Gudang benih global menyimpan cadangan genetik tanaman dunia sebagai asuransi terakhir manusia menghadapi bencana, perang, dan krisis iklim.
Ringkasan
- Genebank menyimpan keanekaragaman genetik tanaman sebagai perlindungan dari kelaparan dan krisis global.
- Benih-benih kuno menyimpan sifat adaptif penting untuk menghadapi perubahan iklim ekstrem.
- Svalbard Global Seed Vault berfungsi sebagai cadangan terakhir jika genebank dunia gagal.
AWAL 1940-an, di tengah pengepungan Leningrad selama 872 hari, sembilan ilmuwan memilih mati kelaparan demi melindungi sebuah perpustakaan.
Bukan perpustakaan buku, melainkan koleksi benih dari berbagai penjuru dunia.
Peristiwa tragis ini menandai kelahiran bank benih pertama di dunia, cikal bakal gudang genetik yang kini menjadi penopang ketahanan pangan global.
Bank genetik, atau genebank, adalah fasilitas penyimpanan materi genetik seperti biji tanaman dan sel. Gagasan ini dirintis oleh Nikolai Vavilov, ilmuwan Rusia yang terobsesi pada keanekaragaman hayati tanaman.
Ia membayangkan satu pusat koleksi benih dunia yang dapat dimanfaatkan ilmuwan dan petani untuk mencegah kelaparan. Dalam 115 ekspedisi ke 64 negara, Vavilov mengumpulkan sekitar 380.000 sampel benih.
Koleksi itu begitu bernilai hingga menjadi incaran Jerman Nazi. Meski Vavilov wafat di kamp kerja paksa, idenya hidup dan berkembang menjadi sistem genebank global.
Kini, ratusan genebank berdiri di seluruh dunia. Hampir setiap negara memiliki bank genetik nasional. Lembaga seperti Crop Trust berperan mendukung operasional genebank melalui pendanaan, pelatihan, dan teknologi.
“Dalam keadaan darurat besar, genebank adalah Bahtera Nuh kita,” ujar Stefan Schmitz, direktur eksekutif Crop Trust, kepada Popular Science.
Nilai utama genebank terletak pada keanekaragaman genetik. Sejarah Kelaparan Kentang Irlandia menunjukkan bahaya menanam satu varietas secara seragam: satu penyakit saja bisa memusnahkan panen nasional.
Dengan menyimpan ribuan varietas, genebank menyediakan “opsi cadangan” bagi umat manusia.
Salah satu contoh penting adalah koleksi International Center for Agricultural Research in the Dry Areas (ICARDA) di Maroko dan Lebanon.
Di sana tersimpan varietas tanaman liar, bentuk awal domestikasi, hingga benih lokal yang telah beradaptasi selama ribuan tahun. Banyak di antaranya berasal dari kawasan Bulan Sabit Subur, tempat lahir pertanian.
Benih-benih ini menyimpan sifat ketahanan terhadap panas ekstrem, kekeringan, dan salinitas, kualitas yang sangat dibutuhkan di era perubahan iklim.
Genebank juga berfungsi sebagai pusat riset. Peneliti dan pemulia tanaman dapat meminta sampel untuk mengembangkan varietas yang lebih bergizi atau tahan iklim.
Selain itu, genebank menjadi jaring pengaman saat bencana atau perang menghancurkan pertanian lokal, dengan menyediakan benih lama yang sudah teruji lingkungan setempat.
Namun genebank sendiri rentan. Pemadaman listrik, konflik, atau kerusakan infrastruktur dapat menghancurkan koleksi dalam semalam.
Karena itu, dunia membangun “cadangan untuk cadangan”: Svalbard Global Seed Vault di Norwegia, dibuka pada 2008.
Terletak di wilayah beku dekat Kutub Utara, gudang ini memanfaatkan permafrost alami agar benih tetap aman meski listrik padam. Hingga kini, Svalbard menyimpan lebih dari 1,3 juta sampel benih dari hampir seluruh negara di dunia.
Keberadaan Svalbard terbukti krusial saat perang saudara Suriah memaksa evakuasi genebank ICARDA pada 2014.
Salinan benih yang sebelumnya dikirim ke Svalbard berhasil diambil kembali untuk membangun koleksi baru di Maroko dan Lebanon.
Kini, skenario serupa terjadi di Sudan, di mana benih kembali dikirim sebagai persiapan pemulihan pascakonflik.
Di tengah krisis iklim, perang, dan ketidakpastian global, gudang-gudang benih ini bukan sekadar arsip.
Mereka adalah rencana cadangan peradaban, sunyi, dingin, dan nyaris tak terlihat, tetapi menentukan masa depan pangan manusia.
Disadur dari Popular Science.
.jpg)
إرسال تعليق