Limbah Tambang Lithium Bikin Beton Lebih Kuat

Penelitian baru menunjukkan limbah tambang lithium dapat memperkuat beton sekaligus mengurangi dampak lingkungan industri konstruksi dan pertambangan.


Penelitian baru menunjukkan limbah tambang lithium dapat memperkuat beton sekaligus mengurangi dampak lingkungan industri konstruksi dan pertambangan.Ilustrasi: onlyyouqj/Freepik


Ringkasan

  • Limbah tambang lithium bernama DβS terbukti dapat memperkuat beton hingga 74%.
  • Pemanfaatan ini membantu mengurangi limbah berbahaya serta emisi dari industri konstruksi.
  • Penelitian membuka peluang besar bagi beton berkelanjutan berbasis limbah industri.


BETON adalah material paling banyak diproduksi di dunia, lebih dari 25 miliar ton digunakan setiap tahun. Fungsinya memang vital, namun membawa dampak buruk.


Beton menyumbang sekitar 8% emisi gas rumah kaca global dan menghabiskan banyak sumber daya tidak terbarukan. 


Kini, sebuah terobosan dari para peneliti Australia menawarkan jalan keluar: mengubah limbah tambang lithium menjadi bahan penguat beton yang lebih kuat dan berkelanjutan. 


Masalah utama dari industri lithium adalah proses ekstraksinya yang sangat membebani lingkungan. 


Lithium biasanya ditambang dari batuan keras seperti spodumen, dan setiap 1 ton lithium hydroxide monohydrate yang dihasilkan dapat menghasilkan 7–10 ton limbah bernama delithiated β-spodumene (DβS). 


Limbah ini selama ini dikategorikan sebagai limbah berbahaya karena belum ada pemanfaatan yang jelas. Pembuangannya pun menimbulkan risiko bagi tanah dan air bawah permukaan


Tim insinyur dari Flinders University, Australia Selatan, menemukan bahwa DβS memiliki sifat pozzolanic, yaitu dapat bereaksi secara kimia dan membantu pengikatan material dalam beton. 


Sifat ini membuat beton lebih padat, kurang permeabel, dan lebih tahan terhadap korosi. 


Studi mereka mengungkapkan bahwa ketika DβS digunakan sebagai binding agent dalam pembuatan beton, kinerjanya meningkat signifikan baik dalam kekuatan maupun ketahanan jangka panjang.


Dalam percobaannya, para peneliti mengganti fly ash, limbah pembakaran batubara yang biasa digunakan dalam beton geopolimer, dengan DβS pada porsi 25%. 


Hasilnya mencengangkan. Kekuatan beton meningkat 34% dibanding campuran yang menggunakan 100% fly ash. Bahkan ketika rasio larutan alkali dioptimalkan, peningkatannya bisa mencapai 74%. 


Ini menunjukkan DβS bukan hanya alternatif, tetapi peningkat kinerja yang nyata.


Struktural engineer Dr. Aliakbar Gholampur, pemimpin studi ini yang dipublikasikan dalam Materials and Structures, menegaskan, pemanfaatan DβS dapat menjadi solusi sirkular bagi industri pertambangan dan konstruksi. 


Dengan makin meningkatnya produksi lithium untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik dan perangkat elektronik, jumlah limbah DβS juga semakin besar. 


Kalau tidak dimanfaatkan, limbah ini bisa memperparah kerusakan lingkungan.


Gholampur bukan pendatang baru dalam inovasi beton berkelanjutan. Pada 2022, ia juga memimpin riset tentang geopolimer berbahan serat alami dan pasir hasil daur ulang limbah industri. 


Terobosan tersebut menunjukkan kemungkinan masa depan beton yang lebih hijau tanpa mengorbankan kekuatan maupun durabilitas.


Temuan terbaru terkait DβS ini menambah daftar inovasi material berkelanjutan di dunia beton. Sebelumnya, berbagai penelitian telah menunjukkan potensi.


Sebut saja, daur ulang beton bekas menjadi bahan konstruksi baru atau penggunaan reruntuhan beton sebagai bahan dalam proses peleburan baja untuk membuat semen nol karbon yang diaktifkan kembali.


Atau ada juga teknologi futuristik seperti concrete battery yang dapat menyimpan energi.


Dengan meningkatnya kebutuhan akan pembangunan infrastruktur dan teknologi rendah emisi, pemanfaatan limbah industri sebagai bahan konstruksi menjadi kunci. 


Penelitian ini menunjukkan bahwa masa depan beton bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga keberlanjutan, dan kadang jawabannya datang dari tempat yang tidak terduga, seperti limbah tambang lithium.


Disadur dari New Atlas.


Post a Comment

أحدث أقدم