Fakta Mengejutkan Tentang Donasi Otak yang Jarang Diketahui

Banyak orang mendukung riset autisme, tetapi sedikit yang tahu bahwa donasi otak setelah meninggal sangat penting bagi kemajuan ilmiah.


Banyak orang mendukung riset autisme, tetapi sedikit yang tahu bahwa donasi otak setelah meninggal sangat penting bagi kemajuan ilmiah.Ilustrasi dibuat oleh AI/Freepik


Ringkasan 

  • Banyak orang mendukung riset autisme, tetapi tidak tahu pentingnya donasi otak.
  • Donasi otak berbeda dari donasi organ dan harus dilakukan segera setelah kematian.
  • Sampel otak manusia sangat penting dan belum bisa digantikan teknologi lain.


SEBUAH survei terbaru dari Autism BrainNet mengungkap kesenjangan besar antara dukungan publik terhadap penelitian autisme dan pemahaman tentang bagaimana riset itu dilakukan. 


Mayoritas responden menyadari pentingnya mempelajari otak autistik, tetapi hanya sedikit yang tahu bahwa donasi otak setelah kematian merupakan kunci utama dalam penelitian tersebut.


Dalam survei terhadap lebih dari 1.000 responden di Amerika Serikat, sebanyak 92 persen menganggap studi tentang otak autistik sangat penting. 


Namun, sekitar 70 persen belum pernah mendengar tentang donasi otak. Ini menunjukkan bahwa publik mendukung kemajuan sains, tetapi belum memahami proses di baliknya.


Donasi organ tak sama dengan donasi otak


Banyak orang mengira bahwa mendaftar sebagai donor organ otomatis mencakup donasi otak. Padahal, keduanya adalah proses yang berbeda. 


Lebih dari 80 persen responden familiar dengan donasi organ, tetapi hanya sekitar 15 persen yang tahu bahwa donasi otak membutuhkan persetujuan dan prosedur terpisah.


Menurut David G. Amaral dari University of California Davis, jaringan otak manusia setelah kematian adalah sumber ilmiah yang tidak tergantikan.


Teknologi seperti kecerdasan buatan, pencitraan otak, atau eksperimen hewan belum mampu sepenuhnya menggantikan data biologis nyata dari otak manusia.


Survei juga menemukan banyak miskonsepsi. Kurang dari setengah responden tahu bahwa donasi otak harus dilakukan dalam hitungan jam setelah kematian, bukan hari atau minggu. 


Bahkan, sebagian kecil responden keliru mengira donasi bisa dilakukan saat seseorang masih hidup.


Ada juga kesalahpahaman soal kelayakan donor. Sekitar sepertiga responden mengira kondisi seperti autisme atau epilepsi justru menghalangi seseorang untuk menjadi donor. 


Padahal, justru individu dengan kondisi tersebut sangat dibutuhkan dalam penelitian untuk memahami spektrum gangguan perkembangan saraf.


Bagi sebagian keluarga, donasi otak menjadi cara untuk memberi makna pada kehilangan. 


Kisah yang dibagikan oleh keluarga donor menunjukkan bahwa kontribusi ini bisa menjadi bentuk penghormatan terakhir sekaligus warisan ilmiah.


Dengan mendonasikan otak, keluarga tidak hanya mengenang orang tercinta, tetapi juga membantu ilmuwan memahami penyebab biologis autisme, yang hingga kini masih belum sepenuhnya terpecahkan.


Harapan bagi masa depan


Penelitian autisme sangat bergantung pada ketersediaan sampel otak manusia yang beragam. 


Tanpa itu, banyak pertanyaan mendasar tentang perkembangan otak dan gangguan neurodevelopmental akan tetap sulit dijawab.


Di sinilah peran masyarakat menjadi krusial. Dukungan terhadap sains tidak hanya soal opini, tetapi juga partisipasi nyata—bahkan setelah kehidupan berakhir.


Sumber: ScienceDaily - Your brain could help solve autism and most people don’t know it



Post a Comment

أحدث أقدم