Misteri Hutan nan Subur dalam Amblesan Lubang Raksasa di Cina Mulai Terkuak

Para peneliti membandingkan 64 spesies tanaman dari dalam dan luar 30 lubang runtuhan di Leye, Cina.


Salah satu amblesan lubang di Cina. (Foto: Cuplikan layar BBC)
Salah satu amblesan lubang di Cina. (Foto: Cuplikan layar BBC)


ngarahNyaho - Studi terbaru mengungkapkan misteri tanaman yang tumbuh subur di hutan dalam amblesan lubang raksasa atau sinkhole di Cina. 


Medan karst di barat daya Cina memiliki lubang sedalam 100 meter yang disebut tiankeng. Kata tiankeng berasal dari bahasa Mandarin dan berarti “lubang surgawi”.


Sinkhole ini adalah rumah bagi hutan purba serta tanaman unik. Namun, para ilmuwan telah lama kebingungan bagaimana tanaman ini bisa tumbuh subur di habitat yang terisolasi.


Para ilmuwan telah menemukan rahasia kesuksesan mereka: sumber nutrisi yang melimpah.


Terlindungi


Amblesan lubang sering kali menandakan bencana, namun ada juga yang, seperti Tiankeng, melestarikan alam.


Lubang Tiankeng merupakan cekungan alami yang sebagian besar ditemukan di kawasan karst, yang dibedakan oleh batuan terlarut seperti batu kapur, dolomit, dan gipsum. 


Beberapa di antaranya memiliki kedalaman setidaknya 100 meter (328 kaki).


Lubang-lubang tersebut melindungi tanaman yang tumbuh subur di lingkungan yang lembap dan teduh, dengan beberapa spesies hanya terdapat di area tersebut. 


Menurut Live Science, lubang ini adalah rumah bagi pohon salam, jelatang, dan pakis. Tiankeng juga menjadi tuan rumah bagi tanaman hutan karst modern, seperti hog plum Nepal dan lonceng hujan Cina. 


Tanaman di lubang pembuangan, tidak seperti tanaman di permukaan, memiliki akses mudah ke nitrogen, fosfat, kalium, kalsium, dan magnesium.


Nutrisi penting ini, yang seringkali langka di permukaan tanah, memicu pertumbuhan yang cepat, sehingga memungkinkan tanaman meraih sinar matahari terbatas yang menyaring kedalamannya.


“Tanaman dapat beradaptasi terhadap lingkungan yang merugikan dengan menyesuaikan kandungan nutrisinya,” menurut penelitian tersebut.


“Karena tebing yang menjulang tinggi dan medan tiankeng yang curam, tiankeng tidak terlalu terganggu oleh aktivitas manusia.” Medan Tiankeng yang tidak dapat diakses telah melindunginya dari gangguan manusia.


Tanaman dalam lubang


Para peneliti membandingkan 64 spesies tanaman dari dalam dan luar 30 lubang runtuhan di Leye. Fokus penelitian adalah menganalisis tingkat karbon dan unsur hara untuk mengetahui perbedaan strategi pertumbuhan tanaman.


Peneliti membandingkan stoikiometri kimia unsur hara karbon (C), nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg) pada daun tanaman di dalam dan di luar kelompok Tiankeng.


Kelompok yang berada di luar Tiankeng tersebut di antaranya di Dashiwei dan Guangxi.


Tanaman-tanaman ini kemungkinan besar telah mengembangkan strategi unik untuk bertahan hidup dalam kondisi cahaya redup.


Mereka mengurangi kandungan karbonnya dan fokus pada memaksimalkan asupan nutrisi. Ini memungkinkan mereka tumbuh subur di lingkungan lembap tanpa memerlukan penghemat air yang ekstensif.


Di sisi lain, karbon sangat penting bagi tanaman darat, memberikan dukungan struktural dan membantu retensi air. Dan itulah sebabnya, tanaman di permukaan ditemukan memiliki lebih banyak karbon.


Kata peneliti, hutan di luar lubang memiliki intensitas cahaya yang tinggi, penguapan air yang cepat, tanah yang buruk, gangguan yang lebih besar dari aktivitas manusia, dan mudahnya kehilangan tanah. 


Berdasarkan analisis cluster, 64 tanaman dapat diklasifikasikan menjadi tanaman yang menyukai kalsium dan tahan kekeringan tinggi, tanaman seimbang dan tanaman dengan produktivitas tinggi.


Temuan para peneliti tersebut dipublikasikan di Chinese Journal of Plant Ecology. |


Sumber: Interesting Engineering 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama