Penelitian terbaru menemukan bulu kucing memiliki jejak isotop mirip pemakan tumbuhan, meski mereka sejatinya karnivora sejati.
Ringkasan
- Bulu kucing menunjukkan nilai isotop nitrogen mirip manusia vegan, meski kucing adalah karnivora.
- Hal ini terjadi karena metabolisme kucing sangat efisien dalam memproses protein daging.
- Temuan ini menunjukkan analisis isotop bisa menyesatkan tanpa mempertimbangkan faktor biologis.
SEBUAH studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution mengungkap hal yang cukup membingungkan
Jika dilihat dari “sidik jari kimia” pada bulunya, kucing tampak seperti hewan pemakan tumbuhan. Padahal, secara biologis, kucing adalah karnivora obligat, mereka harus makan daging untuk bertahan hidup.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari University of Vienna yang menganalisis isotop nitrogen dalam bulu dan kumis kucing domestik.
Metode ini dikenal sebagai analisis isotop stabil, teknik yang umum digunakan dalam ekologi dan arkeologi untuk melacak pola makan hewan dan posisi mereka dalam rantai makanan.
Dalam analisis ini, ilmuwan melihat rasio dua isotop nitrogen: nitrogen-14 (lebih ringan) dan nitrogen-15 (lebih berat).
Rasio ini dinyatakan sebagai δ15N, yang biasanya meningkat seiring posisi hewan dalam rantai makanan—semakin tinggi, semakin “karnivora”.
Namun, hasil penelitian justru menunjukkan hal aneh. Nilai δ15N pada bulu kucing berada di kisaran sekitar 6,5–6,6‰, yang lebih mendekati nilai manusia vegan (sekitar 7,2‰) dibandingkan manusia omnivora (sekitar 8,8‰).
Sekilas, ini membuat kucing terlihat seperti “pemakan tumbuhan”.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Kuncinya ada pada cara tubuh kucing memproses protein. Berbeda dengan manusia atau hewan lain, kucing memiliki metabolisme yang sangat efisien dalam memanfaatkan protein dari daging.
Protein yang mereka makan hampir langsung digunakan untuk membangun jaringan tubuh, termasuk keratin pada bulu, tanpa banyak perubahan kimia.
Akibatnya, perbedaan isotop antara makanan dan jaringan tubuh—yang disebut trophic discrimination factor (TDF), menjadi sangat kecil pada kucing, hanya sekitar 1,6‰.
Sebagai perbandingan, manusia omnivora memiliki TDF sekitar 4,7‰. Artinya, “jejak kimia” makanan kucing hampir tidak berubah saat menjadi bagian dari tubuhnya.
Fenomena ini membuat analisis isotop bisa menyesatkan jika tidak mempertimbangkan kualitas makanan dan efisiensi metabolisme.
Dalam kasus kucing, nilai isotop yang rendah bukan berarti mereka makan tumbuhan, melainkan karena tubuh mereka sangat efisien mengolah protein hewani.
Penelitian ini melibatkan sampel bulu dari 35 kucing rumahan dan kumis dari 14 kucing.
Para peneliti juga membandingkannya dengan data rambut manusia dari 653 individu dengan pola makan berbeda, mulai dari vegan, vegetarian, hingga omnivora.
Hasilnya menantang asumsi lama dalam ilmu ekologi bahwa nilai isotop nitrogen selalu mencerminkan posisi trofik (tingkat dalam rantai makanan) secara langsung.
Studi ini menunjukkan bahwa faktor fisiologi, seperti metabolisme, juga memainkan peran penting.
Temuan ini punya implikasi luas, terutama dalam penelitian arkeologi dan ekologi yang sering menggunakan analisis isotop untuk merekonstruksi pola makan hewan purba atau hubungan dalam ekosistem.
Tanpa mempertimbangkan faktor seperti efisiensi metabolisme, ilmuwan bisa salah mengklasifikasikan jenis diet suatu spesies.
Meski begitu, masih banyak hal yang belum dipahami. Mekanisme biologis yang membuat kucing memiliki TDF rendah ini belum sepenuhnya dijelaskan.
Selain itu, penelitian ini baru fokus pada bulu dan kumis, belum diketahui apakah jaringan lain seperti darah atau tulang menunjukkan pola serupa.
Sumber: Frontiers — Are cats ‘vegan’ meat eaters? Study finds why isotopic fingerprint of cat fur could trick us into thinking that way

Posting Komentar