Daging Lab: Aman Dimakan atau Sekadar Tren?

Daging hasil laboratorium sudah lolos uji keamanan, tetapi dampak kesehatan jangka panjangnya masih belum diketahui secara pasti.


Daging hasil laboratorium sudah lolos uji keamanan, tetapi dampak kesehatan jangka panjangnya masih belum diketahui secara pasti.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Daging lab aman secara awal, tetapi dampak kesehatan jangka panjang belum diketahui.
  • Kandungan gizinya mirip daging biasa, namun tidak identik dan bisa berbeda.
  • Berpotensi lebih aman dan bisa didesain lebih sehat, tapi tetap tergolong makanan olahan.


PADA 2023, pemerintah Amerika Serikat resmi mengizinkan penjualan daging ayam hasil laboratorium setelah melewati uji keamanan pangan. 


Produk ini dikenal sebagai lab-grown meat atau daging budidaya, ia dibuat bukan dari peternakan, melainkan dari sel hewan yang dikembangkan di dalam tangki khusus bernama bioreaktor.


Prosesnya terdengar futuristik. Ilmuwan mengambil beberapa sel dari hewan, lalu “memberinya makan” dengan nutrisi seperti vitamin, mineral, dan asam amino. 


Sel-sel tersebut berkembang menjadi jaringan otot—yang secara teknis adalah daging yang kita konsumsi sehari-hari. 


Tanpa perlu menyembelih hewan, metode ini dianggap lebih ramah terhadap kesejahteraan hewan.


Namun, muncul pertanyaan besar: apakah daging ini benar-benar aman dan sehat?


Mirip, tapi tidak identik


Secara nutrisi, daging lab dirancang menyerupai daging biasa—baik dari segi rasa, tekstur, maupun kandungan gizi. 


Menurut Tim Spector dari King’s College London, profil protein dan asam amino pada daging budidaya umumnya mirip dengan daging konvensional, termasuk sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.


Namun, kesamaan itu tidak sempurna. Data awal menunjukkan adanya perbedaan kandungan nutrisi. 


Dalam beberapa studi, daging ayam hasil laboratorium memiliki protein lebih rendah dan beberapa vitamin serta mineral lebih sedikit dibandingkan daging biasa. 


Sebaliknya, kandungan lemak total, lemak jenuh, dan kolesterol justru bisa lebih tinggi, meski beberapa vitamin seperti B5, B6, dan A ditemukan lebih banyak.


Perbedaan ini wajar. Dalam daging konvensional, nutrisi terbentuk secara kompleks selama kehidupan hewan, seperti melalui makanan, mikroba usus, dan metabolisme alami. 


Meniru proses biologis ini di laboratorium bukan perkara mudah, meski teknologinya terus berkembang.


Bisa “didesain” lebih sehat


Salah satu keunggulan utama daging lab adalah fleksibilitasnya. Secara teori, produsen dapat “merancang” komposisi nutrisi sesuai kebutuhan. 


Misalnya, mengurangi lemak jenuh dan meningkatkan lemak tak jenuh seperti omega-3 yang lebih baik untuk jantung.


Selain itu, proses produksi di lingkungan steril juga berpotensi mengurangi risiko kontaminasi bakteri yang sering dikaitkan dengan peternakan skala besar. 


Hal ini dinilai oleh ahli gizi seperti Noah Praamsma sebagai salah satu nilai tambah dari sisi keamanan pangan.


Meski terdengar canggih, daging lab kemungkinan masuk kategori makanan ultra-proses karena dibuat melalui proses industri dan melibatkan bahan tambahan. 


Namun, menurut Spector, label “olahan” tidak otomatis berarti tidak sehat.


Yang lebih penting adalah kualitas akhir produk, kandungan nutrisinya, serta bagaimana dampaknya terhadap tubuh, termasuk mikrobioma usus. 


Daging lab, seperti daging biasa, umumnya rendah serat dan tinggi lemak jenuh. Tetapi, secara teori, profil ini masih bisa diperbaiki melalui rekayasa produksi.


Dampak jangka panjang masih misteri


Satu hal yang pasti, kita belum tahu dampak jangka panjang konsumsi daging lab terhadap kesehatan manusia. 


Hingga kini, belum ada uji klinis yang benar-benar mengevaluasi efeknya dalam jangka panjang, termasuk potensi alergi atau pengaruh terhadap sistem pencernaan.


Yang jelas, menurut para ahli, mengganti daging biasa dengan daging lab belum tentu memberikan manfaat kesehatan sebesar mengonsumsi lebih banyak makanan nabati utuh seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan.


Jadi, daging lab menawarkan masa depan pangan yang lebih etis dan berpotensi lebih aman. Namun, ia masih berada di wilayah abu-abu, antara inovasi menjanjikan dan pertanyaan ilmiah yang belum terjawab.


Sumber: Popular Science - Is ‘lab-grown’ meat actually safe?



Post a Comment

أحدث أقدم