Larva lalat tentara atau maggot hitam kini diprediksi menjadi "superfood" masa depan karena efisiensi nutrisinya yang luar biasa dalam mengatasi krisis pangan global.
Ringkasan
- Larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) atau maggot adalah sumber protein tinggi yang sangat efisien dan ramah lingkungan.
- Selain menjadi pakan ternak dan hewan peliharaan, larva ini mulai dilirik sebagai bahan pangan manusia karena nutrisinya yang padat.
- Budidaya serangga ini mendukung ekonomi sirkular karena kemampuannya mengubah sampah organik menjadi biomassa berkualitas tinggi.
DI pinggiran kota Nairobi, Kenya, tumpukan limbah mangga setinggi gedung dua lantai menebarkan aroma asam yang menyengat.
Namun bagi ratusan juta makhluk kecil di dalam rumah kaca milik InsectiPro, tumpukan sampah itu adalah pesta pora. Itu adalah maggot, atau lebih tepatnya larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF).
Selama ini, kita mungkin menganggap belatung sebagai tanda pembusukan yang menjijikkan. Namun, bagi para ilmuwan dan pengusaha pangan berkelanjutan, mereka adalah "pabrik" protein berjalan.
Nina de Groot dari InsectiPro menyebut larva ini sebagai solusi masa depan.
Mengapa? Karena makhluk-makhluk kecil itu mampu mengubah sampah menjadi protein berkualitas tinggi dengan sumber daya yang jauh lebih sedikit dibandingkan sapi atau ayam.
Larva BSF memiliki nafsu makan yang luar biasa. Di InsectiPro, kawanan larva ini sanggup menghabiskan 16,5 ton limbah tanaman setiap hari.
Menariknya, larva ini adalah "gudang nutrisi" bagi dirinya sendiri.
Saat sudah menjadi lalat dewasa, makhluk itu tidak akan makan lagi dan hanya mengandalkan cadangan lemak serta protein yang mereka kumpulkan saat masih menjadi belatung.
Secara teknis, larva ini memiliki tingkat konversi pakan yang sangat tinggi. Sebagai perbandingan, seekor ayam butuh makan empat kali lipat dari berat tubuhnya untuk tumbuh.
Sementara bagi larva BSF, hampir semua yang mereka makan berubah menjadi biomassa tubuh. Dalam waktu hanya dua minggu, mereka bisa tumbuh dari ukuran sekecil debu hingga sebesar paus biru (secara proporsional).
Saat ini, sebagian besar larva BSF diolah menjadi tepung protein untuk pakan ikan, unggas, hingga makanan anjing. Namun, potensinya bagi manusia mulai dijajaki.
Beberapa perusahaan sudah bereksperimen membuat batang protein (protein bar), es krim, hingga campuran falafel berbahan dasar larva ini.
Tepung larva BSF diketahui memiliki rasa yang unik, sedikit pahit dan gurih seperti kacang, mirip dengan bubuk kakao tanpa pemanis. Selain protein, mereka kaya akan kalsium dan kitin yang baik untuk pencernaan.
Tantangan terbesar untuk menjadikan belatung sebagai "superfood" manusia bukan pada nutrisinya, melainkan faktor "jijik". Namun, sejarah menunjukkan bahwa persepsi manusia bisa berubah.
Dulu, lobster dianggap sebagai "serangga laut" yang hanya layak dimakan oleh narapidana, namun kini menjadi makanan mewah.
Mungkin saja, beberapa tahun ke depan, protein shake berbahan "Hilucia" (nama keren untuk lalat tentara hitam) akan menjadi hal yang lumrah di pusat kebugaran.
Disadur dari Smithsonian Magazine - Maggots Are an Incredibly Efficient Source of Protein, Which May Make Them the Next Superfood for Humans.
.jpg)
Posting Komentar