Gulir-gulir Layar Ponsel Tanpa Henti, Bikin Bahagia Menipis

Menghabiskan waktu berlebihan menonton video pendek ternyata berkaitan dengan kesepian, kecemasan, dan turunnya kepuasan hidup secara bertahap.


Menghabiskan waktu berlebihan menonton video pendek ternyata berkaitan dengan kesepian, kecemasan, dan turunnya kepuasan hidup secara bertahap.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Kecanduan video pendek berkaitan dengan penurunan kepuasan hidup melalui kesepian dan kecemasan.
  • Efeknya terjadi secara bertahap: dari kesepian, kemudian kecemasan, lalu turunnya kebahagiaan.
  • Bukan hanya soal durasi layar, tetapi hilangnya interaksi sosial yang bermakna.


FENOMENA kecanduan video pendek di media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini makin jadi sorotan ilmuwan. 


Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di The Journal of Psychology mengungkap bahwa kebiasaan “scroll tanpa henti” ini bukan sekadar menghabiskan waktu.


Menggulir-gulir layar terus-menerus juga memicu rangkaian perubahan psikologis yang berujung pada menurunnya kepuasan hidup.


Penelitian yang dilakukan oleh Tuğba Türk Kurtça dan Muhammet Can Doğru mencoba menjawab pertanyaan sederhana: bagaimana konsumsi video pendek memengaruhi kesejahteraan mental seseorang? 


Hasilnya menunjukkan bahwa efeknya tidak langsung, melainkan melalui “jalur psikologis” yang berlapis, dimulai dari kesepian, lalu meningkat menjadi kecemasan, dan akhirnya menurunkan rasa puas terhadap hidup.


Platform video pendek bekerja dengan algoritma yang sangat personal. Konten muncul cepat, acak, dan terus-menerus, menciptakan sistem “hadiah instan” yang membuat pengguna sulit berhenti. 


Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi kecanduan. Hal itu ditandai dengan penggunaan berlebihan meski sudah berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari.


Untuk memahami proses ini, peneliti menggunakan dua teori psikologi utama. Pertama adalah displacement hypothesis, yaitu gagasan bahwa waktu yang dihabiskan di dunia digital menggantikan interaksi nyata. 


Ketika seseorang lebih banyak menatap layar, kesempatan untuk membangun hubungan sosial yang bermakna ikut berkurang.


Kedua adalah self-determination theory, yang menyebut bahwa manusia butuh tiga hal dasar: otonomi, kompetensi, dan koneksi sosial. 


Kecanduan video pendek diduga mengganggu pemenuhan kebutuhan ini, terutama dalam hal hubungan sosial yang autentik.


Studi ini melibatkan 234 partisipan, mayoritas mahasiswa dengan usia rata-rata 22 tahun. Mereka diamati dalam dua periode selama tiga bulan. 


Rata-rata, peserta menghabiskan sekitar 2,5 jam per hari menonton video pendek, angka yang mungkin terasa “normal” di era sekarang.


Hasil analisis menunjukkan pola yang cukup jelas. Mereka yang pada awal penelitian memiliki tingkat kecanduan tinggi cenderung merasa lebih kesepian tiga bulan kemudian. 


Hiburan cepat dari video pendek perlahan menggantikan hubungan sosial yang lebih dalam dan bermakna.


Kesepian ini kemudian berkembang menjadi kecemasan. Tanpa dukungan sosial yang cukup, individu menjadi lebih rentan terhadap stres dan merasa terasing. 


Pada tahap berikutnya, kecemasan tersebut berdampak langsung pada penurunan kepuasan hidup. Orang jadi sulit melihat hidupnya secara positif atau merasa puas dengan kondisi yang ada.


Menariknya, efek ini bersifat berantai. 


Kesepian dan kecemasan tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu jalur yang menjelaskan bagaimana kebiasaan digital bisa menggerus kesejahteraan mental secara perlahan.


Namun, peneliti juga mengingatkan bahwa efek yang ditemukan relatif kecil jika dilihat secara terpisah. Masalahnya, efek kecil ini bisa menumpuk dari waktu ke waktu. 


Jadi, bukan sekadar soal durasi layar, tetapi apa yang “dikorbankan” saat waktu itu dihabiskan.


Meski begitu, studi ini punya keterbatasan. Data yang digunakan berasal dari laporan pribadi peserta, sehingga berpotensi bias. 


Selain itu, mayoritas partisipan adalah mahasiswa perempuan, sehingga hasilnya belum tentu mewakili semua kelompok usia atau latar belakang.


Penelitian ini juga hanya berlangsung selama tiga bulan, sehingga belum bisa menjelaskan dampak jangka panjang. 


Ke depan, peneliti menyarankan penggunaan data objektif seperti pelacak waktu layar serta studi jangka panjang untuk memahami pola ini lebih dalam.


Yang tak kalah penting, hubungan ini bisa jadi dua arah. Orang yang sudah merasa kesepian atau cemas mungkin justru lebih sering mencari pelarian lewat video pendek. 


Jika benar, maka terbentuklah lingkaran setan: semakin cemas, semakin sering scroll; semakin sering scroll, semakin cemas.


Di tengah era digital yang serba cepat, temuan ini jadi pengingat sederhana: hiburan instan memang menyenangkan, tapi koneksi manusia tetap tak tergantikan.


Disadur dari PsyPost - Short video addiction is linked to lower life satisfaction through loneliness and anxiety.




Post a Comment

أحدث أقدم