Studi baru menunjukkan konsumsi jintan hitam mampu menurunkan lemak darah dan mencegah pembentukan sel lemak.
Ringkasan
- Konsumsi 5 gram jintan hitam tiap hari menurunkan LDL, trigliserida, dan meningkatkan HDL.
- Ekstrak jintan hitam menghambat pembentukan sel lemak melalui mekanisme adipogenesis.
- Studi memperkuat potensi jintan hitam sebagai makanan fungsional untuk mencegah obesitas dan penyakit metabolik.
JINTAN HITAM atau Nigella sativa kembali menarik perhatian dunia sains. Biji yang selama berabad-abad digunakan dalam pengobatan tradisional ini ternyata memiliki manfaat anti-obesitas yang kuat.
Hal tersebut seperti dibuktikan dalam riset terbaru oleh tim Osaka Metropolitan University.
Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi harian jintan hitam dapat memperbaiki profil lipid darah sekaligus menghambat pembentukan sel lemak di tingkat seluler.
Dalam tradisi kesehatan seperti Unani, Ayurveda, dan Tibb, jintan hitam telah lama dianggap sebagai “obat serba bisa”.
Tidak mengherankan, karena biji dan minyaknya kaya akan senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, dan minyak esensial.
Komponen-komponen inilah yang memberi jintan hitam berbagai potensi terapeutik, mulai dari antimikroba, antiinflamasi, antidiabetes, hingga antitumor.
Salah satu senyawa kuncinya, thymoquinone, telah lama diteliti karena efek antioksidan dan protektifnya.
Dalam studi yang dipublikasikan di Food Science & Nutrition, peneliti utama Dr. Akiko Kojima-Yuasa dan tim melakukan dua pendekatan, uji sel laboratorium dan uji klinis pada manusia.
Pada uji klinis, peserta mengonsumsi sekitar 5 gram bubuk jintan hitam setiap hari, setara satu sendok makan, selama delapan minggu.
Hasilnya cukup mencolok, kadar trigliserida, kolesterol LDL (kolesterol “jahat”), dan kolesterol total menurun signifikan, sementara kadar HDL (kolesterol “baik”) meningkat.
Peningkatan profil lipid darah seperti ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan rendahnya risiko penyakit jantung, stroke, dan kematian dini.
Dalam dunia kesehatan modern, perubahan profil lipid tanpa obat adalah temuan yang tidak bisa diremehkan.
Sementara itu, pada tingkat sel, peneliti menemukan bahwa ekstrak jintan hitam mampu menghambat adipogenesis, yaitu proses pembentukan dan pematangan sel lemak.
Ekstrak ini mencegah akumulasi droplet lemak sekaligus menghambat diferensiasi sel, yang berarti lebih sedikit sel lemak baru yang terbentuk.
Dr. Kojima-Yuasa mengatakan bahwa hasil ini menguatkan anggapan bahwa jintan hitam layak diposisikan sebagai makanan fungsional untuk mencegah obesitas serta penyakit gaya hidup lainnya.
Ia menambahkan bahwa melihat perubahan nyata dalam uji klinis manusia adalah pencapaian yang memuaskan.
Timnya kini berencana melanjutkan penelitian dengan uji klinis lebih panjang dan lebih besar, terutama terkait efek jintan hitam terhadap resistensi insulin dan penanda inflamasi.
Temuan ini juga sejalan dengan riset sebelumnya. Studi di Journal of Ethnopharmacology (2019) menunjukkan bahwa thymoquinone dapat menurunkan peradangan dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Sementara ulasan ilmiah di Nutrients (2021) melaporkan potensi jintan hitam dalam menurunkan berat badan pada pasien obesitas, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.
Sinergi penelitian baru dari Jepang ini memperjelas mekanisme utamanya, efek langsung pada sel lemak dan perbaikan lipid darah.
Dengan prevalensi obesitas global yang terus meningkat, penemuan makanan fungsional yang aman dan mudah diperoleh seperti jintan hitam menjadi semakin penting sebagai strategi pendukung kesehatan masyarakat.
Disadur dari Sci.News.

Posting Komentar