Studi DNA pada Maria Branyas, perempuan 117 tahun, mengungkap kombinasi gen unik dan kesehatan biologis yang jauh lebih muda dari usianya.
Maria Branyas di tahun 1925. Ilustrasi dibuat oleh AI berdasarkan foto dari Wikimedia Commons. Ringkasan
- DNA Maria Branyas menunjukkan usia biologis jauh lebih muda dari usia kronologisnya.
- Varian gen unik, sistem imun kuat, dan mikrobioma sehat diduga berperan besar dalam umur panjangnya.
- Telomer sangat pendek mungkin justru membantu menekan risiko kanker pada usia ekstrem.
WAKTU memang tidak bisa dihentikan, namun bagi kelompok supercentenarian, orang-orang yang berhasil merayakan ulang tahun ke-110, penuaan seolah hanyalah angka yang bisa ditunda.
Salah satu contoh paling menakjubkan adalah Maria Branyas.
Wanita asal Spanyol yang sempat memegang gelar manusia tertua di dunia ini wafat pada tahun 2024 di usia 117 tahun dengan kondisi kesehatan yang membuat para ilmuwan terheran-heran.
Penelitian DNA terbaru kini mengungkap petunjuk penting tentang rahasia umur panjangnya.
Studi yang dipublikasikan di Cell Reports Medicine ini dipimpin oleh para peneliti dari Josep Carreras Leukaemia Research Institute di Barcelona.
Tim ilmuwan menganalisis berbagai sampel biologis Branyas, mulai dari darah, air liur, urin, hingga sampel feses, yang ia sumbangkan sebelum meninggal.
Hasilnya mengejutkan, sel-sel tubuh Branyas “berperilaku” seolah-olah berasal dari orang yang jauh lebih muda secara biologis.
Menurut para peneliti, genom Branyas tergolong “sangat muda” dibandingkan usia kronologisnya.
Ia memiliki sejumlah varian gen langka yang sebelumnya dikaitkan dengan umur panjang, sistem kekebalan tubuh yang kuat, serta kesehatan jantung dan otak.
Secara statistik, Branyas hidup lebih dari 30 tahun di atas rata-rata harapan hidup perempuan di wilayah Catalonia.
Yang menarik, di usia senjanya Branyas relatif bebas dari penyakit kronis berat. Ia menunjukkan kesehatan kardiovaskular sangat baik, dan tingkat peradangan tubuh yang sangat rendah.
Profil lipid darahnya pun mengesankan. Kadar kolesterol “jahat” dan trigliserida sangat rendah, sementara kolesterol “baik” justru tinggi. Kondisi ini biasanya diasosiasikan dengan risiko penyakit jantung yang jauh lebih kecil.
Tak hanya itu, sistem imun dan mikrobioma usus Branyas, komunitas bakteri baik di saluran pencernaan, menunjukkan pola yang mirip dengan individu berusia puluhan tahun lebih muda.
Para peneliti menduga keseimbangan mikrobioma ini berperan besar dalam menekan peradangan kronis, yang selama ini dianggap sebagai salah satu pendorong utama penuaan dan penyakit degeneratif.
Namun, tidak semua temuan tampak “ideal” menurut teori penuaan klasik.
Para ilmuwan menemukan bahwa telomer Branyas, bagian ujung kromosom yang melindungi materi genetik, mengalami pemendekan ekstrem.
Biasanya, telomer pendek dikaitkan dengan risiko kematian lebih tinggi. Akan tetapi, riset terbaru menunjukkan bahwa pada individu sangat tua, telomer bukan lagi penanda penuaan yang akurat.
Dalam kasus Branyas, telomer yang sangat pendek justru mungkin membantu mencegah sel membelah secara tak terkendali, sehingga mengurangi risiko kanker.
Tentu saja, genetika bukan satu-satunya faktor. Branyas menjalani hidup yang aktif secara mental, sosial, dan fisik.
Ia juga dikenal menjalani pola makan Mediterania, termasuk konsumsi yogurt secara rutin, yang berkontribusi pada kesehatan usus.
Namun para peneliti menegaskan bahwa umur panjang ekstrem hampir pasti merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.
Meski penelitian ini hanya melibatkan satu individu, nilainya tetap besar.
Supercentenarian adalah kelompok yang sangat langka, dan setiap data biologis dari mereka menjadi “jendela” berharga untuk memahami penuaan manusia.
Para peneliti menekankan perlunya studi dengan kelompok yang lebih besar, tetapi temuan ini sejalan dengan riset lain yang menunjukkan bahwa sebagian orang memiliki biomarker unik yang membuat mereka lebih tahan terhadap penyakit.
Di tengah meningkatnya jumlah centenarian di dunia, kisah biologis Maria Branyas memberi harapan sekaligus pelajaran penting: usia lanjut tidak selalu identik dengan kesehatan yang buruk.
Studi ini membuka kemungkinan baru untuk mengidentifikasi biomarker penuaan sehat—dan mungkin, suatu hari nanti, strategi ilmiah untuk memperpanjang usia sehat manusia.
Disadur dari ScienceAlert.
إرسال تعليق