Dahulu Kala, Mars Mungkin Sangat Dingin seperti di Subarktika

Peneliti mengidentifikasi kesamaan antara tanah yang ditemukan di Mars dan tanah di Newfoundland di Kanada yang beriklim subarktik dingin.


Lokasi penelitian di Tablelands of Newfoundland. (Foto: Anthony Feldman/DRI)
Lokasi penelitian di Tablelands of Newfoundland. (Foto: Anthony Feldman/DRI)


ngarahNyaho - Para saintis mencari tanah di Bumi yang memiliki material yang sebanding dengan Kawah Gale di Mars. Hasilnya diterbitkan di Communications Earth and Environment pada 7 Juli. 


Para ilmuwan sering menggunakan tanah untuk menggambarkan sejarah lingkungan, karena mineral yang ada dapat menceritakan kisah evolusi lanskap sepanjang waktu. 


Memahami lebih lanjut tentang bagaimana bahan-bahan ini terbentuk dapat membantu menjawab pertanyaan lama mengenai kondisi historis di planet merah. 


Tanah dan bebatuan di Kawah Gale memberikan catatan iklim Mars antara 3 dan 4 miliar tahun yang lalu, pada masa dimana air relatif berlimpah di planet ini. 


Itu merupakan periode waktu yang sama ketika kehidupan pertama kali muncul di Bumi.


“Kawah Gale adalah dasar danau paleo—tampaknya terdapat air. Tapi bagaimana kondisi lingkungan saat air itu ada?” kata Anthony Feldman, ilmuwan tanah dan ahli geomorfologi yang kini berada di DRI. 


Tepi dan lantai Kawah Gale dilihat dari Curiosity Rover milik NASA. (Foto: NASA)
Tepi dan lantai Kawah Gale dilihat dari Curiosity Rover milik NASA. (Foto: NASA)


“Kami tidak akan pernah menemukan analogi langsung dengan permukaan Mars, karena kondisi antara Mars dan Bumi sangat berbeda," tegas Feldman seperti dikutip dari EurekAlert. 


"Tapi, kita bisa melihat tren dalam kondisi terestrial dan menggunakannya untuk mencoba memperkirakan pertanyaan-pertanyaan di Mars,” lanjut dia.


Curiosity Rover milik NASA telah menyelidiki Kawah Gale sejak tahun 2011, dan telah menemukan sejumlah besar material tanah yang dikenal sebagai “bahan amorf sinar-X”.


“Anda bisa membayangkan bahan amorf X-Ray seperti Jello,” kata Feldman. “Ini adalah sup yang terdiri dari berbagai unsur dan bahan kimia yang saling bertabrakan.”


Curiosity Rover juga melakukan analisis kimia pada sampel tanah dan batuan, menemukan bahwa bahan amorf kaya akan besi dan silika tetapi kekurangan aluminium. 


Di luar informasi kimia yang terbatas, para ilmuwan belum memahami apa itu bahan amorf, atau apa implikasi keberadaannya terhadap sejarah lingkungan Mars. 


Ini mengungkap lebih banyak informasi tentang bagaimana bahan-bahan misterius ini terbentuk dan bertahan di Bumi dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus-menerus muncul tentang planet merah.


Feldman dan rekan-rekannya mengunjungi tiga lokasi untuk mencari bahan amorf sinar-X yang serupa.


Pertama di Tablelands Taman Nasional Gros Morne di Newfoundland, kemudian Pegunungan Klamath California Utara, dan Nevada bagian barat. 


Ketiga lokasi ini memiliki tanah berbelit-belit yang diperkirakan para peneliti secara kimiawi mirip dengan bahan amorf sinar-X di Kawah Gale: kaya akan besi dan silikon tetapi kekurangan aluminium. 


Ketiga lokasi tersebut juga menyediakan kisaran curah hujan, hujan salju, dan suhu yang dapat membantu memberikan wawasan tentang jenis kondisi lingkungan yang menghasilkan material amorf dan mendorong pelestariannya.


Di setiap lokasi, tim peneliti memeriksa tanah menggunakan analisis difraksi sinar-X dan mikroskop elektron transmisi, yang memungkinkan mereka melihat material tanah pada tingkat yang lebih detail. 


Kondisi subarktika di Newfoundland menghasilkan material yang secara kimiawi mirip dengan yang ditemukan di Kawah Gale namun juga tidak memiliki struktur kristal. 


Tanah yang diproduksi di daerah beriklim hangat seperti California dan Nevada tidak mengalami hal tersebut.


“Ini menunjukkan bahwa Anda membutuhkan air di sana untuk membentuk bahan-bahan tersebut,” kata Feldman. “Tetapi kondisi suhu tahunan rata-rata harus dingin dan mendekati titik beku untuk menjaga bahan amorf di dalam tanah.”


Bahan amorf sering dianggap relatif tidak stabil, artinya pada tingkat atom, atom belum tersusun menjadi bentuk akhir yang lebih kristalin. 


“Ada sesuatu yang terjadi dalam kinetika --atau laju reaksi-- yang memperlambatnya sehingga material ini dapat terawetkan dalam skala waktu geologis,” kata Feldman.


“Apa yang kami sarankan adalah bahwa kondisi yang sangat dingin, mendekati titik beku, merupakan salah satu faktor pembatas kinetik yang memungkinkan bahan-bahan ini terbentuk dan terpelihara.”


“Studi ini meningkatkan pemahaman kita tentang iklim Mars,” kata Feldman. 


“Hasilnya menunjukkan bahwa kelimpahan material ini di Kawah Gale konsisten dengan kondisi subarktik, mirip dengan apa yang kita lihat, misalnya, di Islandia.” | Sumber: EurekAlert


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama