Riset baru menunjukkan orang lebih menilai argumen politik berdasarkan keyakinan pribadi ketimbang kualitas bukti yang disajikan.
Ringkasan
- Keyakinan politik pribadi memiliki pengaruh tiga kali lebih besar dibanding kualitas argumen dalam menilai kekuatan suatu argumen.
- Orang tetap menganggap argumen buruk sebagai “baik” jika sejalan dengan pandangan mereka, bahkan ketika argumen tersebut tidak konsisten.
- Riset ini mempertegas tantangan besar dalam literasi media bahwa bias internal sering mengalahkan data dan logika.
KETIKA disajikan dua argumen, satu logis dan satu lemah, mana yang akan kita nilai lebih baik?
Ketika membicarakan politik, kita sering merasa sudah cukup “objektif” untuk menilai mana argumen yang kuat dan mana yang lemah. Hasil studi dari yang diterbitkan di jurnal Cognition justru menemukan hal sebaliknya.
Otak kita cenderung lebih memihak apa yang kita yakini daripada bukti yang sebenarnya lebih kuat.
Temuan ini mengingatkan bahwa kemampuan literasi media, yang sering digaungkan di tengah derasnya informasi digital, masih memiliki tantangan besar di ranah psikologi manusia.
Penelitian ini dilakukan oleh Calvin Deans-Browne dan Henrik Singmann, yang menguji bagaimana orang menilai argumen terkait isu-isu politik seperti legalitas aborsi, kebijakan senjata, hingga perubahan iklim.
Melalui tiga eksperimen, mereka menemukan pola konsisten: kualitas argumen memang berpengaruh, tetapi kesesuaian argumen dengan keyakinan pribadi memiliki dampak tiga kali lebih besar.
Dalam eksperimen pertama, peserta diminta menilai kualitas argumen “baik” dan “buruk.” Argumen yang "baik" didukung oleh bukti kuat, seperti data statistik yang valid atau hubungan sebab-akibat yang jelas.
Sebaliknya, argumen yang "buruk" mengandung cacat serius, mulai dari penalaran berputar-putar (mengulang klaim), hingga menggantungkan diri pada otoritas, popularitas, atau tradisi tanpa bukti nyata.
Hasilnya? Peserta bisa membedakan mana yang logis dan mana yang rapuh, tetapi tetap memberikan skor lebih tinggi pada argumen yang sejalan dengan pandangan mereka, tak peduli seberapa buruk kualitasnya.
Eksperimen kedua menguji apakah urutan tugas (menyebutkan keyakinan dulu atau menilai argumen dulu) memengaruhi objektivitas. Bias keyakinan tetap menjadi faktor dominan, terlepas dari instruksi atau urutan kegiatan.
Dalam eksperimen ketiga, yang melibatkan responden dari kubu politik yang lebih seimbang.
Para peneliti membandingkan argumen yang buruk berdasarkan "daya tarik otoritas" (misalnya, mengutip tokoh terkenal) dengan argumen yang buruk berdasarkan "bukti yang tidak konsisten".
Peserta justru menilai argumen dengan bukti inkonsisten sebagai lebih baik. Padahal, secara logika, argumen inkonsisten seharusnya langsung memicu alarm kritis.
Yang lebih menarik, preferensi ini bergeser mengikuti arah politik peserta. Kalimatnya hampir identik, hanya urutannya diubah agar condong ke “kiri” atau “kanan.”
Karena teksnya hampir sama, ini mengonfirmasi bahwa penilaian tersebut didorong oleh keyakinan awal peserta, bukan struktur argumen itu sendiri.
Dengan kata lain, kualitas argumen yang tampak tidak masuk akal pun bisa dianggap “lumayan bagus” jika cocok dengan keyakinan kita.
Deans-Browne mengaku terkejut melihat orang-orang menilai argumen yang tidak konsisten (bahkan tidak masuk akal jika dibaca teliti) lebih baik daripada argumen berbasis otoritas yang lebih mudah dipahami.
Riset ini memperkuat temuan sebelumnya dalam psikologi kognitif mengenai motivated reasoning, yakni kecenderungan manusia menyesuaikan proses berpikir untuk mempertahankan kepercayaan mereka, bukan mencari kebenaran objektif.
Fenomena ini berbahaya di era ketika media sosial memperkuat ruang gema (echo chambers), mempercepat penyebaran misinformasi, dan membuat filter informasi semakin dipersonalisasi.
Literasi media, yang idealnya mengajarkan masyarakat membedah bukti, memeriksa kredibilitas sumber, dan mengenali manipulasi emosional, tampaknya masih perlu melawan bias paling dasar dalam otak manusia, yakni kebutuhan untuk merasa “benar.”
Hal ini sejalan dengan temuan riset lain.
Misalnya studi dari Nature Human Behaviour yang menunjukkan bahwa orang cenderung percaya misinformasi yang sesuai preferensi politik, dibanding fakta yang bertentangan dengan pandangannya.
Deans-Browne menegaskan bahwa bukti berkualitas tetap penting—orang masih bisa mengenalinya.
Hanya saja, kualitas itu sering kalah telak jika argumen tidak sejalan dengan pandangan awal pembaca. Ini membuat upaya persuasi berbasis data semata sering tidak cukup efektif.
Penelitian ini membuka dua pelajaran penting. Pertama, argumen kuat tetap perlu, tetapi strategi komunikasi harus mempertimbangkan orientasi awal audiens.
Kemudian, literasi media bukan cuma soal mengenal hoaks, tetapi juga mengenali bias dalam diri sendiri.
Pada akhirnya, dua orang bisa membaca argumen yang sama tetapi memahaminya secara sangat berbeda. Dan penyebabnya bukan pada kualitas logika, melainkan pada keyakinan yang telah tertanam sebelumnya.
Disadur dari PsyPost.

Posting Komentar