Penanggalan radiokarbon mengindikasikan aksara misterius Rapa Nui mungkin lahir sebelum kontak Eropa, menantang sejarah asal-usul tulisan manusia.
Ringkasan
- Penanggalan radiokarbon menunjukkan salah satu tablet Rongorongo berasal dari sebelum kedatangan Eropa.
- Rongorongo berpotensi menjadi sistem tulisan mandiri terakhir dalam sejarah manusia.
- Temuan ini menantang asumsi lama tentang kemampuan budaya masyarakat pulau terpencil.
PULAU Paskah atau Rapa Nui, nama aslinya, selama ini dikenal dunia lewat patung-patung batu raksasa moai yang berdiri menghadap samudra.
Namun sebuah temuan terbaru menunjukkan bahwa pulau terpencil di Pasifik tenggara ini mungkin menyimpan warisan yang jauh lebih revolusioner. Sistem tulisan mandiri yang lahir tanpa pengaruh dunia luar.
Para peneliti melaporkan hasil penanggalan radiokarbon terhadap artefak kayu bertuliskan Rongorongo, sistem aksara bergambar tiga dimensi yang hingga kini belum berhasil dipecahkan.
Dari 27 benda kayu bertulis Rongorongo yang diketahui masih ada, empat dianalisis secara ilmiah. Salah satunya menunjukkan usia antara 1493 hingga 1509, jauh sebelum kedatangan penjelajah Eropa pertama di Rapa Nui pada 1722.
Temuan ini berpotensi menjawab pertanyaan lama yang menghantui arkeolog dan sejarawan bahasa, apakah Rongorongo diciptakan secara mandiri oleh masyarakat Rapa Nui, atau terinspirasi oleh alfabet Eropa?
Jika benar sistem ini sudah ada sebelum kontak Eropa, maka Rongorongo akan masuk dalam daftar sangat langka sistem tulisan yang berkembang secara independen dalam sejarah manusia.
Pulau Rapa Nui sendiri merupakan salah satu tempat paling terisolasi di dunia, berjarak sekitar 3.800 kilometer dari pantai Chili, negara yang menganeksasinya pada 1888.
Leluhur masyarakat Rapa Nui diperkirakan tiba di pulau ini sekitar tahun 1150–1280 M, dan hidup relatif terputus dari dunia luar selama berabad-abad.
Isolasi ekstrem inilah yang membuat kemungkinan pengaruh asing terhadap Rongorongo menjadi perdebatan serius.
Menurut Silvia Ferrara, arkeolog dan ahli linguistik dari Universitas Bologna yang memimpin studi ini, struktur Rongorongo sangat berbeda dari sistem tulisan Eropa.
Aksara ini menggunakan rangkaian simbol piktografis (glyph) yang dibaca dengan pola unik, bahkan pada beberapa tablet tampak dibaca secara reverse boustrophedon, arah bacanya berganti di setiap baris.
Ciri-ciri ini memperkuat dugaan bahwa Rongorongo bukan tiruan sistem tulisan Barat.
Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports, Ferrara menegaskan bahwa jika Rongorongo memang lebih tua dari kedatangan orang Eropa.
Sebab itu, tulisan itu dapat disejajarkan dengan penemuan tulisan mandiri lain seperti di Mesopotamia, Mesir, Tiongkok, dan Mesoamerika.
Bedanya, sistem-sistem tersebut berkembang di masyarakat dengan negara kompleks, sementara Rapa Nui adalah masyarakat pulau kecil dengan sumber daya terbatas, fakta yang membuat temuan ini semakin mengejutkan.
Meski demikian, penelitian ini tidak tanpa catatan kritis. Penanggalan radiokarbon hanya menunjukkan kapan pohon ditebang, bukan kapan tulisan diukir.
Namun Ferrara berpendapat kecil kemungkinan kayu disimpan ratusan tahun sebelum digunakan sebagai media tulis.
Kendala lain adalah ukuran sampel, hanya satu tablet yang terbukti pra-Eropa, sementara tablet lainnya berasal dari periode setelah kontak dengan dunia luar.
Masalah terbesar justru bersifat logistik. Tablet Rongorongo yang tersisa tersebar di museum-museum Eropa dan Amerika, sering kali dengan akses penelitian yang terbatas.
Padahal, hanya dengan analisis lebih banyak artefak, hipotesis penemuan tulisan mandiri ini bisa diuji secara lebih meyakinkan.
Di luar perdebatan teknis, temuan ini memiliki implikasi besar. Ia menantang pandangan lama bahwa masyarakat pulau terpencil tidak mampu mengembangkan sistem simbol kompleks.
Jika Rongorongo benar-benar lahir secara mandiri, maka sejarah kecerdasan budaya manusia perlu ditulis ulang, dengan Rapa Nui mendapat tempat yang lebih layak di dalamnya.
Disadur dari Popular Mechanics.

Posting Komentar