Penelitian terbaru Florida State University menjelaskan secara matematis di balik bagaimana kecenderungan awal dan informasi tambahan memengaruhi pengambilan keputusan.
Hitungan matematis saat mengambik keputusan. (Foto Ilustrasi: wayhomestudio/Freepik)
ngarahNyaho - “Hasil dasarnya mungkin tampak intuitif, tetapi matematika yang harus kami terapkan untuk membuktikan hal ini benar-benar tidak sepele,” kata Bhargav Karamched.
Karamched adalah rekan penulis pada penelitian yang diterbitkan di Physical Review E ini. Ia juga merupakan asisten profesor di Departemen Matematika FSU dan Institut Biofisika Molekuler.
“Kami melihat bahwa untuk penentu pertama di sebuah grup, lintasan keyakinan mereka hampir seperti garis lurus. Penentu terakhir melayang-layang, bolak-balik beberapa saat sebelum mengambil keputusan.
"Meskipun persamaan yang mendasari keyakinan masing-masing agen adalah sama kecuali bias awalnya, statistik dan perilaku setiap individu sangat berbeda.”
Temuan Karamched dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa ketika pengambil keputusan dengan cepat, keputusan tersebut lebih dipengaruhi oleh bias awal mereka.
Bisa juga kecenderungan untuk melakukan kesalahan pada salah satu pilihan yang disajikan.
Jika pengambil keputusan menunggu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi, maka pengambilan keputusan yang lambat akan mengurangi bias.
Para peneliti membangun model matematika yang mewakili sekelompok agen yang diminta untuk memutuskan antara dua kesimpulan, satu kesimpulan yang benar dan satu lagi yang salah.
Model ini berasumsi, masing-masing aktor dalam suatu kelompok bertindak secara rasional, yaitu mengambil keputusan berdasarkan bias awal dan informasi yang disajikan, dan tidak terpengaruh oleh keputusan individu di sekitar mereka.
Bahkan dengan bukti dan asumsi rasionalitas yang sempurna, bias terhadap keputusan tertentu menyebabkan pengambil keputusan paling awal dalam model membuat kesimpulan yang salah sebanyak 50 persen.
Semakin banyak informasi yang dikumpulkan para pelaku, semakin besar kemungkinan mereka berperilaku seolah-olah mereka tidak bias dan sampai pada kesimpulan yang benar.
Tentu saja, di dunia nyata, orang-orang dipengaruhi oleh berbagai macam masukan, seperti emosi, keputusan yang diambil teman, dan variabel lainnya.
Penelitian ini menawarkan metrik yang menunjukkan bagaimana individu dalam suatu kelompok harus mengambil keputusan jika mereka bertindak rasional.
Penelitian di masa depan dapat membandingkan data dunia nyata dengan metrik ini untuk melihat di mana orang-orang beralih dari pilihan rasional yang optimal dan mempertimbangkan apa yang mungkin menyebabkan perbedaan tersebut.
Model yang peneliti buat dikenal sebagai model difusi penyimpangan (drift diffusion model), disebut demikian karena menggabungkan dua konsep.
Pertama, kecenderungan masing-masing aktor untuk “melayang”, atau bergerak ke arah suatu hasil berdasarkan bukti, dan kedua secara “difusi” acak, atau variabilitas informasi yang disajikan.
Penelitian ini dapat digunakan, misalnya, untuk memahami ketika orang terlalu terpengaruh oleh keputusan awal atau menjadi korban pemikiran kelompok.
Bahkan membantu menggambarkan skenario kompleks lainnya dengan banyak aktor individu, seperti sistem kekebalan atau perilaku neuron.
Karamched mengatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memahami pengambilan keputusan dalam situasi yang lebih rumit.
"Seperti kasus di mana lebih dari dua alternatif disajikan sebagai pilihan, namun ini adalah titik awal yang baik,” ujar Karamched seperti dikutip dari EurekAlert. |
Sumber: EurekAlert


إرسال تعليق