Warisan genetik dari leluhur mereka memainkan peran penting sehingga dapat bertahan hidup dari serangan penyakit ini.
ngarahNyaho! - Papua Nugini memiliki beragam lingkungan, yang masing-masing menghadirkan tantangan berbeda bagi masyarakat yang tinggal di sana.
Patogen, seperti malaria, jadi ancaman masyarakat di dataran rendah. Lain lagi dengan masyarakat di dataran tinggi yang harus bertahan hidup di lingkungan dengan oksigen rendah.
Patogen, seperti malaria, jadi ancaman masyarakat di dataran rendah. Lain lagi dengan masyarakat di dataran tinggi yang harus bertahan hidup di lingkungan dengan oksigen rendah.
Meskipun masing-masing populasi jelas-jelas beradaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan yang berbeda, hanya sedikit yang diketahui tentang sifat spesifik dari adaptasi ini.
Untuk itulah, para peneliti dari beberapa universitas dari Estonia, Prancis, dan tentu saja Papua Nugini, melakukan kerja sama dalam proyek Papuan Past.
Mereka mengeksplorasi tanda-tanda seleksi dalam seluruh genom yang baru diurutkan dari 54 penduduk dataran tinggi Papua Nugini, yakni di Gunung Wilhelm, Provinsi Chimbu.
Sementara dari dataran rendahnya, peneliti meneliti sampel 74 penduduk dari Pulau Daru.
Ilustrasi. (Foto: Jules/Pixabay)
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications, varian genetik yang diseleksi dikaitkan dengan fenotip yang berhubungan dengan darah.
Tim peneliti menemukan bahwa salah satu kandidat seleksi di dataran rendah adalah keturunan non-Homo Sapiens, yakni Denisova.
Denisova adalah populasi hominin purba yang telah punah dan hidup di Asia sebelum manusia modern menetap di Papua Nugini (sekitar 50.000 tahun yang lalu).
Merekalah tampaknya telah meninggalkan gen yang bermanfaat bagi keturunan manusianya. Ini karena manusia purba ini kawin dengan manusia purba dan mewariskan sebagian genomnya.
Para peneliti percaya bahwa mutasi genetik pada Denisovan yang berdampak pada struktur protein tertentu telah bertahan dalam genom Papua Nugini.
“Sepertinya perubahan protein bermanfaat bagi penduduk dataran rendah untuk bertahan hidup di lingkungannya," kata Dr Mayukh Mondal seperti dikutip dari laman University of Tartu.
"Meski kita belum mengetahui penyebab pasti dari seleksi ini, mutasi ini mungkin dapat membantu masyarakat dataran rendah mengatasi penyakit malaria,” dia menjelaskan.
Sebaliknya, penduduk dataran tinggi menunjukkan varian genetik yang mungkin memengaruhi jumlah sel darah merah mereka.
Jumlah darah merah yang lebih tinggi membantu penduduk dataran tinggi hidup di ketinggian yang kadar oksigennya lebih rendah.
Sebaliknya, varian yang dipilih di dataran rendah dikaitkan dengan persentase sel darah putih, komponen kunci sistem kekebalan.
“Hal ini mendukung gagasan bahwa hipoksia mungkin menjadi pendorong utama seleksi yang terjadi pada penduduk dataran tinggi Papua Nugini.
"Namun, patogen tertentu mungkin telah membentuk genom penduduk dataran rendah melalui seleksi,” tambah Dr Mathilde André.
Menariknya, seperti yang ditunjukkan oleh Dr Nicolas Brucato, kedua varian ini juga memengaruhi detak jantung individu yang mengalami mutasi tersebut.
"Multiplisitas ini menyoroti kompleksitas penafsiran peran mutasi genetik. Satu mutasi dapat mempengaruhi banyak fenotipe secara bersamaan," jelasnya.
Para penulis menyimpulkan, penelitian ini menggambarkan bagaimana adaptasi terhadap lingkungan lokal telah membentuk genom dan menghasilkan sifat, atau fenotipe, dari berbagai populasi Papua Nugini.
Hal ini juga menyoroti betapa pentingnya menyelidiki populasi dengan latar belakang yang beragam dalam membantu para ilmuwan memahami seluk-beluk biologi manusia. | Sumber: Univeristy of Tartu


إرسال تعليق