Riset terbaru mengungkap ubur-ubur dan anemon laut tidur delapan jam sehari demi memperbaiki kerusakan DNA pada sel saraf mereka.
Ringkasan
- Ubur-ubur dan anemon laut tidur sekitar delapan jam per hari meski tidak memiliki otak.
- Tidur membantu mengurangi dan memperbaiki kerusakan DNA pada sel saraf.
- Temuan ini menunjukkan tidur berevolusi lebih awal daripada otak dan penting bagi kesehatan saraf.
BAGI kita, manusia, tidur sering dianggap sebagai aktivitas "mengistirahatkan otak" setelah seharian bekerja. Tapi, bukan berarti makhluk tak punya otak, seperti ubur-ubur tak perlu tidur.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications pada awal Januari 2026 membuktikannya.
Menurut peneliti, tidur kemungkinan besar berevolusi untuk membantu mengurangi kerusakan DNA pada sel-sel saraf, jauh sebelum sel-sel tersebut berkumpul menjadi sebuah otak yang kompleks.
Dengan kata lain, tidur bukanlah sekadar hobi makhluk cerdas, melainkan kebutuhan biologis yang sangat mendasar bagi sel saraf mana pun.
Dalam studinya, para peneliti mengamati ubur-ubur terbalik (Cassiopea andromeda) dan anemon laut (Nematostella vectensis).
Kedua makhluk ini termasuk dalam kelompok Cnidaria, salah satu garis keturunan hewan tertua yang memiliki sel saraf atau neuron.
Saat siang hari, ubur-ubur ini sangat aktif berdenyut sekitar 37 kali per menit. Namun, saat malam tiba, frekuensi denyutnya menurun drastis, dan mereka menjadi sangat lambat merespons rangsangan cahaya atau makanan.
Menariknya, ketika peneliti sengaja mengganggu waktu istirahat malam mereka, ubur-ubur ini akan menunjukkan gejala "balas dendam" dengan tidur 50 persen lebih lama keesokan harinya.
Kondisi itu persis seperti manusia yang baru saja begadang semalaman.
Mengapa mereka harus tidur? Jawabannya ada di tingkat sel. Peneliti menemukan bahwa kerusakan DNA pada sel saraf meningkat saat hewan-hewan ini bangun dan beraktivitas.
Namun, saat mereka tertidur, tingkat kerusakan tersebut menurun secara signifikan.
Ketika tim peneliti sengaja memicu kerusakan DNA menggunakan radiasi ultraviolet, hewan-hewan ini merespons dengan cara tidur lebih lama.
Ini menunjukkan bahwa tidur adalah waktu "servis rutin" di mana sel-sel saraf memperbaiki diri agar tidak rusak secara permanen.
"Tidur sangat penting untuk melindungi dan memperbaiki neuron, bukan hanya untuk mendukung kesehatan otak," ungkap Lior Appelbaum, neurobiologis dari Bar-Ilan University.
Fenomena tidur pada makhluk tak berotak ini sebenarnya memperkuat studi sebelumnya yang dilakukan oleh para peneliti dari Kyushu University di Jepang.
Mengutip dari Phys.org, penelitian pada hydra, hewan air kecil tanpa sistem saraf pusat, menunjukkan bahwa mereka juga mengalami fase mirip tidur.
Hewan-hewan purba ini bahkan bereaksi terhadap zat kimia yang memicu kantuk pada manusia, seperti melatonin. Fakta ini memberikan perspektif baru bagi dunia medis.
Jika kita bisa memahami bagaimana sel saraf memperbaiki diri saat tidur pada makhluk sederhana ini, kita mungkin bisa menemukan jawaban atas penyakit degeneratif pada manusia seperti Alzheimer.
Banyak pasien Alzheimer mengalami gangguan tidur parah, dan penelitian ini memperkuat teori bahwa kurang tidur menyebabkan penumpukan kerusakan DNA yang mempercepat kerusakan otak.
Jadi, lain kali jika kamu merasa malas karena ingin tidur lebih lama, ingatlah bahwa ubur-ubur pun butuh delapan jam sehari untuk menjaga sel saraf mereka tetap sehat.
Tidur bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara alam semesta menjaga kehidupan tetap berjalan.
Disadur dari Smithsonian Magazine - Even Though They Don’t Have Brains to Rest, Jellyfish and Sea Anemones Sleep Like Humans.

إرسال تعليق