Selama miliaran tahun, medan magnet Bumi menyalurkan partikel atmosfer ke Bulan, meninggalkan arsip kimia sejarah planet kita.
Angin kutub (jejak kuning-oranye) melepaskan ion dari atmosfer atas Bumi (jejak biru langit). Beberapa partikel ini bergerak sepanjang garis medan magnet Bumi (kurva putih padat) dan mengendap di permukaan Bulan. Proses ini dapat meninggalkan jejak atmosfer Bumi di tanah Bulan. Ilustrasi: Universitas Rochester/Shubhonkar Paramanick.Ringkasan
- Medan magnet Bumi menyalurkan partikel atmosfer ke Bulan selama miliaran tahun.
- Sampel Apollo menyimpan jejak kimia yang kemungkinan berasal dari atmosfer Bumi.
- Tanah Bulan berpotensi menjadi arsip sejarah Bumi sekaligus sumber daya bagi eksplorasi masa depan.
BULAN mungkin terlihat seperti bola batu yang mati dan gersang di langit malam. Namun, siapa sangka jika satelit alami kita ini sebenarnya adalah "tempat penyimpanan" rahasia bagi potongan-potongan sejarah Bumi?
Sebuah studi dari University of Rochester mengungkapkan fakta mencengangkan. Bumi telah "menyuapi" Bulan dengan partikel-partikel atmosfernya selama miliaran tahun.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications Earth and Environment ini membongkar misteri lama tentang bagaimana gas-gas dari Bumi bisa sampai ke Bulan.
Ternyata, alih-alih menghalangi, medan magnet Bumi justru berfungsi sebagai pemandu atau corong yang mengarahkan partikel atmosfer mengikuti garis magnet hingga akhirnya mendarat di permukaan Bulan.
Semua bermula dari batuan dan tanah (regolit) yang dibawa pulang oleh para astronaut misi Apollo pada tahun 1970-an.
Saat dianalisis, tanah tersebut mengandung zat volatil seperti nitrogen, helium, argon, dan karbon dioksida. Awalnya, ilmuwan mengira zat-zat ini berasal dari angin matahari.
Namun, ada kejanggalan. Jumlah nitrogen yang ditemukan jauh melampaui apa yang bisa dihasilkan oleh angin matahari saja. Tim peneliti dari Rochester kini membuktikan bahwa sebagian besar gas tersebut sebenarnya berasal dari Bumi.
"Tanah Bulan kemungkinan besar menyimpan arsip jangka panjang dari sejarah atmosfer Bumi," ujar Eric Blackman, profesor fisika dan astronomi di University of Rochester.
Selama ini, banyak yang mengira medan magnet Bumi akan mengunci semua partikel agar tidak kabur ke luar angkasa. Namun, simulasi komputer canggih yang dilakukan oleh tim Rochester menunjukkan hasil yang berbeda.
Ketika angin matahari menghantam atmosfer bagian atas Bumi, partikel-partikel bermuatan akan terlepas. Bukannya hilang begitu saja, partikel ini mengikuti garis-garis medan magnet Bumi yang tidak terlihat.
Pada momen-momen tertentu dalam orbitnya, Bulan melintasi jalur garis magnet ini, sehingga partikel dari Bumi "hanyut" dan mengendap di permukaan Bulan.
Proses ini telah berlangsung sangat lama, mengikuti usia medan magnet Bumi yang sudah ada selama miliaran tahun.
Temuan ini bukan sekadar urusan sejarah. Keberadaan zat seperti air dan nitrogen di Bulan merupakan kabar baik bagi rencana kolaborasi manusia di masa depan.
Menurut data dari misi Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA, keberadaan unsur volatil ini sangat krusial untuk menunjang kehidupan astronot tanpa harus terus-menerus mengirim pasokan dari Bumi.
Selain itu, mempelajari lapisan tanah Bulan bisa memberikan bocoran tentang bagaimana iklim Bumi berubah di masa lalu, bahkan bagaimana kehidupan pertama kali muncul.
Bulan ternyata bukan sekadar tetangga, melainkan "diari" kimiawi bagi perjalanan Bumi.
Penelitian ini juga memberikan wawasan tentang planet lain seperti Mars.
"Dengan mempelajari proses ini, kita bisa memahami bagaimana atmosfer sebuah planet hilang dan bagaimana hal itu mempengaruhi kelayakhunian sebuah planet," kata Shubhonkar Paramanick, salah satu peneliti utama.
Disadur dari Science Daily.
إرسال تعليق