti memperburuk kesehatan pencernaan, memicu sembelit, serta merusak keseimbangan bakteri baik dalam usus manusia.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Ngemil larut malam, terutama saat stres, berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pencernaan seperti sembelit dan diare.
  • Studi menunjukkan mikrobioma usus pada night snackers cenderung kurang beragam, tanda kesehatan usus yang menurun.
  • Mengatur waktu makan dan menjaga pola makan konsisten dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan.


SAINS kembali datang membawa kabar yang mungkin sedikit "merusak" kesenangan sederhana kita, midnight snacking


Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan menyantap makanan di tengah malam bukan cuma soal timbangan yang naik, tapi juga soal kesehatan perut alias usus kita yang jadi taruhannya.


Para peneliti mengamati data dari survei nasional di Amerika Serikat untuk melihat hubungan antara waktu makan dan kesehatan. Hasilnya cukup mengejutkan. 


Orang-orang yang sedang mengalami stres kronis dan sering mengonsumsi kalori di malam hari cenderung lebih sering melaporkan masalah pencernaan, seperti sembelit dan diare. 


Meski penelitian ini belum bersifat final, temuan tersebut menunjukkan bahwa ngemil tengah malam bisa memperparah masalah usus yang sudah ada.


Sebenarnya, dokter sudah lama menyarankan agar kita tidak makan tepat sebelum tidur. Alasannya beragam. Pertama, kalori yang masuk di malam hari lebih besar kemungkinannya disimpan sebagai lemak. 


Kedua, makan di waktu istirahat dapat mengganggu jam biologis atau ritme sirkadian tubuh. 


Selain itu, jujur saja, saat malam hari kita cenderung lebih tergoda untuk menyantap makanan yang kurang sehat atau junk food.


Penelitian yang dipimpin oleh dr. Harika Dadigiri dari New York Medical College ini menggunakan data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES). 


Mereka mengukur tingkat stres kronis lewat indeks massa tubuh (BMI), tekanan darah, dan kolesterol.


Hasilnya, kelompok yang stres dan mengonsumsi setidaknya seperempat total kalori harian mereka setelah jam 9 malam, memiliki risiko 1,7 kali lebih tinggi mengalami masalah pencernaan dibandingkan mereka yang jarang makan malam. 


Bahkan, data dari American Gut Project menunjukkan risiko tersebut bisa melonjak hingga 2,5 kali lebih besar. 


Ternyata, mikrobioma atau kumpulan bakteri di usus para "pencinta tengah malam" ini juga cenderung kurang beragam, yang menandakan sistem pencernaan yang kurang sehat.


"Ini bukan cuma soal apa yang kamu makan, tapi kapan kamu memakannya," ujar dr. Dadigiri. 


Menurutnya, saat tubuh sedang dalam kondisi stres, makan larut malam memberikan "pukulan ganda" bagi kesehatan usus.


Meskipun penelitian ini masih bersifat korelasi dan belum membuktikan sebab-akibat secara langsung, banyak penelitian lain yang mendukung bahwa makan sebelum tidur memang berdampak buruk bagi kesehatan.


Menariknya, para peneliti pun mengakui bahwa berhenti ngemil malam itu sulit. Namun, perubahan kecil bisa berdampak besar. dr. Dadigiri menyebut dirinya bukan polisi es krim


Ia tetap memperbolehkan kita makan es krim atau camilan favorit, asalkan waktunya digeser lebih siang atau sore hari. 


Membangun rutinitas makan yang terstruktur dapat membantu fungsi pencernaan berjalan lebih optimal seiring berjalannya waktu.


Melansir dari laman Healthline, sistem pencernaan kita bekerja mengikuti ritme sirkadian. 


Di malam hari, pergerakan usus (peristaltik) cenderung melambat karena tubuh dipersiapkan untuk beristirahat dan memulihkan sel. 


Jika kita memasukkan makanan berat di saat mesin pencernaan sedang "mode hemat energi", makanan tersebut tidak akan diproses secara maksimal, yang akhirnya memicu asam lambung naik (GERD) atau penumpukan gas.


Selain itu, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients, paparan cahaya malam hari dan makan di waktu yang salah dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang berperan penting dalam melindungi lapisan usus. 


Jadi, memberikan jeda minimal 2-3 jam antara waktu makan terakhir dan waktu tidur adalah investasi termurah untuk kesehatan perut kamu.


Disadur dari Gizmodo - Your Late Night Snacking Isn’t Doing Your Gut Any Favors, Study Finds.




Post a Comment

أحدث أقدم