Rahasia Otak Hitung Peluang Bikin Kita Bereaksi Super Cepat

Otak manusia terus menghitung peluang kejadian dalam hitungan detik, memungkinkan kita bereaksi cepat dan tepat di lingkungan yang berubah.


Otak manusia terus menghitung peluang kejadian dalam hitungan detik, memungkinkan kita bereaksi cepat dan tepat di lingkungan yang berubah.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan

  • Otak terus memperkirakan peluang kejadian hingga tiga detik ke depan untuk menyiapkan respons cepat.
  • Mekanisme prediksi waktu bersifat konsisten, baik untuk kejadian cepat maupun lambat.
  • Temuan ini menantang Hukum Weber dan relevan untuk memahami gangguan neurologis.


KAMU mungkin pernah bertanya-tanya bagaimana seorang petinju bisa menghindari pukulan lawan dengan sangat presisi, atau bagaimana pemain video game bisa menekan tombol di saat yang tepat.


Ternyata, itu semua berkat kerja keras otak kita yang berperan layaknya seorang ahli statistik ulung.


Sebuah studi terbaru dari para ilmuwan saraf di Ernst Strüngmann Institute (Max Planck Society) bersama Goethe University Frankfurt dan New York University, mengungkap rahasia di balik cara otak memprediksi waktu. 


Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PNAS ini menemukan bahwa otak kita terus-menerus memperkirakan seberapa besar kemungkinan sesuatu akan terjadi dalam jendela waktu tiga detik ke depan.


Matthias Grabenhorst, penulis utama studi ini, menjelaskan, otak menggunakan metode kalkulasi probabilitas yang sama, tidak peduli apakah kejadian itu diprediksi muncul dalam hitungan ratusan milidetik atau beberapa detik. 


"Otak memprediksi waktu kejadian di berbagai situasi dan kecepatan dengan cara yang sama. Inilah alasan mengapa manusia bisa beradaptasi dengan sangat mudah di lingkungan baru," kata dia.


Artinya, otak kita memiliki sistem "skala bebas" (scale-free). Sistem ini memungkinkan kita tetap sigap meski ritme di sekitar kita berubah-ubah, dari yang lambat menjadi sangat cepat dalam sekejap.


Temuan ini membawa kejutan besar bagi dunia sains karena menantang "Hukum Weber" yang legendaris dalam psikologi.


Hukum klasik tersebut menyatakan bahwa presisi waktu biasanya menurun seiring bertambahnya durasi waktu (semakin lama kita menunggu, semakin tidak akurat perkiraan kita).


Namun, studi ini membuktikan hal yang berbeda. Keakuratan waktu justru sangat bergantung pada probabilitas. Jika sebuah kejadian sangat mungkin terjadi pada titik waktu tertentu, otak akan melacak waktu dengan sangat presisi. 


Sebaliknya, jika kejadian tersebut kecil kemungkinannya, persepsi waktu kita pun menjadi kurang tajam. Dengan kata lain, rasa haus akan kepastianlah yang membuat "jam" di otak kita berdetak lebih akurat.


Memahami cara otak memproses waktu bukan sekadar soal rasa penasaran. 


Mengutip Healthline dan studi dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews, gangguan pada "jam internal" atau kemampuan prediksi otak sering kali dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan mental dan saraf, seperti ADHD, skizofrenia, dan penyakit Parkinson.


Pada penderita Parkinson, misalnya, terjadi penurunan fungsi pada bagian basal ganglia yang bertugas mengatur ritme dan waktu. 


Dengan memahami bahwa otak menggunakan kalkulasi probabilitas untuk mengasah presisi waktu, para peneliti berharap dapat mengembangkan terapi baru untuk membantu mereka yang memiliki gangguan dalam persepsi waktu dan pengambilan keputusan.


Disadur dari Medical Xpress - How your brain keeps time: Consistent probability calculations help you react rapidly.


Post a Comment

أحدث أقدم