Doa Memohon Hujan Jadi "Sinyal" Krisis Iklim yang Akurat

Riset baru menunjukkan doa hujan di Afrika Utara bisa menjadi indikator penting kekeringan yang tak tercatat instrumen modern.


Riset baru menunjukkan doa hujan di Afrika Utara bisa menjadi indikator penting kekeringan yang tak tercatat instrumen modern.Ilustrasi dibuat oleh AI.


Ringkasan 

  • Pengumuman doa hujan Salat Istisqa berkorelasi kuat dengan tingkat kekeringan di Afrika Utara, menjadikannya indikator iklim yang sah.
  • Ritual ini juga meningkat pada periode ketegangan sosial, menunjukkan fungsinya sebagai alat kohesi komunitas.
  • Data budaya seperti doa hujan dapat memperkuat model iklim, sistem peringatan dini, dan komunikasi risiko perubahan iklim.


BAGI Walid Ouaret, kandidat Ph.D. di University of Maryland, salat Istisqa ini bukan hanya sekadar doa. Ia menyadari, kegiatan keagamaan ini bisa menjadi titik data penting dalam memantau perubahan iklim.


Sebagian besar model iklim modern bertumpu pada data kuantitatif, curah hujan, kelembapan tanah, suhu permukaan, atau indeks satelit. Namun di sejumlah wilayah dunia data itu sering kali tidak lengkap atau bahkan tidak tersedia. 


Penelitian terbaru dari University of Maryland menunjukkan bahwa sinyal penting justru bisa datang dari sesuatu yang kerap dipandang spiritual, yakni doa bersama meminta hujan, atau salat Istisqa.


Gagasan ini muncul dari pengalaman masa kecil Ouaret, peneliti asal Aljazair yang tumbuh pada era kekeringan akhir 1990-an. 


Ia ingat bagaimana pemerintah mengumumkan doa hujan, dan warga berbondong menuju masjid untuk memohon turunnya hujan. 


Kini, sebagai peneliti hubungan iklim, pertanian, ia melihat ritual itu dengan kacamata baru sebagai 'proxy' ilmiah untuk mengukur tingkat keparahan kekeringan.


Dalam riset yang akan dipresentasikan di AGU Annual Meeting 2025, Ouaret dan tim menelusuri pengumuman doa hujan dari berbagai media di Aljazair, Maroko, dan Tunisia sepanjang 2000–2024. 


Mereka lalu mencocokkan tanggal-tanggal pengumuman ini dengan indeks kekeringan Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI).


Hasilnya, pengumuman Salat Istisqa berkorelasi signifikan dengan tingkat kekeringan 6 bulanan. Artinya, saat pemerintah atau otoritas agama mengumumkan doa hujan, kondisi kekeringan biasanya memang sudah parah. 


Ini menjadikan ritual tersebut indikator sosial, iklim yang bisa menambah celah data instrumen modern. Namun Ouaret menemukan sinyal lain, pengumuman doa hujan juga meningkat ketika terjadi ketegangan sosial. 


Artinya, selain respons terhadap cuaca ekstrem, ritual ini juga berfungsi sebagai alat kohesi sosial, mendorong masyarakat berkumpul dan menenangkan ketidakpastian.


Menurut antropolog ekologi Jen Shaffer (University of Maryland), temuan ini sangat penting untuk wilayah-wilayah yang minim stasiun cuaca. 


Ia menekankan bahwa masyarakat lokal sering kali merasakan perubahan lingkungan yang tidak terekam teknologi satelit.


Contohnya banyak, ritual pemanggilan hujan dilakukan di berbagai budaya, dari kachina masyarakat Pueblo di AS, pro pluvia dalam tradisi Katolik Spanyol, hingga Hari Doa untuk Hujan di Texas yang ditetapkan pemerintah negara bagian pada 2011. 


Praktik ini meninggalkan jejak sejarah yang potensial menjadi bahan rekonstruksi iklim masa lalu.


Dalam konteks ilmiah modern, memasukkan data budaya ke model iklim bukan perkara mudah. 


Namun karakter khas Salat Istisqa, yang diumumkan secara resmi dan tercatat tanggal serta lokasinya, menjadikannya unik dan dapat diintegrasikan ke sistem analisis iklim.


Menurut Ouaret, data doa hujan berpotensi menjadi sistem peringatan dini, yakni bila frekuensinya meningkat, berarti komunitas tertentu sedang memasuki fase kerentanan ekstrem. 


Tren ini juga terlihat jelas, ritual yang dulu muncul 5 tahun sekali kini bisa terjadi hampir setiap tahun, mencerminkan pergeseran iklim yang dirasakan langsung oleh warga.


Menariknya, memasukkan sinyal budaya ke dalam model sains juga menjadi cara untuk “mengesahkan” pengalaman masyarakat. Ini penting untuk membangun komunikasi risiko yang lebih mudah diterima. 


“Ketika model ilmiah berkata bahwa pengalaman mereka benar dan dapat diuji, itu memperkuat pemahaman komunitas,” ujar Ouaret.


Riset ini juga merupakan bagian dari dorongan lebih luas untuk memperkuat praktik open science di Afrika Utara, wilayah yang kerap terpinggirkan dalam riset iklim global. 


Ouaret berharap pendekatan partisipatif dapat membantu komunitas mengembangkan inovasi berbasis kebutuhan lokal.


Studi lain dari UN Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah mengalami peningkatan frekuensi kekeringan selama 30 tahun terakhir akibat pemanasan global. 


Kekeringan ekstrem ini berdampak pada produksi pangan dan stabilitas sosial, dua faktor yang juga tercermin dalam naik turunnya frekuensi doa hujan.


Dengan demikian, riset Ouaret tidak hanya menambah dimensi baru pada pemahaman iklim, tetapi juga menunjukkan bahwa sinyal sosial–budaya bisa menjadi sensor lingkungan yang belum banyak dimanfaatkan.


Disadur dari Eos.org.


Post a Comment

أحدث أقدم