Kematian organisme ternyata tak selalu akhir bagi sel; riset xenobot memunculkan gagasan keadaan biologis baru yang mengguncang definisi hidup.
Ringkasan
- Xenobot menunjukkan sel dapat berorganisasi ulang setelah kematian organisme, memunculkan konsep “keadaan ketiga”.
- Sebagian ilmuwan menilai temuan ini mendukung gagasan kesadaran seluler, sementara lainnya menolaknya sebagai spekulasi.
- Terlepas dari kontroversi, riset sel adaptif membuka peluang besar bagi inovasi medis.
SELAMA ini, siklus biologis kita tampak sangat sederhana: kita lahir, hidup, lalu mati. Selesai. Namun, jika kita melihat lebih dalam ke tingkat seluler, ceritanya menjadi jauh lebih liar.
Tubuh kita sebenarnya adalah koleksi dari sekitar 30 triliun sel yang bekerja sama. Menariknya, bagi sebagian sel, kematian kita bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang benar-benar baru.
Para peneliti kini menyoroti apa yang disebut sebagai "status ketiga" (third state).
Ini adalah kondisi di mana sel-sel dari organisme yang sudah mati dapat mengatur ulang dirinya menjadi organisme multiseluler baru dengan fungsi yang berbeda.
Contohnya adalah xenobots (dari sel katak) dan anthrobots (dari sel manusia).
Sel-sel ini tidak lagi menjalankan tugas aslinya, seperti memindahkan lendir, tetapi justru berubah fungsi menjadi alat gerak untuk menjelajah lingkungan.
Peter Noble, ahli mikrobiologi dari University of Alabama, dan Alex Pozhitkov dari City of Hope, berpendapat bahwa kemampuan sel untuk "berubah wujud" pasca-kematian ini menantang ide lama bahwa evolusi sel hanya terjadi secara kaku.
Bahkan, muncul teori radikal yang disebut Cellular Basis of Consciousness (CBC).
William Miller, penulis buku The Sentient Cell, berpendapat bahwa kita selama ini meremehkan kemampuan kognitif sel.
"Organisme secara keseluruhan mungkin sudah tidak merespons (mati), tetapi sub-kelompok sel tetap aktif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah," ungkap Miller.
Baginya, unit dasar agen biologis bukanlah otak, melainkan sel yang "sadar".
Tidak semua ilmuwan setuju dengan label "sadar" atau "pintar" pada sel. Lincoln Taiz, ahli biologi tanaman dari UC Santa Cruz, menyebut teori kesadaran sel sebagai latihan intelektual tanpa bukti empiris yang kuat.
Menurutnya, sel yang berperilaku aneh saat dikeluarkan dari lingkungannya adalah hal biasa yang sudah diketahui sejak puluhan tahun lalu, bukan tanda adanya kesadaran.
Wendy Ann Peer dari University of Maryland juga menambahkan bahwa ide kesadaran sel kekurangan ketegasan ilmiah.
Baginya, perubahan perilaku sel xenobots hanyalah ekspresi gen yang berbeda karena sel tersebut tidak lagi menerima sinyal dari "tetangga" sel lainnya setelah organisme mati.
Terlepas dari perdebatan apakah sel itu "sadar" atau tidak, potensi medis dari penemuan ini sangatlah masif.
Melansir dari jurnal Nature, teknologi biobot seperti ini di masa depan dapat digunakan untuk mengirimkan obat secara presisi ke titik luka atau membersihkan plak di pembuluh darah.
Caranya, menggunakan jaringan tubuh pasien itu sendiri sehingga tidak ada risiko penolakan imun.
Ilmuwan seperti Michael Levin dari Tufts University percaya bahwa manusia sering gagal mengenali kecerdasan jika ukurannya terlalu kecil atau terlalu besar.
Jika kita bisa memahami bagaimana sel bekerja sama dan "berpikir", kita bisa bermitra dengan mereka untuk menciptakan bentuk kehidupan baru yang membantu kesehatan manusia.
Dunia biologi kini sedang bergeser. Sel bukan lagi sekadar robot biologis kecil yang patuh, melainkan aktor utama yang memegang kunci masa depan kesehatan kita, baik dalam keadaan hidup, mati, maupun di "status ketiga".
Disadur dari Popular Mechanics.
.jpg)
Posting Komentar