Ilmuwan menemukan protein SIRT6 sebagai kunci yang mencegah zat kimia otak berubah menjadi racun penyebab pikun dan gangguan jiwa.
Ringkasan
- Triptofan penting bagi energi, suasana hati, dan tidur, tetapi bisa berubah berbahaya di otak menua.
- Penurunan protein SIRT6 mengalihkan triptofan ke jalur neurotoksik.
- Menghambat jalur ini menunjukkan efek perbaikan, membuka peluang terapi baru.
SELAMA ini, banyak dari kita mengenal triptofan hanya sebagai zat dalam makanan yang bikin mengantuk. Padahal, peran asam amino ini jauh lebih besar.
Triptofan adalah "bahan bakar" utama untuk memproduksi serotonin (hormon bahagia), melatonin (hormon tidur), hingga energi seluler bernama NAD+.
Namun, seiring bertambahnya usia, metabolisme triptofan sering kali "salah jalan" dan justru menciptakan senyawa beracun.
Prof. Debra Toiber dan tim risetnya dari Ben-Gurion University of the Negev akhirnya menemukan jawaban mengapa otak yang menua bisa berubah menjadi toksik.
Ternyata, biang keroknya adalah hilangnya protein panjang umur yang disebut Sirtuin 6 (SIRT6).
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications edisi Januari 2026, peneliti menemukan bahwa SIRT6 bertugas seperti polisi lalu lintas di dalam otak.
Ia mengontrol ekspresi gen (seperti TDO2 dan AANAT) agar triptofan tetap di jalur yang benar. Saat kadar SIRT6 menurun, biasanya karena faktor usia atau penyakit, kontrol ini hilang.
Akibatnya, triptofan dibelokkan menuju jalur kynurenic yang menghasilkan senyawa neurotoksik, sementara produksi hormon pelindung seperti serotonin justru anjlok.
Kabar baiknya, penelitian yang dilakukan pada model lalat dan tikus ini menunjukkan bahwa kerusakan tersebut bersifat reversible alias bisa dipulihkan.
Ketika tim peneliti memblokir enzim pemicu racun (TDO2) pada subjek yang kekurangan SIRT6, terjadi perbaikan signifikan pada kemampuan gerak dan berkurangnya tanda-tanda kerusakan jaringan otak.
"Riset kami menempatkan SIRT6 sebagai target obat utama untuk melawan patologi neurodegeneratif," ungkap Prof. Toiber seperti dikutip Science Daily.
Ini berarti, di masa depan, kita mungkin bisa menciptakan suplemen atau terapi yang mengaktifkan kembali SIRT6 untuk mencegah kepikunan.
Secara lebih luas, triptofan memang memegang peranan krusial bagi kesehatan mental manusia.
Menurut laporan dari Harvard Health Publishing, ketidakseimbangan metabolisme triptofan tidak hanya berdampak pada fungsi kognitif, tetapi juga memicu peradangan saraf (neuroinflammation).
Peradangan ini sering ditemukan pada pasien dengan depresi berat dan kecemasan kronis.
Selain itu, National Institutes of Health (NIH) menekankan bahwa gaya hidup sehat, seperti olahraga teratur dan konsumsi makanan kaya antioksidan, dapat membantu mempertahankan kadar protein sirtuin dalam tubuh secara alami.
Dengan menjaga "sakelar" SIRT6 tetap aktif, kita secara tidak langsung memberikan proteksi ekstra bagi otak dari ancaman racun kimiawi yang merusak memori.
Disadur dari Science Daily - One protein may decide whether brain chemistry heals or harms.

إرسال تعليق