Penelusuran DNA Pastikan Peristiwa Mengerikan nan Kelam Kru Ekspedisi ke Kutub Utara

Kanibalisme di antara kru ekspedisi Northwest Passage yan dipimpin Sir John Franklin ke Kutub Utara dikonfirmasi para ilmuwan melalui penelusuran DNA salah satu perwira.


Analisis DNA mengungkap identitas James Fitzjames dari Ekspedisi Franklin yang terjebak di Arktik pada tahun 1845. (Foto: Wikimedia)
Analisis DNA mengungkap identitas James Fitzjames dari Ekspedisi Franklin yang terjebak di Arktik pada tahun 1845. (Foto: Wikimedia)


ngarahNyaho - Para peneliti dari Universitas Waterloo dan Universitas Lakehead mengidentifikasi sisa-sisa kerangka seorang perwira senior ekspedisi Northwest Passage tahun 1845 menggunakan DNA dan analisis silsilah.


April 1848, James Fitzjames dari HMS Erebus memimpin 105 orang yang selamat dari kapal mereka yang terperangkap es untuk bisa keluar dari Kutub Utara. 


Sayangnya, tidak ada satu pun yang bisa bertahan. Sejak pertengahan abad ke-19, puluhan sisa-sisanya telah ditemukan di sekitar Pulau King William, Nunavut.


Identifikasi itu dimungkinkan oleh sampel DNA dari keturunan Fitzjames, yang cocok dengan DNA dari situs arkeologi di Pulau King William di mana ditemukan 451 tulang dari setidaknya 13 pelaut Franklin.


“Kami bekerja dengan sampel berkualitas baik yang memungkinkan kami menghasilkan profil kromosom Y, dan kami cukup beruntung mendapatkan sampel yang cocok,” kata Stephen Fratpietro dari laboratorium Paleo-DNA Lakehead.


Fitzjames adalah orang kedua dari 105 orang yang diidentifikasi secara positif. Satunya lagi adalah John Gregory, insinyur di kapal HMS Erebus, yang diidentifikasi oleh tim pada tahun 2021.


“Identifikasi jenazah Fitzjames memberikan wawasan baru tentang akhir menyedihkan ekspedisi tersebut,” kata Dr. Douglas Stenton, profesor antropologi di Waterloo.


Pada tahun 1850-an, orang-orang Inuit mengatakan kepada para pencari bahwa mereka telah melihat bukti bahwa para penyintas melakukan kanibalisme, yang mengejutkan sebagian orang Eropa. 


Laporan tersebut sepenuhnya dikuatkan pada tahun 1997 oleh mendiang Dr Anne Keenleyside yang menemukan bekas luka pada hampir seperempat tulang manusia di NgLj-2.


Hal tersebut membuktikan bahwa setidaknya empat jenazah pria yang meninggal di sana telah menjadi sasaran kekerasan kanibalisme.


Mandibula Fitzjames adalah salah satu tulang yang menunjukkan banyak bekas sayatan, yang menunjukkan bahwa setelah kematiannya, tubuhnya menjadi sasaran kanibalisme. 


“Ini menunjukkan, pangkat maupun status bukanlah prinsip yang menentukan di hari-hari terakhir ekspedisi yang menyedihkan ketika mereka berusaha menyelamatkan diri,” kata Stenton.


Orang-orang Eropa pada abad ke-19 percaya bahwa semua kanibalisme secara moral tercela.


“Ini menunjukkan tingkat keputusasaan yang dirasakan para pelaut Franklin ketika melakukan sesuatu yang mereka anggap menjijikkan,” kata Dr Robert Park, profesor antropologi Waterloo.


Dia menambahkan, ekspedisi ke Kutub Utara 179 tahun yang lalu telah menarik minat yang luas terhadap nasib para kru, menghasilkan banyak buku dan artikel spekulatif serta film. 


"Penelitian arkeologi yang cermat seperti ini menunjukkan bahwa kisah nyata juga sama menariknya, dan masih banyak yang harus dipelajari,” kata Park.


Jenazah Fitzjames dan pelaut lain yang tewas bersamanya sekarang dikuburkan di piramida dari batu peringatan di lokasi tersebut dengan sebuah plakat. |


Sumber: Scitech Daily 

Post a Comment

أحدث أقدم