Laut menyerap sebagian besar panas berlebih Bumi, memicu gangguan serius pada perikanan, pertanian, dan ketahanan pangan global.
Ringkasan
- Laut menyerap sekitar 91% panas berlebih Bumi, memperparah dampak perubahan iklim.
- Pemanasan laut merusak perikanan, memicu migrasi ikan, dan mengancam ketahanan pangan.
- Kapasitas laut sebagai “penyerap” energi dan karbon mulai mencapai batasnya.
PERUBAHAN iklim kini tak hanya soal suhu udara yang meningkat.
Laporan terbaru dari World Meteorological Organization memperkenalkan indikator baru bernama Earth’s Energy Imbalance (EEI). Secara harfiah berati 'ketidakseimbangan energi Bumi.
Ini adalah sebuah ukuran yang menjelaskan seberapa besar energi dari matahari yang “terjebak” di planet ini dibandingkan yang dipantulkan kembali ke luar angkasa.
Menurut ilmuwan iklim John Kennedy, indikator ini membantu melihat gambaran besar perubahan iklim yang sering kali tersamarkan oleh fluktuasi tahunan seperti El Niño dan La Niña.
Dengan kata lain, meski suhu udara bisa naik-turun tiap tahun, ketidakseimbangan energi menunjukkan tren pemanasan jangka panjang yang lebih mendasar.
Konsepnya sederhana, selama Bumi menyerap lebih banyak energi daripada yang dilepaskan, pemanasan global akan terus berlangsung.
Dampaknya pun berantai—es mencair, permukaan laut naik, dan ekosistem terganggu.
Sejak 1960-an, akibat efek gas rumah kaca, Bumi terus menyimpan energi berlebih dalam bentuk panas. Bahkan dalam sembilan tahun terakhir, angka ini terus mencetak rekor baru setiap tahunnya.
Yang lebih mencemaskan, sekitar 91 persen panas berlebih itu diserap oleh lautan.
Di satu sisi, laut memang berperan sebagai “penyangga” perubahan iklim. Namun di sisi lain, kemampuan ini ada batasnya.
Profesor kebijakan lingkungan Jennifer Jacquet dari University of Miami menyebut laut lebih tepat dianggap sebagai “spons karbon” ketimbang sekadar “penyerap karbon”.
Artinya, laut bisa jenuh. Ketika itu terjadi, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Pemanasan laut membawa konsekuensi serius bagi sistem pangan global. Suhu air yang meningkat menyebabkan pemutihan terumbu karang, merusak habitat ikan, dan menurunkan hasil tangkapan nelayan.
Selain itu, kenaikan permukaan laut memicu erosi pesisir yang mengancam komunitas nelayan dan sumber pangan mereka.
Fenomena lain yang tak kalah penting adalah gelombang panas laut.
Dalam beberapa kasus, seperti di Chile pada 2016, peternakan ikan mengalami kerugian besar ketika ikan salmon mati akibat ledakan alga beracun.
Ikan-ikan budidaya tidak bisa bermigrasi untuk menghindari kondisi ekstrem tersebut.
Di sisi lain, ikan liar mulai bermigrasi ke perairan yang lebih dingin di dekat kutub utara dan selatan, karena air di sana mengandung lebih banyak oksigen.
Pergeseran ini berdampak negatif bagi nelayan di wilayah tropis, termasuk negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada hasil laut sebagai sumber protein utama.
Dampak perubahan ini tidak hanya terjadi di laut. Pencairan gletser akibat pemanasan global dapat memicu banjir yang merusak lahan pertanian di daratan.
Artinya, gangguan pada sistem pangan terjadi secara simultan—baik dari laut maupun darat.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa laut menyerap lebih dari 90 persen panas tambahan akibat aktivitas manusia (IPCC, 2021).
Ini memperlambat laju pemanasan udara, tetapi sekaligus “menyembunyikan” skala sebenarnya dari krisis iklim yang sedang berlangsung.
Kesimpulannya jelas, laut bukan solusi tanpa batas. Ketika kapasitasnya menyerap panas dan karbon mulai jenuh, dampaknya akan kembali ke manusia—terutama melalui sistem pangan yang semakin rentan.
Sumber: Grist - Oceans Are Absorbing the Earth’s Excess Energy. That’s Bad News for Food Systems

Posting Komentar